Keislaman
Print this page Generate PDF

Mencicil Emas (2)

Faishol


Kata "emas" dalam hadis Ubadah (adalah hadis yang menjadi acuan utama terkait riba jualbeli) adalah mencakup emas dalam kapasitasnya sebagai uang (dinar) dan emas sebagai barang sekaligus. Artinya apapun bentuk dan ujud serta fungsi emas maka ia adalah item ribawi.

Alasannya?

1. 'Illah (alasan efektif) emas dianggap sebagai item ribawi oleh Rasulullah (kedamaian untuknya) bukan karena statusnya sebagai mata uang, tetapi karena potensinya sebagai materi/bahan mata uang.

Jika kita memahami 'illah emas dianggap sebagai item ribawi karena statusnya sebagai mata uang maka akibatnya adalah kemunculan fatwa no 77 DSN.

Sementara jika kita menilai 'illah emas dianggap sebagai item ribawi karena potensinya yang dominan sebagai materi/bahan mata uang maka apapun bentuk emasnya maka ia adalah item ribawi. Ini yang dipahami oleh mayoritas ulama -Syafi'iyyah khususnya- yang berbeda pendapat dengan Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim. Itu sebabnya, para ahli hukum Islam -yang mengaitkan 'illah keribawian emas dan perak dengan tsamaniyyah- mengungkapkan bahwa 'illahnya adalah jawhariyyatuts tsaman (kekuatannya sebagai tsaman), atau jinsul atsmaan (kategori tsaman), bukan tsaman saja.

2. Meskipun zakat & riba adalah dua bab yang berbeda, namun keduanya dalam diskusi ini sering dikaitkan. Dalam zakat, emas yang dikenakan zakat tidak terbatas pada emas yang berupa uang/dinar. Tetapi juga mencakup emas dengan segala bentuknya yang lain. Dengan menggunakan logika "asal sama", maka selayaknya emas yang merupakan item ribawi adalah emas dalam segala bentuknya juga. Toh emas yang dijadikan zakat adalah emas dalam segala bentuknya.

3. Apa sih yang membedakan emas mata uang dengan emas bukan mata uang? Apa sih yang jadi pertimbangan penting kita saat bertransaksi emas? Jawabnya adalah EMAS dan BERATNYA. Gak peduli itu emas sebagai uang atau emas sebagai barang. Bedanya cuma pada emas yang dicetak sebagai uang terdapat keterangan jelas mengenai beratnya, sedangkan emas sebagai barang tidak pasti ada keterangan beratnya. Dengan demikian tidak ada perbedaan emas sebagai uang dan emas sebagai barang. Semua manusia pada intinya terkonsentrasi pada materi emas dan beratnya. Kalau saya disuruh milih mau dinar 50 gram atau mau batangan 1 kg maka saya akan pilih yang 1 kg karena konsentrasi saya bukan pada emas dalam bentuknya, tetapi beratnya. Dinar dibuat hanya untuk mempermudah transaksi pertukaran dengan adanya tulisan angka beratnya. Ini artinya, emas sebagai uang sama dengan emas sebagai barang. Lebih jauh, emas sebagai uang dan emas sebagai barang itu hanya masalah "ada keterangan beratnya atau tidak". Yang diharapkan dari keduanya sama saja, yaitu beratnya. Lalu mengapa kita harus membedakan keduanya dari sisi hukum? Wa maa adh dharb illaa dhabthan lil wazn li taysiir at ta'aamul wa li ta`miinih.

4. Hadis riwayat Ubadah versi lain (semoga Allah meridhainya) -shahih lho- secara eksplisit menyamakan status keribawian emas dalam bentuknya  yang tidak dicetak sebagai uang dan dalam bentuknya yang dicetak sebagai uang. Tibruhaa wa 'aynuhaa. Lihat perpustakaan digital, Sunan Abi Daawud, jilid 2, hlm. 268, DVD Asy Syamilah. (maaf, modal rujukan satu-satunya sebab buku versi cetaknya gak kuat beli, maklum bukan orang kaya, hanya seorang tukang kebun, namun bukan tukang kebun emas).
Saya tidak tahu, bagaimana sikap mereka yang membedakan emas uang dengan emas barang menanggapi sabda Kanjeng yang menjadi sumber hukum ini di mana patuh kepadanya adalah cermin patuh kepada Sang Pencipta Emas. Ini sabda Kanjeng lho. Bukan sabda alam, apalagi sabdo Faishol.

Banyakan mana ulama yang menyatakan emas adalah item ribawi dengan segala bentuk dengan ulama yang menyatakan emas sebagai item ribawi hanya untuk emas dalam bentuk uang atau dinar?
Bila menengok statistik, jumlah ulama yang menolak "pembatasan emas sebagai item ribawi hanya berlaku untuk emas sebagai uang" lebih banyak bangeeett dari pada yang membatasinya. Sementara yang sejalan dan selari dengan fatwa 77 jumlahnya lebih sedikit bangeettt. Bahkan info bocoran memberitakan terjadi "pertikaian" keras dan alot di DSN saat masalah ini diangkat sebelum akhirnya menjadi fatwa. Info ini memberikan petunjuk banyak juga yang gak setuju. Hanya saja, di sidang DSN khan gak ada second opinion demi alasan kebaikan umat.

"Tetapi kebenaran khan tidak didasarkan pada jumlah?" ketus teman saya yang sewot karena saya dinilai mengacaukan rencananya untuk ngutang emas dan berkebun emas di bank X.

"Benar. Kebenaran tidak mengikuti jumlah. Namun opo iyo, ulama sebanyak itu kok ya salah mikir semua?"

Biar bagaimanapun, fatwa 77 DSN sudah muncul. Tanpa bermaksud excuse, saya menghargainya. Paling tidak ada lah yang bertanggungjawab di dunia dan akhirat. Meskipun saya tidak tertarik dengan idenya, tanpa bermaksud mengecilkan kealiman (baca: kepandaian) para ulama yang mengeluarkannya.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210