HIKMAH
Print this page Generate PDF

Mau Menjadi Wali (Kekasih) Allah?

Faishol


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ. (رواه البخاري)

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkan kepada penghuni langit, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintailah dia.” maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Selanjutnya orang itu dapat diterima oleh segenap makhluk Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari)

Ketika Allah SWT mencintai hambanya, maka itu artinya Allah menginginkannya menjadi orang baik, baik di dunia dan baik di akhirat.
Ketika Jibril AS dan juga penghuni langit diminta oleh Allah untuk mencintai orang itu maka itu artinya para malaikat selalu memohonkan ampun untuknya.
Dan ketika penduduk bumi menerimanya maka itu artinya mereka mempercayai orang itu sebagai orang baik-baik dan mereka berusaha melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Abu Hurairah RA meriwayatkan sebuah hadis qudsi: (Hadis Qudsi adalah sabda Rasulullah yang oleh beliau dikatakan sebagai firman Allah dan bukan bagian dari Al Qur’an)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (صحيح البخاري ج: 5 ص: 2384)

Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, “Siapa yang memusuhi kekasihku atau waliku maka Aku menyatakan perang terhadapnya.”
“Tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling aku cintai, melainkan dengan apa yang telah aku wajibkan kepadanya. Hambaku tidak akan berhenti mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka aku yang akan menjadi telinganya yang digunakannya untuk mendengar, Aku akan menjadi matanya yang digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yang digunakannya untuk memukul, Aku akan menjadi kakinya yang digunakannya untuk berjalan.
Jika dia meminta kepadaKu, sunnguh aku akan mengabulkannya dan jika meminta perlindunganKu maka sungguh Aku akan melindunginya.” (HR Al Bukhari, j.5, h. 2384)

Beberapa hal bisa kita simpulkan dari hadis qudsi shahih di atas

  1. Di antara manusia hamba-hamba Allah ada orang-orang yang dikasihiNya secara khusus. Hamba Allah ini disebut sebagai wali. Ketika seorang hamba sampai pada status ini maka Allah mencintainya sehingga mereka yang memusuhinya dinyatakan sebagai musuh Allah. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang telah menjadi kekasih Allah maka Allah memberikan perlindungan total terhadap orang itu.
  2. Hadis ini juga memberikan resep bagaimana seseorang menjadi kekasih Allah. Yang pertama kali harus dilakukannya adalah memenuhi segala apa yang diwajibkan oleh Allah. Kewajiban di sini artinya kewajiban secara umum, tidak hanya terbatas pada sisi ibadah yang artinya hubungan pribadi dengan Tuhannya. Namun juga meliputi kewajiban dari sisi muamalah yang artinya hubungan antar sesama makhluk.
  3. Masih kaitannya untuk menjadi kekasih Allah. Setelah seluruh kewajiban dipenuhinya, lalu ia melakukan hal-hal sunnah, baik kaitannya dengan ibadah maupun muamalah.
  4. Dan ini yang menarik. Ketika seorang berhasil meraih status sebagai kekasih Allah atau dicintai oleh Allah maka –seperti dituturkan oleh Rasulullah SAW- “Allah akan menjadi telinganya yang digunakannya untuk mendengar, Allah akan menjadi matanya yang digunakannya untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang digunakannya untuk memukul, Allah akan menjadi kakinya yang digunakannya untuk berjalan.” Pernyataan ini bisa jadi menimbulkan berbagai tafsir. Namun lepas dari segala tafsirnya pernyataan ini lagi-lagi menunjukkan adanya perlindungan total dari Allah untuk hamba yang dikasihiNya.
  5. Allah memastikan doanya terkabul dan akan memberikan perlindunganNya. Janji ini Allah kukuhkan dengan penambahan nuun tawkiid yang dalam bahasa Arab berfungsi sebagai penegas. Poin ini secara khusus menjelaskan bahwa keterkabulan suatu doa berkaitan erat dengan sejauh mana si pelaku doa memenuhi kewajiban Allah dan sejauh mana dia menambahkannya dengan perbuatan-perbuatan sunnah.

Secara garis besar hadis di atas ingin menerangkan kepada kita untuk menjadi yang dicintaiNya kita harus patuh kepadaNya. Kepatuhan itu wujudkan dalam bentuk amal atau praktek memenuhi kewajiban dan menambahkannya praktek-praktek plus atau praktek-praktek sunnah.
Sekali lagi, yang dimaksud kewajiban di sini bukan hanya sekedar kewajiban dalam pengertian hubungan vertikal kita dengan Allah tetapi juga kewajiban pada level horizontal, hubungan kita kepada sesama. Yang terakhir ini sebagian orang menyebutnya dengan istilah kepekaan sosial atau kesalehan sosial.

Sebagai bahan renungan, perhatikan sabda beliau SAW berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ (متفق عليه)

“Terdapat tujuh tipe manusia yang berada dalam lindungan Allah pada hari dimana tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya: 1. Pemimpin yang adil, 2. Pemuda yang rajin beribadah, 3. Orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, 4. Dua orang yang saling mencintai, bertemu dan berpisah hanya karena Allah, 5. Laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita terhormat dan cantik, lalu ia menjawab “Aku takut kepada Allah”, 6. Orang yang menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak melihat apa yang diberikan oleh tangan kanannya, 7. Orang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya sehingga menitikkan airmata.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210