Keislaman
Print this page Generate PDF

Azan

Nur Ikhwan


Secara etimologi, adzan atau azan adalah pemberitahuan. Sementara definisi terminologinya adalah lafal-lafal tertentu yang dikumandangkan untuk mengumumkan ketibaan waktu shalat fardhu.

Untuk pertama kalinya azan disyariatkan pada tahun pertama Hijriyyah (sebagian sejarawan mengatakan di tahun kedua Hijriyyah).
Hukum pelaksanaannya fardhu kifayah. Mengingat azan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang sudah diketahui secara pasti dan meyakinkan (ma'luum minaddin bi adh dharuurah) maka pengingkaran terhadap eksistensi azan dinilai sebagai salah satu bentuk kekufuran.

Orang yang biasa mengumandangkan azan disebut muazzin (mu’adz-dzin). Di antara beberapa sahabat Rasulullah -shalawat dan salam untuknya- yang berprofesi sebagai muazzin adalah; Bilal bin Rabah, Ibnu Ummi Maktum, Abu Mahdzurah (di Makkah setelah pembebasan tanah Makkah) dan Sa'd Al Qarzh (Masjid Quba`)  (Syarqaawiy 'ala Tahriir, j. 1, hlm. 125).

Muazzin memiliki keistimewaan. Diantaranya sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah -shalawat dan salam untuknya :

المؤذنون أطول الناس أعناقا يوم القيامة (صحيح مسلم , ج 1 , ص 290)

Para muazzin adalah orang-orang yang lehernya paling panjang di hari kiamat.

Maksud beliau –wallah a’lam- muazzin adalah orang yang paling banyak melihat kasih sayang Allah dan ganjaran pahala di hari kiamat.

لا يسمع مدى صوت المؤذن جن ولا إنس ولا شيء إلا شهد له يوم القيامة (صحيح البخاري , ج 1 , ص 221)

Tidak ada satu pun jin, manusia atau apapun yang mendengar suara seorang muazzin kecuali masing-masing bersaksi untuk kebaikan dirinya di hari kiamat.

Meskipun demikian untuk bisa meraih kemuliaan tersebut, tentunya seorang muezzin harus mengumadangkan azannya sesuai dengan aturan dan anjuran.

Seorang muazzin mesti seorang muslim, dewasa (baaligh), berakal (maksudnya dalam kondisi sadar), melafalkannya sesuai urutan telah dijelaskan dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Zaid. Sekedar informasi tambahan, syarat yang sama juga berlaku untuk muqiim (pelaku iqaamah).

Dianjurkan mengumandangkan azan sambil menghadap kiblat, tidak sambil berjalan atau duduk, dan menolehkan kepalanya ke kanan ketika mengucapkan lafal “hayya 'alash sholaah” dan ke kiri ketika mengucapkan “hayya 'alal falaah” tanpa memalingkan dadanya dari arah kiblat. Anjuran yang sama juga berlaku untuk iqaamah (Fathul Mu'iin, hlm. 29).

Di samping bertujuan mengumumkan waktu shalat fardhu, azan juga dianjurkan dilaksanakan tepat sesaat setelah kelahiran bayi muslim (dilantunkan pada telinga kanan), saat akan berperang, saat terjadi bencana seperti kebakaran, terhadap orang yang sakit akibat gangguan jin, saat hendak bepergian jauh, dan termasuk saat memasukkan mayit ke liang kubur -menurut sebagian ulama Syafi’iyyah (Lihat Al Bajuuriy, j.1 , hlm. 161).

Dengan melakukan semua syarat dan kesunnahan yang telah ditetapkan serta dibarengi dengan keikhlasan, insya Allah seorang mu’adz-dzin dapat memperoleh rahmat-Nya dan meraih surga-Nya.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210