HIKMAH
Print this page Generate PDF
Senin, 09 Maret 2009, 23:54

Patuh Rasul & Cinta Allah

Faishol


Muhammad adalah manusia biasa sebagaimana layaknya kita. Anak hasil pernikahan Abdullah dan Aminah. Namun atas kehendak Allah yang Maha Kuasa. manusia biasa itu kemudian terpilih di antara jutaan manusia lainnya untuk dilantik sebagai utusan Tuhan, pembawa pesan Tuhan atau penghubung komunikasi antara Pencipta dan yang tercipta lainnya.

Beliau adalah orang yang amat lemah lembut, super ramah dan tidak pernah marah atau tersinggung ketika dirinya direndahkan. Itu sebabnya saya menilai beliau sebagai manusia super ramah. Sehubungan dengan hal ini Allah SWT berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (آل عمران : 159)

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Kalau saja kamu bersikap kasar (dalam berbicara) dan berhati keras, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun untuk mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. ... "

قال عبد الله بن عمرو إني أرى صفة رسول الله صلى الله عليه وسلم في الكتب المتقدمة أنه ليس بفظ ولا غليظ ولا صَخَّاب في الأسواق ولا يجزي بالسيئة السيئة ولكن يعفو ويصفَح (تفسير ابن كثير ج: 1 ص: 421)

Abdullah bin 'Amr mengatakan, "Aku melihat sifat Rasulullah SAW dalam Kitab-kitab terdahulu, (di sana dijelaskan) bahwa beliau bukan orang yang berbicara dengan kasar, bukan orang berhati keras, bukan tukang teriak-teriak di pasar. Beliau tidak membalas sikap buruk dengan sikap buruk, tetapi beliau memaafkan dan mengabaikannya."

Uniknya, sikapnya yang lemah lembut berubah drastis 180 derajat menjadi tegas saat beliau SAW melihat hak Allah dan keadilan diinjak-injak. Perhatikan komentar istri beliau, Aisyah putri Abu Bakar RAnhuma, tentang karakter suaminya, Muhammad SAW,

عن عائشة رضي الله عنها قالت: «ما ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئًا قط بيده، ولا امرأة ولا خادمًا إلا أن يجاهد في سبيل الله، وما نيل منه شيء قط فينتقم من صاحبه إلا أن ينتهك شيء من محارم الله تعالى فينتقم لله عز وجل (صحيح مسلم ج: 4 ص: 1814)

Diriwayatkan oleh Aisyah RA. Dia berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah memukul dengan tangannya sama sekali, tidak kepada istri, tidak juga kepada pembantu. kecuali (saat) beliau berperang di jalan Allah. Beliau tidak pernah sama sekali disakiti secara lisan maupun perbuatan lalu membalas pelakunya kecuali jika hak-hak Allah dilanggar, (jika itu terjadi) maka beliau membalasnya karena Allah SWT."

Perhatikan juga komentar Ali bin Abu Thalib RA yang ikut berperang bersama Rasul SAW.

عن علي رضي الله عنه قال كنا إذا حَمِيَ البأس ولقِي القوم القومَ اِتَّقَيْناَ برسول الله صلى الله عليه وسلم فلا يكون أحد منا أدنى إلى القوم منه (الحاكم, المستدرك على الصحيحين ج: 2 ص: 155)

Diriwayatkan oleh Ali RA. Dia berkata, "Ketika perang berkecamuk dan kedua pasukan saling bertemu, kami menjadikan Rasulullah SAW sebagai pembatas antara kami dan musuh. Dengan begitu tidak ada seorang pun dari kami yang paling dekat dengan pasukan musuh kecuali beliau SAW."

Di akhir hayatnya, jazirah Arab berhasil dikuasai bahkan mulai bersinggungan dengan sebagian wilayah romawi yang menjadi negara adikuasa di saat itu, sehingga sempat timbul konflik dan perang dengan pasukan romawi. Sebagaimana layaknya seorang pemimpin negara, tentu mudah bagi beliau mengumpulkan kekayaan materi. Nyatanya yang terjadi malah sebaliknya,
Berikut keterangan Aisyah yang dapat kita jadikan sebagai gambaran untuk memahami kondisi keuangan rumah tangga Rasulullah SAW.

عائشة رضي الله عنها قالت: «ما ترك رسول الله صلى الله عليه وسلم دينارًا ولا درهمًا، ولا شاةً، ولا بعيرًا، ولا أوصى بشيء (صحيح مسلم ج: 3 ص: 1256)

Aisyah berkata, "Rasulullah SAW (wafat) tanpa meninggalkan (warisan) meskipun satu dinar, tidak juga satu dirham, tidak juga (meskipun) seekor kambing, tidak juga unta. Beliau tidak berwasiat (tentang harta) sedikit pun."

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Rasulullah SAW sempat mengeluh tentang kondisi serba kekurangan yang dialami keluarganya. Tidak lama setelah itu, beliau SAW dikejutkan dengan kedatangan Jibril AS bersama Israfil AS. Beliau sempat bertanya kepada Jibril AS, "Apakah kiamat sudah tiba?" Jibril AS menjawab,

لا ولكن أمر الله إسرافيل فنزل إليك حين سمع كلامك

Lalu Israfil AS mendatangi beliau dan berkata:

إن الله سمع كلامك فبعثني بمفاتيح خزائن الأرض وأمرني أن أعرِض عليك أنْ أَسِيرَ معك جبالَ تِهامة زمرداً وياقوتاً وذهباً وفضة فعلتُ فإن شئت نبياً ملكا وإن شئت نبياً عبداً فأوما إليه جبريل ان تواضع فقال بل نبياً عبداً ثلاثاً (علي بن أبي بكر الهيثمي, مجمع الزوائد ج: 10 ص: 315, رواه الطبراني في الأوسط وفيه سعدان بن الوليد ولم أعرفه، وبقية رجاله رجال الصحيح)

Allah SWT telah mendengar keluhanmu lalu mengirimku dengan membawa kunci-kunci kekayaan bumi yang tersimpan. Allah memerintahkanku untuk menawarkanmu -kita berjalan menelusuri- gunung-gunung di wilayah Tihamah yang menjadi zamrud, yaqut emas dan perak. Engkau dapat memilih antara menjadi nabi dan raja sekaligus atau menjadi nabi yang menjadi budak.
Lalu Jibril memberi isyarat kepada beliau SAW agar merendah (tawadhu'). Beliau SAW menjawab tawaran Israfil AS, "Nabi yang menjadi budak" Kalimat itu beliau ungkapkan sebanyak tiga kali.

Itu sebabnya, berdasarkan hadis ini, Al Barzanji atau tepatnya Sayyid Ja'far bin Hasan Al Barzanji Al Husaini, seorang ulama kelahiran Madinah pada tahun 1126 H menulis dalam bukunya, 'Aqdul Jauhar yang sering dibaca oleh masyarakat di malam Jum'at

و يَعُصِبُ على بطنِهِ الحجرَ من الجُوع ، و قد أُوتِيَ مَفاتيحَ الخَزائنِ الأرضيَّة ، و راوَدَتْهُ الجِبَالُ بأن تكون له ذهباً ، فَأباه

"Beliau mengganjal perutnya dengan batu karena rasa lapar padahal kunci-kunci kekayaan bumi telah diberikan kepadanya sementara gunung-gunung juga menawarkan diri menjadi emas untuknya, namun beliau tidak mahu."

Demikian sosok Muhammad, anaknya Abdullah, Utusan Allah yang terakhir. Eksistensinya tidak dapat dilepaskan dan amat penting bagi kita karena :

1. Tinggi rendahnya keimanan kita ditentukan oleh kecintaannya kita kepada beliau. Beliau Rasulullah SAW bersabda,

فوالذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكونَ أحبَّ إليه من والده وولده (صحيح البخاري ج: 1 ص: 14)

"Demi Dzat di mana nyawaku berada di Tangan-Nya. Salah seorang dari kalian tidak beriman (secara sempurna) sampai aku lebih dicintai olehnya daripada orangtua dan anaknya."

2. Tolok ukur kecintaan seorang muslim kepada Allah SAW tergantung pada kepatuhannya kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (آل عمران : 31)

"Katakanlah (wahai Muhammad kepada mereka): "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."

3. Ketaatan kita kepada Allah ditentukan oleh sejauh mana ketaatan kita kepada Rasulullah SAW. Allah berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا (النساء : 80)

"Siapa yang mematuhi Rasul, maka sesungguhnya ia telah mematuhi Allah. Dan siapa yang berpaling (maksudnya : tidak patuh kepada Rasul) maka Kami tidak mengutusmu sebagai pelindung mereka."

4. Seorang muslim yang mematuhi Rasulullah dipastikan memperoleh kemenangan yang besar. Allah SWT berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب : 71)

"Siapa yang mematuhi Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."

Apa itu "kemenangan yang besar"? Allah SWT menafsirkannya pada ayat berikut:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (النساء : 13)

"Siapa yang mematuhi atau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Kepatuhan kita kepada Rasulullah -sebagaimana telah dijelaskan- bukan untuk kepentingan beliau, bukan karena beliau gila hormat. Sebaliknya kepatuhan kita kepada beliau adalah untuk kepentingan diri kita sendiri, yaitu agar kita dapat meraih kemenangan besar.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210