Keislaman
Print this page Generate PDF

Mencicil Emas

Faishol


Di satu sisi kita mengatakan bunga bank adalah riba meskipun fiat money tidak disebutkan secara langsung oleh yang mulia kanjeng Nabi sebagai obyek ribawi.

Di sisi lain kita mengijinkan transaksi pertukaran antara uang dan emas (obyek ribawi berdasarkan pesan kanjeng) secara tidak tunai meskipun keduanya (fiat money dan emas) adalah obyek ribawi.

Saya pribadi menilai fatwa memperbolehkan beli emas dengan mencicil (bukan mencicil yang artinya melotot) adalah tindakan yang kontra produktif di tengah gaung ekonomi syariah. Bahkan tidak berlebihan jika saya katakan produk ini semakin memperkecil jurang perbedaan bank ribawi dengan bank syariah.

Lalu apa untungnya meramaikan produk "rebutan beli emas" bagi kondisi rupiah?
Pribadi-pribadi tertentu tentu bisa menggaruk untung di masa depan, namun kemaslahatan publik menjadi terabaikan.

Mengapa kita membiasakan diri kita berhutang? Bukan malah menghindarinya.

Dalam kondisi ini kita kembali ke belakang, ke tatanan kapitalis, hanya saja kita bersongkok dan berbaju koko plus customer service cantik berkerudung yang selalu menyapa as salaamu 'alaykum bagaikan software winamp yang diatur repeating, tanpa "rasa", tanpa makna.

Saya menyebut polah kita sebagai berperforma boleh Masjidil Haram, berhati Dow Jones, berotak Adam Smith. Mulut kita beristighfar karena ketakutan inflasi dan ketakutan biaya hidup yang semakin tinggi, bukan karena ketakutan dosa. Khawf dalam tashawwuf kita terjemahkan sebagai ketakutan akan masa depan finansial yang serba tidak pasti. Sementara rajaa' dipahami sebagai harapan memperoleh untung akibat perbedaan margin.

Sampai sini, mari kita menyebut diri kita sendiri sebagai kaum kapitalis religius.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210