HIKMAH
Print this page Generate PDF

Aku adalah kota ilmu, Ali adalah pintunya *

Nur Ikhwan


Ketika mendengar hadis ini, kaum Khawarij (kaum yang membenci sayyidina Ali RA) merasa gusar dan dengki. Lalu sepuluh orang tokoh mereka berkumpul dan memutuskan, "Masing-masing dari kita akan bertanya kepada Ali tentang satu pertanyaan yang sama. Lalu kita lihat bagaimana Ali menjawabnya. Jika dia menjawab pertanyaan setiap orang dari kita dengan jawaban yang berbeda, maka dia memang pandai seperti yang telah disabdakan oleh Nabi SAW."

Salah satu di antara mereka mendatangi sahabat Ali RA dan bertanya, "Hai Ali! Mana yang lebih utama di antara ilmu dengan harta?"
Ali menjawab, "Ilmu lebih utama daripada harta."
Orang itu bertanya lagi, "Apa alasannya?"
Sayyiduna Ali RA menjawab, "Ilmu itu warisan para nabi, sementara harta adalah warisan Qarun, Fir'aun dan kelompoknya."
Mendengar jawaban Ali RA, penanya yang merupakan salah salah dari sepuluh tokoh Khawarij itu pergi.

Keesokan harinya orang kedua dari mereka datang dan bertanya kepada Ali RA, "Hai Ali! Mana yang lebih utama di antara ilmu dengan harta?"
Ali menjawab, "Ilmu lebih utama daripada harta."
Orang itu bertanya lagi, "Apa alasannya?"
Sayyiduna Ali RA menjawab, "Ilmu akan melindungimu sementara kamu melindungi hartamu."
Mendengar jawaban Ali RA, penanya kedua itu pun pergi.

Keesokan harinya orang ketiga dari mereka datang dan bertanya kepada Ali RA, "Hai Ali! Mana yang lebih utama di antara ilmu dengan harta?"
Ali menjawab, "Ilmu lebih utama daripada harta."
Orang itu bertanya lagi, "Apa alasannya?"
Sayyiduna Ali RA menjawab, "Orang yang memiliki harta mempunyai banyak musuh sementara orang yang memiliki ilmu memiliki banyak teman."
Mendengar jawaban Ali RA, penanya ketiga itu pergi.

Demikaian seterusnya, setiap hari seorang dari mereka (pembesar Khawarij) datang dan bertanya kepada Ali RA, "Hai Ali! Mana yang lebih utama di antara ilmu dengan harta?"
Ali menjawab, "Ilmu lebih utama daripada harta."
Orang itu bertanya lagi, "Apa alasannya?"

Sayyiduna Ali RA menjawab, "

  1. Harta akan semakin berkurang ketika dibelanjakan sementara ilmu semakin bertambah saat diberikan kepada orang lain.
  2. Pemilik harta sering dipanggil dengan julukan si pelit dan sementara pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan si mulia yang agung.
  3. Harta perlu dijaga dari pencuri sementara ilmu tidak perlu dijaga dari pencuri.
  4. Pemilik harta akan dihisab di hari kiamat sementara pemilik ilmu akan diberi syafa'at.
  5. Harta semakin lama semakin rusak sementara ilmu tidak akan pernah rusak.
  6. Harta dapat membuat hati menjadi keras (tidak mudah menerima nasehat) sedangkan ilmu akan selalu menerangi hati.
  7. Pemiliknya akan dipanggil dengan sebutan ribawiyyah sementara dengan sebab ilmu pemiliknya akan dipanggil dengan sebutan ‘ubudiyyah."

Demikian sayyiduna Ali RA menjawab setiap pertanyaan mereka dengan jawaban yang berbeda. Pada akhir beliau RA berkata, "Jika kalian bertanya hal yang sama kepadaku selama aku masih hidup maka aku akan menjawabnya dengan jawaban yang berbeda."

Dikutip dari Al Mawa’idz al ‘Ushfuriyyah, Syaikh Muhammad bin Abi Bakr, maktabah Thaha Putra, Semarang.
* Takhrij hadis ini dapat dilihat di sini


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210