Keislaman
Print this page Generate PDF
Selasa, 18 Januari 2011, 07:11

Zikir Sebagai Alternatif Sujud Tilawah

Faishol


Artikel di bawah ini merupakan jawaban dari pertanyaan Ikhwan yang diajukannya di buku tamu situs alpontren.com. Ikhwan bertanya, adakah bacaan yang bisa menggantikan sujud tilawah karena kadang-kadang ketika membaca atau mendengar ayat sajdah, kita sedang berada dalam kondisi yang tidak mudah atau sulit untuk melakukan sujud? Jazaakallah

Al Qalyubi (w. 1069 H) menulis,

( فَرْعٌ ) يَقُومُ مَقَامَ السُّجُودِ لِلتِّلاوَةِ أَوْ الشُّكْرِ مَا يَقُومُ مَقَامَ التَّحِيَّةِ لِمَنْ لَمْ يُرِدْ فِعْلَهَا , وَلَوْ مُتَطَهِّرًا وَهُوَ سُبْحَانَ اللَّهِ , وَالْحَمْدُ لِلَّهِ , وَلا إلَهَ إلا اللَّهُ , وَاَللَّهُ أَكْبَرُ (حاشيتا قليوبي وعميرة , ج 3 , ص 105, المكتبة الشاملة)

"Alternatif pengganti shalat tahiyyatul masjid –meskipun dalam kondisi tidak hadats- dapat juga dijadikan sebagai alternatif pengganti sujud tilawah atau sujud syukur. Alternatif pengganti tersebut adalah membaca zikir: subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar."

Keterangan di atas menjelaskan bahwa jika kita tidak ingin melakukan sujud tilawah maka sebagai alternatifnya kita dapat membaca zikir: subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar.

Keputusan ini diambil dengan metode qiyas. Tepatnya meng-qiyas-kan sujud tilawah kepada shalat tahiyyatul masjid. Orang yang tidak ingin melakukan shalat tahiyyatul masjid saat memasuki masjid dapat mengganti dengan zikir tersebut. Begitu juga orang yang membaca ayat sajdah dan tidak ingin sujud atau tidak bisa melakukan sujud karena terhalang oleh kondisi seperti (sekedar contoh) berada di dalam kendaraan maka ia dapat menggantinya dengan zikir di atas.

Mengingat keputusan hukum di atas diambil berdasarkan qiyas terhadap alternatif pengganti shalat tahiyyatul masjid, maka sebaiknya kita perhatikan keterangan yang diberikan oleh Al Qalyubiy terkait alternatif pengganti shalat tahiyyatul masjid. Beliau menulis:

قَالَ فِي الْإِحْيَاءِ : يُكْرَهُ دُخُولُ الْمَسْجِدِ عَلَى غَيْرِ طُهْرٍ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَطَهِّرًا ، أَوْ لَمْ يُرِدْ التَّحِيَّةَ بِالصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ كَمَا فِي الْأَذْكَارِ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ رَكْعَتَيْنِ : زَادَ ابْنُ الرِّفْعَةِ : وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ . (حاشيتا قليوبي وعميرة , ج 3 , ص 154, المكتبة الشاملة)

Al Imam Al Ghazaliy (450 – 505 H) –dalam Al Ihyaa`- mengatakan: memasuki masjid dalam kondisi tidak suci adalah makruh. Jika seseorang tidak dalam kondisi suci atau tidak menginginkan shalat tahiyyatul masjid maka sebaiknya dia membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar” sebanyak empat kali. Hal yang sama juga dijelaskan dalam Al Adzkaar. Karena zikir ini sebanyak empat kali setara dengan (keistimewaan) shalat dua rakaat (sunnah).
Ibnu Rif’ah (645 – 710 H) menyarankan penambahan bacaan “walaa hawla wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil azhiim.

Sebagaimana dijelaskan oleh Al Qalyubi, An Nawawiy (631 – 676 H) juga mengemukakan hal yang sama dalam Al Adzkaar. Berikut keterangan terkait dalam Al Adzkaar.

قال بعض أصحابنا : من دخل المسجد فلم يتمكن من صلاة تحية المسجد ، إما لحدث ، أو لشغل أو نحوه ، يستحب أن يقول أربع مرات : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا إله إلا الله ، والله أكبر ، فقد قال به بعض السلف ، وهذا لا بأس به (الأذكار, ج 1 , ص 32)

"Sebagian teman-teman kami sesama mazhab (Syafi’i) mengatakan: Siapa yang memasuki masjid dan tidak sempat melakukan shalat tahiyyatul masjid karena dalam kondisi hadats, sibuk  atau karena alasan sejenisnya maka ia dianjurkan membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar”.
Sebagian ulama salaf menilai hal ini (penggantian shalat tahiyyah dengan zikir) tidak ada masalah (laa ba`s).
"

Dalam hukum fiqh, pengakuan ulama Salaf memiliki nilai yang cukup penting dalam membangun hukum. Untuk itu, keterangan An Nawawiy di atas bahwa terdapat pernyataan laa ba`s dari kalangan Salaf menjadi bermakna.

Mengamati rujukan semua tulisan di atas, tampak bahwa isu legalisasi penggantian shalat tahiyyatul masjid dengan zikir dimaksud merujuk kepada sosok tokoh Al Ghazaliy (450 – 505 H). Untuk itu mari kita lihat keterangan beliau mengenai hal ini dalam Al Ihyaa`, al imam menulis,

ولهذا يكره أن يدخل المسجد على غير وضوء فإن دخل لعبور أو جلوس فليقل سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر يقولها أربع مرات يقال إنها عدل ركعتين في الفضل (إحياء علوم الدين , ج 1 , ص 205, دار االمعرفة , بيروت)

(Karena shalat tahiyyatul masjid adalah sunnah mua`akkadah) maka adalah makruh bagi seseorang memasuki masjid dalam kondisi tidak suci (berwudhu). Jika ia (yang tidak berwudhu masuk juga ke masjid) untuk (sekedar) lewat atau (sekedar) duduk maka ia sebaiknya membaca : “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar” sebanyak empat kali karena katanya (yuqaal) zikir ini sebanyak empat kali setara dengan (keistimewaan) shalat dua rakaat (sunnah).

Perhatikan kalimat “yuqaalu” dan seterusnya dalam pernyataan al imam Al Ghazaliy di atas. Kalimat ini menjadi penting dalam argumentasi dan menjadi lebih penting ketika –dengan metode qiyas- hukum lain dibangun di atas argumen tersebut .

Masih terkait dengan alternatif pengganti shalat tahiyyah dengan zikir tertentu, Ash Shaawi –seorang ulama dari kalangan Malikiyyah juga menghubungkannya dengan Al Ghazaliy. Beliau menulis,

ذَكَرَ سَيِّدِي أَحْمَدُ زَرُّوقٌ عَنْ الْغَزَالِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ مَنْ قَالَ : " سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ " أَرْبَعَ مَرَّاتٍ قَامَتْ مَقَامَ التَّحِيَّةِ ، فَيَنْبَغِي اسْتِعْمَالُهَا فِي وَقْتِ النَّهْيِ أَوْ فِي أَوْقَاتِ الْجَوَازِ إذَا كَانَ غَيْرَ مُتَوَضِّئٍ .وَأَمَّا إذَا كَانَ فِي أَوْقَاتِ الْجَوَازِ وَهُوَ مُتَوَضِّئٌ فَلَا بُدَّ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ . إنْ قُلْت فِعْلُ التَّحِيَّةِ وَقْتَ النَّهْيِ عَنْ النَّفْلِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَكَيْفَ يُطْلَبُ بِبَدَلِهَا وَيُثَابُ عَلَيْهَا ؟ قُلْت : لَا نُسَلِّمُ أَنَّ التَّحِيَّةَ وَقْتَ النَّهْيِ عَنْ التَّنَفُّلِ مَنْهِيٌّ عَنْهَا ، بَلْ هِيَ مَطْلُوبَةٌ فِي وَقْتِ النَّهْيِ وَفِي وَقْتِ الْجَوَازِ ، غَيْرَ أَنَّهَا فِي وَقْتِ الْجَوَازِ يُطْلَبُ فِعْلُهَا صَلَاةً وَفِي وَقْتِ النَّهْيِ يُطْلَبُ فِعْلُهَا ذِكْرًا(حاشية الصاوي على الشرح الصغير , ج 2 ص 180, المكتبة الشاملة)

 

Guru kami, Ahmad Zarruq menceritakan dari al imam Al Ghazali dan lainnya bahwa orang yang membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar” sebanyak empat kali maka bacaan tersebut dapat menempati posisi shalat tahiyyatul masjid.

Seyogyanya alternatif zikir ini digunakan pada waktu larangan shalat sunnah (mutlak –dalam mazhab Syafi’I dikenal dengan istilah waktu makruh shalat. Penj)  atau dalam waktu jawaaz ketika tidak dalam kondisi suci.

Sementara jika (orang itu memasuki masjid) di waktu jawaaz dan dalam kondisi berwudhu maka seharusnya melakukan shalat tahiyyatul masjid (bukan menggantinya dengan berzikir)."

(terjemah seterusnya diabaikan ………)

Sekali lagi, terlihat semakin jelas bahwa ide alternatif zikir sebagai pengganti shalat tahiyyatul masjid merujuk kepada pernyataan al imam Al Ghazaliy. Juga secara tersurat dijelaskan –oleh al imam Al Ghazaliy sendiri- bahwa memunculkan alternatif ini dibangun berdasarkan,

يقال إنها عدل ركعتين في الفضل

Katanya zikir tersebut sebanyak empat kali setara (dari segi keistimewaan) dengan shalat (sunnah) dua rakaat.

Kata yuqaal mengisyaratkan dua hal:

  1. Ada riwayat dari Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa zikir subhanallah ... setara dengan shalat dua rakaat dari sisi keistimewaaan atau fadhilah.
  2. Riwayat tersebut tidak valid. Ini dapat dilihat dari redaksinya yang menggunakan bentuk kalimat pasif (mudhaari' binaa` majhuul).

Yang menarik di sini adalah jawaban yang dikemukakan oleh seorang ulama kalangan Syafi’iyyah sendiri terkait masalah alternatif zikir pengganti shalat sunnah tahiyyatul masjid dan sujud tilawah. Ulama yang dimaksud adalah Ibnu Hajar Al Haytamiy (atau Al Haytsamiy).

Dalam buku Haasyiyah Al Syabramallisiy (komentar Asy Syabramallisy atas buku Nihaayatul Muhtaaj karangan Ar Romliy. Buku Nihaayatul Muhtaaj adalah syarh atau keterangan lebih luas untuk buku Al Minhaaj karangan An Nawawiy ), Asy Syabramullisiy (997- 1087 H) mengutip fatwa Ibnu Hajar Al Haytamiy saat ditanya mengenai alternatif pengganti sujud tilawah dalam bentuk zikir ini. Berikut fatwa Al Haytsamiy (909-973 H) yang diambil dari Haasyiyah Al Syabramallisiy,

وَقَدْ سُئِلَ الْعَلامَةُ حَجّ عَنْ قَوْلِ الشَّخْصِ ( سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَك رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ) عِنْدَ تَرْكِ السُّجُودِ لآيَةِ السَّجْدَةِ لِحَدَثٍ أَوْ عَجْزٍ عَنْ السُّجُودِ كَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَنَا هَلْ يَقُومُ الإِتْيَانُ بِهَا مَقَامَ السُّجُودِ كَمَا قَالُوا بِذَلِكَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ وُضُوءٍ أَنَّهُ يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلا إلَهَ إلا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ إلَخْ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ رَكْعَتَيْنِ كَمَا نَقَلَهُ الشَّيْخُ زَكَرِيَّا فِي شَرْحِ الرَّوْضِ عَنْ الإِحْيَاءِ ؟ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ : إنَّ ذَلِكَ لا أَصْلَ لَهُ , فَلا يَقُومُ مَقَامَ السَّجْدَةِ : بَلْ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ إنْ قَصَدَ الْقِرَاءَةَ وَلا يَتَمَسَّكُ بِهَا فِي الإِحْيَاءِ . أَمَّا أَوَّلا فَلأَنَّهُ لَمْ يَرِدْ فِيهِ شَيْءٌ , وَإِنَّمَا قَالَ الْغَزَالِيُّ : إنَّهُ يُقَالُ إنَّ ذَلِكَ يَعْدِلُ رَكْعَتَيْنِ فِي الْفَضْلِ . وَقَالَ غَيْرُهُ : إنَّ ذَلِكَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ , وَمِثْلُ هَذَا لا حُجَّةَ فِيهِ بِفَرْضِ صِحَّتِهِ فَكَيْفَ مَعَ عَدَمِ صِحَّتِهِ . وَأَمَّا ثَانِيًا فَمِثْلُ ذَلِكَ لَوْ صَحَّ عَنْهُ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَكُنْ لِلْقِيَاسِ فِيهِ مَسَاغٌ ; لأَنَّ قِيَامَ لَفْظٍ مَفْضُولٍ مَقَامَ فِعْلٍ فَاضِلٍ مَحْضُ فَضْلٍ , فَإِذَا صَحَّ فِي صُورَةٍ لَمْ يَجُزْ قِيَاسُ غَيْرِهَا عَلَيْهَا فِي ذَلِكَ . وَأَمَّا ثَالِثًا فَلأَنَّ الأَلْفَاظَ الَّتِي ذَكَرُوهَا فِي التَّحِيَّةِ فِيهَا فَضَائِلُ وَخُصُوصِيَّاتٌ لا تُوجَدُ فِي غَيْرِهَا . ا هـ . وَهُوَ يَقْتَضِي أَنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدَ لِلَّهِ إلَخْ لا يَقُومُ مَقَامَ السُّجُودِ وَإِنْ قِيلَ بِهِ فِي التَّحِيَّةِ لِمَا ذَكَرَهُ ( نهاية المحتاج - وفيه حاشية الشبراملسى, ج 2, ص 94 , طباعة مصطفى الحلبي )

Al ‘Allamah HJ (Ibnu Hajar Al Haytamiy) pernah ditanya tentang seseorang yang membaca “sami’naa wa atha’naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaykal mashiir” saat dia tidak melakukan sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah karena hadats atau tidak mampu sujud sebagaimana kebiasaan yang berlaku di masyarakat kita. Apakah melakukan zikir tersebut  dapat mengganti posisi sujud tilawah, sebagaimana pendapat mereka (ulama) tentang orang yang masuk ke masjid tanpa wudhu dapat membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar” (sebagai alternatif pengganti shalat tahiyyatul masjid) dengan alasan zikir tersebut setara dengan shalat (sunnah) dua rakat seperti yang dikutip oleh syaikh Zakariya Al Anshoriy dalam buku Syarah Al Ar rawdh (lengkapnya, Asnaal Mathaalib Syarh Rawdhit Thaalib) dari buku Al Ihyaa`?

Ibnu Hajar Al Haytamiy menjawab,

Hal itu (penggantian sujud tilawah dengan zikir sami’naa …) tidak memiliki dasar (dalil) sama sekali. Dengan demikian zikir sami’naa tidak dapat menempati atau mengganti posisi sujud tilawah. Bahkan itu makruh jika tujuaannya adalah qira`ah (membaca Al Qur`an).  Keterangan dalam Al Ihyaa` tidak dapat dijadikan pegangan. Alasannya:

  • Pertama, Tidak ada satupun dalil mengenai itu (maksudnya –wallahu ‘alam, mengenai penempatan zikir subhanallah … sebagai alternatif pengganti shalat tahiyyatul masjid). Al Ghazaliy hanya mengatakan, “Katanya (yuqaal) bahwa zikir tersebut setara dengan shalat sunnah dua rakaat dalam hal keistimewaan. Sementara selain Al Ghazaliy mengatakan bahwa penggantian tersebut didasarkan kepada riwayat sebagian ulama Salaf (merujuk kepada keterangan Al Adzkaar. Pen).  Hal-hal seperti ini (maksudnya: yuqaal dan riwayat sebagian ulama Salaf) –dengan asumsi keduanya valid- bukan merupakan hujjah atau dalil legal syar’i. Apalagi jika jika ternyata informasi “yuqaal” dan informasi “diriwayatkan oleh sebagian Salaf” tersebut tidak valid (shahiih), (tentu penggantian shalat tahiyyatul masjid dengan zikir subhanallah … semakin tidak memiliki dasar atau dalil).
  • Kedua, dengan asumsi informasi “zikir subhanallah …  setara dalam hal fadhilah dengan shalat sunnah dua rakaat” itu valid dari Rasulullah –shalawat dan salam untuknya- maka tidak ada peluang untuk melakukan qiyas karena penempatan lafazh (zikir) yang kurang istimewa menempati posisi pekerjaan yang istimewa adalah murni anugerah dari Allah. Jika penyetaraan itu valid untuk satu kasus (maksudnya, subhanallah … setara dengan shalat dua rakat) maka ia tidak boleh dijadikan dasar qiyas (ashlul qiyas) untuk kasus lain (Maksudnya –wallahu a’lam- dijadikan dasar untuk mengqiyaskan zikir sami’naa … setara dengan sujud tilawah)
  • Ketiga, lafazh-lafazh (zikir subahnallah dan seterusnya) yang mereka sebutkan dalam (kasus alternatif pengganti) shalat tahiyyatul masjid memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri yang tidak dijumpai dalam zikir lain (seperti zikir sami’naa … Untuk itu tidak boleh ada penyamaan antara zikir subhanallah … dengan zikir sami’naa …).

(Jawaban Ibnu Hajar selesai sampai sini. Lalu Asy Syabramallisy menarik kesimpulan), “Jawaban Ibnu Hajar ini berimplikasi bahwa zikir subhnallah … tidak dapat menempati atau mengganti posisi sujud tilawah meskipun hal itu dikatakan bisa berlaku untuk tahiyyatul masjid berdasarkan apa yang dituturkan oleh Ibnu Hajar Al Haytamiy.”

(jawaban Ibnu Hajar Al Haiytami ini juga dapat dijumpai dalam buku Al Fataawaa Al Fiqhiyyah Al Kubraa, j. 2, hlm. 244, Maktabah Syamilah, dengan redaksi yang lebih panjang. Buku ini berisi fatwa-fatwa Ibnu Hajar Al Haytamiy)

Sampai sini dapat dicermati bahwa telah terjadi perbedaan pendapat dalam tubuh  syafi’iyyah sendiri mengenai apakah sujud tilawah dapat diganti dengan alternatif zikir atau tidak.

Kesimpulannya,

  1. Pembahasan mengenai zikir sebagai alternatif pengganti sujud tilawah dihubungkaitkan dengan pembahasan utama mengenai zikir sebagai alternatif pengganti shalat sunnah tahiyyatul masjid. Artinya zikir alternatif pengganti sujud tilawah merupakan pembahasan cabang atau far’ul qiyas dari pembahasan zikir pengganti shalat tahiyyat.
  2. Kebanyakan kalangan Syafi’iyyah dapat menerima pemberlakuan qiyas ini. Sementara sebagian yang lain seperti Al Haytami menolak pelaksanaan qiyas dalam dua masalah dimaksud. Bahkan beliau tampak menolak legalisasi zikir sebagai alternatif pengganti shalat tahiyyat, yang notabenenya adalah ashlul qiyaas dari legalisasi zikir sebagai alternatif pengganti sujud tilawah.
  3. Lebih dari itu, Ibnu Hajar Al Haytsamiy tampak menolak validitas dalil al ashl, yaitu dalil yang digunakan untuk membangun hukum diizinkannya mengganti shalat sunnah tahiyyat dengan zikir subhanallah hingga seterusnya. Hal ini terlihat dari keraguan beliau terhadap validitas atau keshahihan informasi "yuqaal" dan informasi dari sebagian ulama salaf.
  4. Jika dikaitkan dengan validitas dalil maka kecenderungannya memang seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Haytsamiy.
  5. Al imam Al Gahazali –yang dalam hal ini sering dijadikan rujukan oleh kalangan Syafi’iyyah generasi selanjutnya, dengan “gaya pemikiran fiqh-nya” yang khas- tampaknya ingin mendorong setiap orang yang masuk masjid agar memberikan penghormatan kepada tempat ibadah tersebut. Beliau menginginkan, jika tidak bisa dengan shalat sunnah tahiyyat paling tidak berzikir dan jangan sampai tidak melakukan penghormatan sama sekali terhadap masjid.
  6. Keputusan hukum yang ditarik oleh Al Ghazaliy mengenai zikir alternatif pengganti shalat tahiyyatul masjid ini di kemudian hari -oleh sebagian ulama  Syafi'iyyah lain generasi selanjutnya- dijadikan sebagai "model" untuk menarik kesimpulan baru bahwa zikir yang sama -atau zikir lain seperti samii'naa hingga seterusnya- dapat mengganti posisi sujud tilawah atau sujud syukur.

Ketika membahas masalah, penulis menemukan kesalahan (kecil) dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaytiyyah yang memberikan  catatan bahwa Ibnu Hajar yang dimaksud di atas adalah Ibnu Hajar Al 'Asqalani. Ini tidak benar. Ulama Syafi'iyyah yang menolak  eksistensi zikir sebagai alternatif pengganti tahiyyatul masjid, sujud tilawah atau sujud syukur adalah Ibnu Hajar Al Haitsamiy atau Al Haytami (penulisan namanya bisa menggunakan taa` atau tsaa`).

Semoga Allah selalu memberikan kasih sayangNya untuk semua ulama  yang disebutkan di atas dan memberikan manfaat ilmu mereka kepada kita. Rahimahumullah.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2018 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210