BERANDA
Print this page Generate PDF
Kamis, 24 Desember 2015, 00:17

Kepentingan Rasulullah di Balik Shalawat Untuknya(?)

Faishol


( إِنَّ الله وملائكته يُصَلُّونَ عَلَى النبى ياأيها الذين ءامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلّمُواْ تَسْلِيماً ) الأحزاب : 56

Pertama saya ingin menyatakan bahwa shalawat kita untuk beliau BUKAN karena beliau memerlukan itu. Bahkan, shalawat para malaikat pun menjadi tidak penting bagi beliau. Apa sih arti shalawat para Malikat untuknya jika Allah sendiri sudah menyatakan shalawat-Nya. Bukankah yang terakhir ini sudah amat sangat lebih dari cukup untuk kepentingan beliau.

Kasus ini sama halnya saat Allah memerintahkan manusia agar mengingatNya. Apa kepentingan Allah dengan "ingatan" manusia terhadapNya? Allah TIDAK memerlukan itu.

Perintah Allah agar manusia "mengingat-Nya" -sama sekali- TIDAK mungkin dipahami bahwa Allah sedang mencari kepentingan dari hambaNya. Sebaliknya perintah semacam ini justru dilatarbelakangi oleh kebaikan/kepentingan manusia sendiri.

Alasan efektif yang mendasari "Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingat kalian." ditunjukkan oleh kalimat terakhir. Kalimat ini menunjukkan bahwa perintah "ingat" berkaitan dengan kepentingan manusia, bukan kepentingan Allah. Seakan-akan Allah ingin bilang, "Kamu mau Aku ingat (baca: Aku sayang)?" Kalau mau ya ingatlah Aku!

Siapa sih manusia yang gak punya kepentingan disayang oleh Tuhan?

Demikian juga saat Allah memerintahkan kita bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Tujuan utamanya adalah pengagungan Allah kepada sosok Rasulullah SAW, bukan mendoakannya (meski shalawat dari sisi etimologi artinya doa). Selanjutnya Allah meminta agar manusia beriman juga mengagungkan beliau.

Perintah Allah kepada manusia beriman agar bershalawat kemudian menjadi urusan/hubungan manusia dengan Allah, Tuhannya. Ini sama sekali tidak terkait dengan kepentingan Rasulullah SAW sendiri.

Sabda beliau "Siapa yang bershalawat satu kali untukku maka Allah akan bershalawat sepuluh kali untuknya" menggambarkan hubungan yang sebenarnya di balik wasilah shalawat, yaitu hubungan antara manusia yang bershalawat dengan Allah. Dari hubungan ini, ujung-ujungnya manusia yang diuntungkan, bukan Rasulullah SAW.

Pengagungan Allah (sampai sepuluh kami) kepada sosok-sosok manusia tertentu (yang bershalawat kepada Rasul-Nya) adalah puncak tertinggi keinginan orang yang beriman. Tidak ada lagi keinginan yang tertinggi di atas itu. Siapa sih yang tidak mau dishalawatkan (baca: diagungkan) oleh Allah.

Katakan Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, satu kali saja, maka Allah, Raja Diraja, Pengelola Alam Semesta menagungkan anda sepuluh kami. Dan pengagungan ini sudah cukup dari dunia dan segala isi kekayaannya.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210