Keislaman
Print this page Generate PDF
Senin, 29 November 2010, 03:47

Membaca Al Barzanjiy

Faishol


Shalawat Al Banzanjiy yang sering dibaca -biasanya di malam Selasa atau malam Jum'at dalam tradisi pesantren salaf (tradisional), pada dasarnya bukan buku yang secara khusus berisi shalawat. Buku yang judul aslinya ‘Uqadul Jawhar fii Mawlidin Nabiyy Al Azhar ini adalah salah satu biografi ringkas Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) yang dikarang dalam bentuk prosa maupun puisi dengan pemilihan kata yang teliti sehingga menghasilkan karya sastra yang indah.

Penulis Al Barzanjiy ('Uqadul Jawhar)

Buku ini ditulis oleh seorang ulama dari garis syariif (generasi ke-27) bernama Ja'far bin Hasan. Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 1126 H / 1714 M (sebagian informasi menyebutkan, 1128 H) dan wafat tahun 1177 H / 1764 M. Penamaan Barzanji terkait dengan asal muasal kakek moyangnya yang berasal dari Barzanjah, sebuah wilayah di Bilaad al Akraad (sekarang Kurdistan). Di Madinah era itu, para tokoh keturunan (marga) al Barzanjiy amat disegani karena -di samping faktor darah biru- juga karena kealiman mereka. Pada saat beliau berumur 31 tahun (1159 H) beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi. Beliau terkenal sebagai ulama pemberi nasihat dan amat baik dalam menyampaikannya pendapatnya dalam perdebatan ilmiah. Tidak dijelaskan sejak kapan, yang pasti beliau menduduki posisi mufti Madinah (untuk mazhhab Syafi'i) hingga akhir hayatnya. Posisi mufti yang sama sebelumnya sudah dipegang oleh para ulama keturunan Al Barzanjiy, bermula sejak buyutnya yang bernama Muhammad bin Rasul Al Banzanjiy, generasi pertama Al Barzanjiy di Madinah (wafat 1103 H / ± 1691 M) hingga Muhammad Zakiy bin Ahmad Al Barzanjiy yang wafat pada 1365 H atau sekitar 1945 M. Jadi sekitar sekitar 3 abad keluarga marga Al Barzanjiy memegang posisi mufti di Madinah. Tokoh kita ini -penulis buku Mawlid Al Barzanjiy- Ja'far bin Hasan dikarunia seorang putri bernama Hafshah, hasil pernikahannya dengan Khadijah binti Umar yang juga bermarga Al Barzanjiy.

Membaca Al Barzanjiy bukan ibadah

Kembali ke masalah, penyebutan yang benar bukan shalawat al berjanzen, tetapi ‘Uqadul Jawhar fii Mawlidin Nabiy Al Azhar (Untaian Mutiara yang berisi Kisah Kelahiran Nabi yang Bersinar) Tidak ada pahala bagi yang membaca buku ini jika yang dimaksud adalah pahala ibadah layaknya membaca Al Qur`an. Satu-satunya kitab di dunia ini yang membacanya dinilai sebagai ibadah adalah Kitab Suci Al Qur`an, meskipun tidak memahami isinya.

Kemungkinan perolehan pahala jika dikaitkan dengan membaca buku ‘Uqadul Jawhar adalah :

  1. Adanya bacaan shalawat yang secara umum memang dianjurkan.
  2. Memahami sejarah Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) .
  3. Konsekuensi dari yang kedua, rasa cinta kepada Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya).

Perlu diingatkan bahwa untuk memperoleh pahala sebagaimana yang tersebut pada no. 2 dan no.3 tidak terbatas pada membaca buku ‘Uqadul Jawhar, tetapi juga pada membaca seluruh buku biografi Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) yang lain, termasuk yang berbahasa Indonesia. Meskipun demikian, membaca ‘Uqadul Jawhar masih menjadi tren di Pesantren kami dan menjadi aktifitas rutin malam Jum'at. Tidak ada motif lain dalam pemilihan waktu malam Jum'at kecuali karena pada malam ini aktifitas Pesantren libur dan untuk itu kami mengisinya dengan membaca ‘Uqadul Jawhar. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan membaca Al Barzanjiy (‘Uqadul Jawhar). Yang salah adalah membiasakan membacanya dan tidak membiasakan membaca Al Qur`an. Kita harus mengakui dan menyakini bahwa tidak ada buku (baca: kitab) yang lebih baik daripada Al Qur`an melihat kapasitasnya sebagai firman Allah subhanah. Itu sebabnya membaca Al Qur`an saja (bahkan tanpa memahaminya) -oleh para ulama- sudah dianggap sebagai ibadah yang berdiri sendiri (mustaqillah). Karakter seperti ini tidak berlaku untuk buku-buku lain, termasuk buku-buku hadis shahih, apalagi ‘Uqadul Jawhar. Maksudnya, kalaupun kita mendapat pahala dari membaca buku hadis maka pahala itu diperoleh karena faktor belajarnya, bukan karena membacanya karena membaca buku hadis bukan merupakan ibadah yang berdiri sendiri.

Untuk itu, tidak ada unsur ibadah dalam aktifitas membaca Al Barzanjiy (‘Uqadul Jawhar) dan jangan pernah mengatakan aktifitas tersebut sebagai ibadah. Membaca Al Barzanjiy lebih tepat disebut sebagai bagian dari aktifitas pendidikan, baik pendidikan pemahaman maupun pendidikan ruhani yang mengantarkan kita kepada cinta Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya). Cinta yang dimaksud di sini adalah cinta dalam semua levelnya, dari cinta kelas dasar hingga cinta sejati. Cinta kelas dasar bisa dilihat dari munculnya rasa marah saat yang kita cintai dihina, menangis sentimentil ketika orang yang ketika cintai disebut-sebut namanya, apalagi dengan nada yang syahdu. Sementara cinta yang sejati terimplementasi dalam bentuk mengikuti semua arahannya dan menghindari semua yang tidak disukainya.

Membaca 'Uqadul Jawhar tidak sesat

Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa membaca Al Barzanjiy adalah bid'ah yang sesat. Pembacaan Al Barzanjiy atau sirah lainnya yang senada tidak ada bedanya dengan aktifitas membaca sirah atau biografi Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) dalam bahasa apapun. Tentu tidak ada satu pun di antara kita yang mengatakan bid'ah sesat karena membaca biografi beliau (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya).

Sekali lagi, membaca Al Barzanjiy (‘Uqadul Jawhar) bukanlah sebuah aktifitas ibadah mahdhah. Dan karena itu tidak ada timing (ketentuan waktu) kapan ia selayaknya dibaca. Terkait dengan aktifitas Pesantren, saya lebih suka menyebutnya sebagai bentuk ibadah sosial dan pendidikan. Tepatnya mendidik mereka untuk belajar mencintai Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) meskipun dalam level cinta yang paling dasar sekalipun. Saya suka melihat santri-santri kecil itu dengan bersemangat membaca shalawat untuk Rasul-Nya diiringi tabuhan hadhrah. Ada kesejukan dan ada keberkahan di sana yang menyinari mereka. Keberkahan dari lantunan shalawat untuk Rasul-Nya, Habib-Nya. Tentu saja bukan keberkahan dari ustadznya.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2018 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210