HIKMAH
Print this page Generate PDF
Rabu, 26 November 2008, 22:27

Tajrid

Nur Ikhwan


إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الأَسْبابَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ.

Keinginanmu untuk berada di peringkat Tajrid (tanpa usaha  memenuhi kebutuhan duniawi) sementara Allah masih memposisikanmu di peringkat Asbab (yang masih harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan duniawi) adalah indikator Syahwat al Khafiyyah (tersembunyi). Sebaliknya, keinginanmu untuk tetap berada di peringkat Asbab padahal Allah telah menempatkanmu di peringkat Tajrid adalah perendahan terhadap cita-cita yang luhur.

Term:
  1. Peringkat Asbab (dalam terminologi tashawwuf) adalah istilah yang menggambarkan suatu kondisi di mana seseorang masih perlu berusaha dan bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi.
  2. Peringkat Tajrid adalah term yang menggambarkan kondisi di mana seseorang sudah tidak lagi dipengaruhi pikiran-pikiran pemenuhan kebutuhan duniawi.
  3. Al Himmah : Keinginan dan motivasi yang kuat untuk mencapai target tertentu. Jika keinginan ini berkaitan dengan sesuatu yang luhur maka disebut al himmah al'aliyah. Sebaliknya jika keinginan ini berkaitan dengan sesuatu yang "rendah" maka disebut dengan al himmah as safilah.

Usaha perpindahan seseorang yang –oleh Allah SWT- ditempatkan pada peringkat Asbab dari peringkat Asbab ke peringkat Tajrid merupakan usaha pemenuhan Asy Syahwah al Khafiyyah yang selayaknya dihindari. Dinamakan Asy Syahwah karena orang yang melakukan hal itu sama saja mencoba keluar dari kehendak Allah sebelum waktunya (demi menuruti egonya). Dikatakan al Khafiyyah mengingat perpindahannya dari peringkat Asbab ke peringkat Tajrid tidak didasari dengan tujuan memperoleh keuntungan sesaat, tetapi masih dalam kerangka pendekatan diri kepada Allah dengan cara yang lebih baik –menurut dugaannya. Sayangnya dia alpa bahwa hal itu (maksudnya: perpindahan) bertentangan dengan etika atau adab, yakni tidak mahu menempatkan diri pada peringkat yang dikehendaki oleh Allah dan mengharapkan peringkat yang lebih tinggi pada waktu yang tidak tepat.

Sebagai indikator bahwa dia dikehendaki oleh Allah untuk berada di peringkat Asbab adalah ketika dia melakukan Asbab dia dapat lebih patuh pada ajaran agamanya, dapat menjaga hatinya untuk tidak tamak atau iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, dapat membantu orang lain serta hal-hal lain -yang posititif- yang dapat dilakukannya dengan harta yang diperolehnya dengan Asbab.

Sebaliknya, usaha berpindah oleh mereka yang –oleh Allah SWT- ditempatkan di peringkat Tajrid dari peringkat Tajrid dan turun ke peringkat Asbab adalah kemunduran cita-cita (al himmah) mulia dan merupakan etika yang buruk. Usaha ini sama dengan usaha menuruti Asy Syahwah al Jaliyyah. Tajrid adalah peringkat luhur, peringkat di mana Allah menempatkan hamba-hambanya yang spesial (khawwash). Jika Allah menempatkan seseorang di peringkat ini maka tidak selayaknya dia mundur atau turun ke peringkat kelompok yang "kurang" (ahlul intiqash).

Sebagai indikator bahwa seseorang ditempatkan di peringkat Tajrid adalah kesinambungannya dalam beribadah, keluangan waktu, kebersihan hati (untuk tidak tergiur dengan apa yang dimiliki oleh orang lain) serta rasa nyaman yang timbul akibat berinteraksi dengan makhluk.

Dikutip dari Al Hikam, Ibnu Atha'illah As Sakandariy, Al Haramain, Jakarta, hlm. 4

Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210