Keislaman
Print this page Generate PDF
Rabu, 26 Agustus 2009, 03:37

Adab Lebih Diutamakan daripada Perintah

Faishol


Kaidah "adab didahulukan daripada perintah" dibangun berdasarkan beberapa hadis. Di antaranya :

1. عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَهَبَ إِلَى بَنِى عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِى بَكْرٍ فَقَالَ أَتُصَلِّى بِالنَّاسِ فَأُقِيمُ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَالنَّاسُ فِى الصَّلاَةِ فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِى الصَّفِّ فَصَفَّقَ النَّاسُ - وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِى الصَّلاَةِ - فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ فَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ ذَلِكَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِى الصَّفِّ وَتَقَدَّمَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ : يا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ مَا كَانَ لاِبْنِ أَبِى قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّىَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : مَا لِى رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ .

(Muttafaq 'alaih. Redaksi di atas adalah redaksi Muslim. Shahih Muslim, j. 1, hlm. 316)

Diceritakan oleh Sahl bin Sa'd As Sa'idiy bahwa Rasulullah saw. pergi (setelah shalat Zhuhur) ke (wilayah) Bani 'Amr bin 'Auf (yaitu wilayah Quba`. Di wilayah ini dulu Rasulullah membangun masjid perama dalam sejarah islam. Jarak Madinah ke wilayah ini sekitar 2 miil atau 3.7 km) untuk mendamaikan (pertikaian) di antara mereka.
Ketika tiba waktu shalat (Ashar), seorang muadzin (Bilal ra) mendatangi Abu Bakr ra dan bertanya, "Apakah anda akan mengimami shalat (Ashar). Jika iya saya akan iqamah?"
Abu Bakr ra menjawab, "Iya."
Di tengah-tengah shalat tersebut, Rasulullah saw datang. Beliau menyelusup hingga berdiri di shaf (pertama). (Melihat atau menyadari kedatangan beliau) para shahabat bertepuk tangan (memberi isyarat kepada Abu Bakr ra mengenai kedatangan beliau saw).
Awalnya Abu Bakr ra tidak menoleh dalam shalatnya. Ketika para shahabat semakin ramai bertepuk tangan, dia pun menoleh. Dia melihat Rasulullah saw.
Rasulullah saw memberi isyarat kepada Abu Bakr saw yang maksudnya "Tetaplah di tempatmu!"
Abu Bakr ra mengangkat tangannya dan memuji Allah sesuai dengan cara yang diperintahkan oleh Rasulullah saw (sebagai bentuk syukur atas kedatangan beliau saw). Kemudian Abu Bakr ra mundur hingga sejajar dengan shaf (pertama). Sementara Nabi saw maju (ke posisi imam). Beliau (melanjutkan shalat) kemudian selesai.
Lalu beliau bertanya kepada Abu Bakr ra, "Apa yang menghalangimu untuk tetap (berada) di posisimu ketika aku perintahkan?"
Abu Bakr ra menjawab, "Tidak selayaknya bagi Ibnu Abi Quhafah (Abu Quhafah adalah orang tua Abu Bakr ra) shalat di depan Rasulullah saw."
Lalu Rasulullah berkata (kepada para shahabat yang lain sebagai penolakan terhadap tindakan berlebihan mereka bertepuk tangan), "Mengapa saya lihat kalian banyak bertepuk tangan. Siapa yang terdapat sesuatu dalam shalatnya maka bertasbihlah. Jika dia membaca tasbih maka ia akan ditoleh. Tepuk tangan itu untuk (mengingatkan jamaah) wanita."

2. عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ يَقُولُ كَتَبَ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ الصُّلْحَ بَيْنَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ فَكَتَبَ : هَذَا مَا كَاتَبَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ. فَقَالُوا لاَ تَكْتُبْ رَسُولُ اللَّهِ فَلَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ لَمْ نُقَاتِلْكَ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِعَلِىٍّ : امْحُهُ . فَقَالَ مَا أَنَا بِالَّذِى أَمْحَاهُ. فَمَحَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ ...

(Muslim. Shahih Muslim, j. 3, hlm. 1409)

Abu Ishaq mengatakan, aku mendengar Al Bara` bin 'Azib bercerita,
Ali bin Abu Thalib ra menulis (surat) perjanjian antara Nabi saw dan orang-orang musyrik (Quraisy Mekkah) di masa perang Hudaybiyyah.
(Dalam surat itu) Ali ra menulis "Demikian yang diputuskan oleh Muhammad, utusan Allah."
Namun 0rang-orang musyrik itu menolak, "Jangan tulis 'utusan Allah'. Kalau saja kami meyakini bahwa engkau utusan Allah tentu kami tidak akan memerangimu", kata mereka.
Lalu Rasulullah saw berkata kepada Ali ra, "Hapuslah kata itu!"
Ali ra menjawab, "Aku bukan orang yang akan menghapusnya."
Akhirnya Rasulullah saw sendiri menghapusnya dengan tangannya (setelah diberi tahu letak kata itu).

Paling tidak, dari dua hadis tersebut di atas sebagian ulama -konon katanya mereka adalah para tokoh Syafi'iyyah- telah menelurkan suatu kaidah

التزام الأدب مُقدَّم على امتِثال الأمْر

"Mempertahankan adab atau kesantunan terhadap Rasulullah saw lebih diutamakan daripada mematuhi perintah beliau."

Kaidah ini -jika benar-benar eksis dalam Fiqh Syafi'iyyah- lebih tepat disebut sebagai kaidah Fiqh sehingga tidak tertutup kemungkinan adanya pengecualian kasus (mustatsnayaat).

Sayangnya, setelah melakukan pencarian lebih jauh penulis belum berhasil menemukan referensi kaidah tersebut dalam buku-buku Syafi'iiyah. Penulis berharap ada pembaca yang dapat membantu menunjukkan referensinya. Wallahu a'lam.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2018 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210