HIKMAH
Print this page Generate PDF
Minggu, 26 Oktober 2008, 12:44

Kasih Sayang Allah, Bukan Amal Baik

Nur Ikhwan


Sebuah hadis riwayat Abu Hurairah RA menuturkan,

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا ... الحديثَ

Abu Hurairah RA berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Perbuatan (baik) seseorang tidak akan pernah memasukkannya ke surga." Mereka (para shahabat) bertanya, "Apakah tidak juga termasuk engkau, wahai Rasulullah?"
Beliau SAW menjawab, "Tidak juga aku kecuali Allah melimpahkanku dengan fadhl dan kasih sayang. (Untuk itu) tetaplah moderat (tawassuth) dalam beramal (tidak berlebihan dan tidak juga lalai) dan tetaplah beramala dengan yang termudah (jika kalian tidak mampu melakukan dengan cara yang paling sempurna agar rahmatNya tercurah kepada kalian)
." * (HR. Al Bukhari)

Konon terdapat seorang hamba dari kalangan Bani Isra'il yang selalu beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun. Ketika hari kiamat tiba Allah berfirman kepadanya, "Wahai hambaku,. Masuklah ke dalam surga dengan rahmatku."
Merasa sudah melakukan ibadah begitu banyak dan lama hamba itu berkata memohon, "Ya Allah. Jangan masukkan aku ke surga atas dasar rahmatMu, tetapi masukkanlah aku ke dalam surga atas dasar amal baik dan ibadahku selama ini.
Atas permintaan itu, Allah memerintahkan malaikat untuk mengkalkulasi amal kebaikannya. Perhitungan dimulai dari nikmat terkecil yaitu nikmat mata yang telah Allah berikan. Alhasil setelah malaikat melakukan perbandingan jumlah nikmat mata yang diberikanNya dan jumlah amal kenaikan yang pernah dilakukannya ternyata jumlah mikmat mata yang diberikan lebih banyak. Pahala amal kebaikan hamba itu tidak mencukupi untuk membayar nikmat mata. Sementara malaikat belum memulai perhitungan dan perbandingan nikmat-nikmat Allah yang lain yang pernah diberikan kepadanya.

Berdasarkan perhitungan ini lalu Allah memerintahkan malaikat agar memasukkannya ke dalam neraka. Namun si hamba kembali memohon kepada Allah, "Ya Allah. Kalau hasilnya seperti itu, baiklah. Masukkan aku ke dalam surga atas dasar kasih sayangMu." Dengan rahmatnya juga Allah mengabulkan permintaannya ini. Hamba itu pun memuji Allah.

Hikmah
  1. Selalu menyerahkan segala sesuatu kepada kasih sayang Allah. Jangan berbangga diri dan merasa cukup hanya dengan mengandalkan amal kebaikan karena kasih sayang Allah lebih banyak dibandingkan dengan amal kebaikan seorang manusia terbaik sekalipun. Tanpa kasih sayangNya perbuatan baik yang kita lakukan tidak pernah mampu membawa kita masuk ke dalam surgaNya.
  2. Tetaplah rajin melaksanakan perbuatan baik kepada Allah dan sesama. Kata fa saddiduu dalam hadis merupakan koreksi (istidrak) terhadap adanya kemungkinan disalahpahami bahwa perbuatan baik tidak memberikan efek sama sekali. Perbuatan baik tetap diperlukan karena itu adalah sarana untuk mendapat rahmatNya yang membuat seseorang masuk ke surgaNya.
  3. Dalam kondisi malas sekalipun, tetaplah mendekatiNya. Ketidakmampuan kita mempersembahkan yang terbaik bukan alasan untuk tidak mendekatiNya, fa qaaribuu.

Satu hal yang menarik dicermati di sini adalah meskipun Rasulullah SAW dilimpahkan kasih sayang beliau SAW tetap saja melaksanakan ibadah secara rutin dan sungguh-sungguh, bahkan kedua kakinya sempat mengalami bengkak akibat lama berdiri di malam hari. Hadaanallah ajma'in.

Dikutip dari An Nasha`ih ad Diniyyah, Abdullah Al Haddad, Hidayah, Surabaya, hal 17, dengan perubahan redaksi.

* : Pemaknaan saddiduu dan qaaribuu ini diambil dari penafsiran Ibnu Hajar Al Asqalani. Sementara itu terdapat beberapa penafsiran lain yang tidak jauh berbeda.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2018 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210