Keislaman
Print this page Generate PDF
Senin, 08 Desember 2008, 20:59

Urgensi Doa di Tengah Takdir

Faishol


Apa fungsi doa sementara keputusan Allah (qadha`) tidak bisa dihindari dan pasti terjadi?

1. Doa sebagai bagian dari takdir

Al Ghazaliy menjelaskan, penghindaran musibah atau yang hal yang tidak diinginkan dengan cara berdoa adalah bagian dari keputusan Allah (qadhaa`) itu sendiri. Al Ghazali bermaksud bahwa pertanyaan di atas dibangun di atas asumsi bahwa berdoa bukan bagian dari takdir. Asumsi ini tidak benar. Ketika kita berdoa maka tindakan berdoa kita juga bagian dari takdir atau keputusan Allah (qadha`).

2. Hubungan sebab akibat

Berdoa adalah bagian dari fenomena hukum sebab akibat. Berdoa adalah sebab yang mengakibatkan musibah terhindar dan kasih sayang Allah turun. Fungsinya sama dengan fungsi perisai atau fungsi air yang menjadi sebab perlindungan diri dari senjata atau sebab kemunculan tumbuh-tumbuhan.

Tidak menyirami sawah setelah penyebaran bibit bukan merupakan syarat penerimaan kita tentang keberadaan takdir. Tidak mengangkat senjata untuk berjihad bukan merupakan syarat pengakuan kita terhadap eksistensi takdir. Perhatikan firman Allah berikut,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا (النساء : 71)

"Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kalian, dan majulah (ke medan perang) secara berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!" (An Nisaa`: 71)
Perhatikan ayat ini yang tetap memerintahkan orang yang beriman mengangkat senjata di tengah-tengah kepercayaan mereka bahwa segalanya telah diatur oleh garis takdir.

Ketika Allah menetapkan bahwa manusia bernama X akan lahir dan eksis di muka bumi pada tahun 2008 maka dalam waktu yang bersamaan Allah juga menetapkan proses sebab akibat keberadaan si X.

3. Sikap Penghambaan

Berdoa adalah model penghambaan yang tertinggi. Tangan menjulur ke atas memohon kepada Allah SWT merupakan sikap penghambaan dan pengakuan paling ketara bahwa manusia adalah hamba sedangkan Allah SWT adalah Dzat Maha Kaya, Kuat dan Mulia.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ (سنن الترمذي ج: 5 ,ص: 456)[1]

Jika kata "'ibadaah" dalam hadis diterjemahkan "penghambaan" maka hadis ini selengkapnya berarti:
"Doa adalah otak bagi (segala) bentuk penghambaan."
Berdoa dianalogikan dengan otak karena inti ibadah adalah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Dan itu terlihat ketara dalam praktek berdoa, saat meminta dan menadahkan tangan.

- Penghambaan dengan cara berdoa disukai oleh Allah. Rasulullah SAW bersabda,

سَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ (سنن الترمذي ج: 5 ,ص: 565)[2]

"Mintalah kepada Allah sebagian anugerahnya. Sesungguhnya Allah SWT suka dimintai. Dan Ibadah terbaik adalah berharap selamat dari kesulitan (al faraj)."

4. Terapi Kejiwaan

Saat berhadapan dengan kesulitan, secara psikologis manusia mencari ketenangan batin. Mengingat rasa ketuhanan adalah fithrah maka Tuhan menjadi tempat pelarian penyelesaian masalah. Itu sebabnya mengapa doa sering kali menjadi penting bagi manusia secara umum. Dengan bahasa lain, doa membangun rasa optimis di tengah-tengah kesulitan dan rintangan hidup.

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ (فصلت :51)

"Dan ketika Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling (tidak bersyukur) dan menjauhkan diri, namun ketika ia ditimpa malapetaka ia banyak berdoa."

Ayat 51 Fushshilat ini tidak bertentangan dengan ayat 49 di surat yang sama yang artinya, "... dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa serta putus harapan." (Qs. Fushshilat: 49)

Sebagaimana dijelaskan oleh An Nasafi, ayat 49 berkaitan dengan sekelompok manusia yang berbeda dengan sekelompok manusia yang disinggung oleh ayat 51. Ini artinya ada sekelompok orang –yang meskipun tidak sensitif dan cerdas menyikapi nikmat Allah- saat dirundung petaka masih mempunyai asa dan harapan yang dimanisfestasikan dalam bentuk doa.

Dari sisi pandang psikologi, berdoa kepada Allah dapat diartikan sebagai bagian dari usaha membangun rasa optimis. Rasa optimis ini yang kemudian menciptakan kesabaran untuk bertahan di tengah kesulitan. Kesabaran tidak pernah dimiliki oleh mereka yang pesimis (yauus qanuuth)

Dengan sederhana hubungan antara doa, optimis dan kesabaran dapat digambarkan sebagai berikut

Doa ---membangun---> Optimis ---melahirkan--> Kesabaran

 

"Optimis" sebagai ibadah terbaik

Yang menarik dalam masalah ini (maksudnya berdoa atau meminta kepada Allah) adalah sabda Rasulullah SAW yang sudah ditutur di atas bahwa

وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ (سنن الترمذي ج: 5 ,ص: 565)

"Dan Ibadah terbaik adalah berharap selamat dari kesulitan (al faraj)."

Sabda ini mengandung pesan yang amat dalam. Asa akan bebas atau selamat dari kesulitan (sikap optimis) dinilai sebagai ibadah terbaik. Sehubungan dengan kalimat di atas Al Mubarkafuriy menjelaskan,

وأفضل العبادة انتظار الفرج أي ارتقاب ذهاب البلاء والحزن بترك الشكاية إلى غيره تعالى وكونه أفضل العبادة لأن الصبر في البلاء انقياد للقضاء (تحفة الأحوذي ج: 10 ,ص: 17)

"Ibadah terbaik adalah menunggu dan berharap lolos dari kesulitan (al faraj)." Maksudnya,  mengharapkan bencana atau kesulitan hilang dengan cara tidak mengeluh kepada selain Allah SWT. Mengenai mengapa itu dinilai sebagai ibadah terbaik karena kesabaran di tengah musbibah adalah ketundukan terhadap takdir Allah."

Dalam penungguan penuh harap akan hilangnya kesulitan ini terdapat makna optimis.
Lalu mengapa itu dinilai sebagai ibadah terbaik? Jawabnya, karena tidak mengeluh kepada selain Allah adalah bentuk kesabaran. Kesabaran menghadapi musibah adalah bagian dari ketundukan kepada keputusan (qadha) Allah. Ketundukan pada keputusan Allah adalah bukti penghambaan total. Itu sebabnya mengapa berharap menunggu datangnya keselamatan (dari Allah melalui anugerahNya) atau dalam bahasa lain tetap optimis dan sabar di tengah kesulitan dengan meminta sebagian anugerah atau kasih sayangNya disebut sebagai ibadah terbaik.

Sebagian menilai pada hakikatnya predikat "ibadah terbaik" diberikan bukan kepada optimisnya, tetapi kepada kesabaran menghadapi kesulitan dengan tidak mengeluh kepada selain Allah SWT.

Hemat penulis, optimis dan kesabaran adalah korelasi yang tidak dapat dipisahkan (talaazum).

Catatan Kaki

[1] At Tirmidzi menilai hadis ini ghariib karena hadis ini hanya memiliki satu sanad atau wajh, yaitu sanad Ibnu Lahi'ah.
[2] At Tirmidzi menilai hadis (riwayat Hammad bin Waqid) ini dha'if. Hadis yang sama dari jalur Abu Nu'aim "lebih shahih". Penilaian "lebih shahih" dalam terminologi hadis tidak dapat dipahami dengan pasti sebagai shahih dalam arti valid.


Kembali - Cetak

© Hakcipta 2008-2018 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210