KABAR
Print this page Generate PDF

Seminar III : FBES
Perencanaan Keuangan Keluarga sesuai Syariah

Admin


Seminar FBES ke-3: Perencanaan Keuangan Syariah


Ringkasan materi

  1. Urgensi pengelolaan uang yang terencana
    Pembahasan tentang latar belakang & urgensi perencanaan keuangan dalam Islam dengan mengaitkannya kepada:
    1. Ayat 63-75, surat Al Furqaan di mana pada ayat 67 Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta mereka), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan mereka) berada di tengah-tengah antara (keduanya) itu."
    2. Ayat 26-27, surat Al Israa`. Allah berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (26) Sesungguhnya orang-orang yang boros adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (27)”
    3. Sabda Rasulullah –shalawat dan salam untuk beliau,
      عن كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ رَضِيَ الله عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله صلّى الله عَليه وسَلَّمَ ، يَقُولُ : إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ (الحاكم , المستدرك على الصحيحين , الرقم 1810 , وَقَالَ هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيحُ الإسنادِ وَلَـمْ يُخْرِجَاهُ)

      Diceritakan oleh Ka’b bin ‘Iyadh (semoga Allah meridhainya), dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah -shalawat dan salam untuknya- bersabda, “Sesungguhnya setiap ummat memiliki ujiannya tersendiri. Sementara ujian umatku adalah harta.” (Al Hakim, Al Mustadrak, hadis no. 8010)
  2. Petunjuk teknis perencanaan keuangan dalam Al Qur'an dan Sunnah
    1. Sabda Rasulullah -shalawat dan salam untuknya-
      عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صلّى الله عَليه وسَلَّمَ قَالَ : بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ الأَرْضِ فَسَمِعَ صَوْتًا فِى سَحَابَةٍ اسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ. فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِى حَرَّةٍ فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِى حَدِيقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ فَقَالَ لَهُ يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا اسْمُكَ قَالَ فُلاَنٌ. لِلاِسْمِ الَّذِى سَمِعَ فِى السَّحَابَةِ فَقَالَ لَهُ يَا عَبْدَ اللَّهِ لِمَ تَسْأَلُنِى عَنِ اسْمِى فَقَالَ إِنِّى سَمِعْتُ صَوْتًا فِى السَّحَابِ الَّذِى هَذَا مَاؤُهُ يَقُولُ اسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ لاِسْمِكَ فَمَا تَصْنَعُ فِيهَا قَالَ أَمَّا إِذَا قُلْتَ هَذَا فَإِنِّى أَنْظُرُ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِى ثُلُثًا وَأَرُدُّ فِيهَا ثُلُثَهُ (صحيح مسلم , ج 8 , ص 222)
      Seorang lelaki berada di tanah lapang mendengar suara di awan , “Siramilah kebun kurma si fulan!”
      Awan pun bergerak menuju ke sana dan menumpahkan airnya di tanah yang berbatuan hitam. Saluran air pun menjadi penuh dengan air sehingga air mengalir deras. Saat itu seorang lelaki sedang berdiri di kebunnya dan berusaha mengalirkan air dengan sekopnya.
      Lelaki (yang mendengar suara di awan) bertanya, “Hai hamba Allah, siapa namamu.” Lelaki di kebun menjawab, “fulan.” (dia menyebtukan nama yang didengarnya di awan).
      Lelaki di kebun bertanya, “Hai hamba Allah, mengapa kamu menanyakan namaku.”
      Lelaki itu menjawab, “Aku mendengar suara di awan (mendung) di mana air yang yangditurunkannya adalah air ini. (Suara itu) mengatakan siramilah kebun (kurma) si fulan (namamu). Apa yang kamu lakukan dengan kebunmu ini?.”
      Lelaki yang di kebun itu menajwab, “Jika kamu bertanya tentang itu, sesungguhnya aku memperhatikan apa yang dihasilkan dari kebun ini. Aku menyedekahkan sepertiga (hasilnya). Aku makan untukku dan keluargaku sepertiganya dan aku kembalikan sepertiganya ke dalam kebun ini.”
    2. ayat 219, surat Al Baqarah
      ... وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (219)
      “… Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian berpikir.”
  3. Mengapa harus sesuai Sunnah?
    209 - عن عمرو بن عوف المُزَنِيِّ رَضِيَ الله عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِيْ فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجُوْرِهِمْ شَيْئًا (سنن ابن ماجه , ج 1 , ص 76)
    Diceritakan oleh Amr bin ‘Awf al-Muzaniy –semoga Allah meridhainya bahwa Rasulullah -shalawat dan salam untuknya- bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku, kemudian sunnah itu dilakukan orang lain, maka dia memperolah pahala (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.“ (HR Ibnu Majah, no. 209)
  4. Teknis manajemen keuangan
    Peserta diberikan pengetahuan tentang membuat anggaran sesuai dengan poin 2, yaitu 3 x 1/3 ditambah dengan sedikit stimulus untuk mendapatkan tambahan pemasukan atau income dengan berinvestasi secara syariah (Shariah Financial Invesment Planning) yang bersumber dari 1/3 modal kerja.
    Dengan pengetahuan pengaturan keuangan, peta dan arah kesulitan yang dihadapi akan lebih terlihat sehingga memudahkan pencarian solusi dan mengurangi beban stress.
    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ (متفق عليه)
    Diceritakan oleh Abu Hurayrah –semoga Allah meridhainya, dia berkata, Rasulullah -shalawat dan salam untuknya- bersabda, “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (Muttafaq ‘alayh).

Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210