Categories: Artikel
      Date: Wednesday, 06 May 2009, 01:51
     Title: Jampi-jampi

Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat yang mengobati, “Apa yang membuatmu tahu bahwa Al Fatihah adalah jampi-jampi?”
“Kalian telah melakukannya dengan benar. Bagi-bagikanlah dan sisihkan sebagian untukku,” sabda Rasulullah sambil tertawa.



حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ
فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ
فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوا يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟
فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ
فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ
قَالَ فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اقْسِمُوا فَقَالَ الَّذِي رَقَى لَا تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(صحيح البخاري , محمد بن إسماعيل , دار ابن كثير , اليمامة , 1987, ج 2 ص 795, باب ما يعطى في الرقية على أحياء العرب بفاتحة الكتاب)

Abu Nu’man bercerita kepada kami, Abu ‘Awanah bercerita kepada kami, dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil, dari Abu Sa’id Al Khudriy. Dia (Abu Sa’id) bercerita,

Sekelompok sahabat Rasul sedang dalam perjalanan hingga kemudian singgah di salah satu perkampungan Arab.[{anchor anchor='1' text='1' class=footnote}] Mereka sahabat Rasul meminta penduduk kampung menjamu mereka sebagaimana layaknya tamu. Namun mereka enggan menjamu para sahabat.

Dalam waktu para sahabat singgah di sana, tokoh kampung itu tersengat kalajengking.[{anchor anchor='2' text='2' class=footnote}] Para warganya sudah berusaha mengobatinya dengan berbagai cara namun tidak berhasil menyembuhkannya.[{anchor anchor='3' text='3' class=footnote}]

Sebagian dari warga kampung memberi saran, “Cobalah kalian datangi para musafir yang singgah (di kampung kita), mungkin mereka memiliki sesuatu untuk mengobatinya.”

Mereka pun mendatangi para sahabat dan berkata, “Tokoh kampung kami tersengat kalajengking. Kami telah berusaha dengan segala cara untuk mengobatinya namun tidak menyembuhkannya. Adakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu untuk mengobatinya?”

Salah seorang sahabat[{anchor anchor='4' text='4' class=footnote}] menjawab, “Ya ada. Demi Allah aku akan menjampi-jampinya.[{anchor anchor='5' text='5' class=footnote}] Namun sebelumnya kami telah meminta kalian menjamu kami sebagai tamu dan kalian tidak mau. Untuk itu, aku tidak akan menjampi-jampinya sampai kalian bersedia memberikan bayaran (sebagai kompensasi pengobatannya jika sembuh).”
Kedua pihak lalu menyepakatinya dengan bayaran berupa sekumpulan kambing.[{anchor anchor='6' text='6 class=footnote}]

Sahabat itu menyembur si sakit dan membaca surah Al Fatihah. [{anchor anchor='7' text='7' class=footnote}]
Tak lama tokoh kampung itu seakan-akan lepas dari ikatan. Dia mampu berjalan. Tidak ada lagi rasa sakit (yang dirasakannya).

Mereka segera memenuhi bayaran yang disepakati.
Di antara sahabat ada yang berkata, “Ayo bagi-bagikan (kambing-kambing itu).” Sahabat yang mengobati menjawab, “Jangan bagi-bagikan dulu sampai kita menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang terjadi, selanjutnya kita lihat apa saran beliau.”

Tiba di Madinah, mereka mendatangi Rasulullah dan menceritakan kejadian yang mereka alami.

Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat yang mengobati, “Apa yang membuatmu tahu bahwa Al Fatihah adalah jampi-jampi?”[{anchor anchor='8' text='8' class=footnote}]
“Kalian telah melakukannya dengan benar.[{anchor anchor='9' text='9' class=footnote}] Bagi-bagikanlah dan sisihkan sebagian untukku,” sabda Rasulullah sambil tertawa.[{anchor anchor='10' text='10' class=footnote}]

Kesimpulan yang diperoleh dari hadis
  1. Diijinkan mengobati penyakit (fisik) dengan ayat Al Qur`an.
  2. Teknis pengobatan ini tidak terikat. Dalam contoh Abu Sa’id RA berinisiatif dengan cara –sebagaimana tampak pada redaksi hadis- menyembur lalu membaca surah Al Fatihah. Sebagian ulama menyarankan agar membaca Al Fatihah dahulu lalu menyemburnya. Teknisnya terbuka meskipun harus tetap dalam koridor syar’i dan kesantunan. Termasuk diantaranya adalah ruqyah dengan cara membaca sebagian Al Qur`an lalu meniupkannya ke air untuk diminumkan kepada yang sakit.
  3. Diijinkan menentukan fee sebagai kompensasi atas pengobatan dengan cara ruqyah. Ini artinya bahwa ruqyah fee adalah halal.
  4. Hadis di atas sama sekali tidak menyinggung kriteria mereka yang layak memberikan layanan ruqyah. Tepatnya siapa saja dapat melakukannya. Untuk itu tidak diperlukan sebuah sertifikat atau jenjang tertentu yang harus dilalui untuk menjadi seorang raaqi kecuali sedikit pengetahuan tentang ruqyah yang sesuai dengan ajaran Islam. Yang terakhir disebut ini bukan sesuatu yang sulit untuk diketahui. Bahkan cukup dengan pengetahuan tentang keberadaan hadis di atas, cara yang sama (dalam hadis) dapat dilakukan oleh siapapun.
  5. Ibnu Hajar menyatakan, di samping dengan ayat suci Al Qur`an, ruqyah juga dapat dilakukan dengan menggunakan dzikir dan doa yang bersifat ma’tsuur (doa yang terdapat dalam Al Qur`an atau doa Rasulullah SAW)
Catatan kaki

[{anchor anchor='fnt-1' text='1'}] Dalam riwayat Al A’masy dijelaskan bahwa mereka adalah sekumpulan pasukan yang dikirim oleh Rasulullah SAW yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Madinah. Jumlah mereka sekitar 30 orang. Mereka singgah di kampung ini di malam hari.
[{anchor anchor='fnt-2' text='2'}]Hadis Al Bukhari di atas tidak menyebut hewan yang menyengatnya. Kesimpulan bahwa hewan yang menyengatya adalah kalajengking diambil dari riwayat Al A’masy.
[{anchor anchor='fnt-3' text='3'}] Maksudnya dengan obat-obatan tradisional setempat yang biasa digunakan untuk mengobati sengatan kalajengking.
[{anchor anchor='fnt-4' text='4'}] Al A’masy menerangkan bahwa sahabat Rasulullah SAW yang menyatakan sanggup mengobatinya adalah Abu Sa'id Al Khudriy RA.
[{anchor anchor='fnt-5' text='5'}] Menjampi-jampi adalah terjemah dari kata arqii (kata dasarnya adalah raqyan). Terjemahan ini bisa jadi terkesan kurang pas di telinga sebagian. Anda bisa mencari alternatifnya. Intinya, ruqyah –terlepas dari hukumnya- adalah usaha melindungi seseorang dari bencana baik dengan cara menulis sesuatu lalu menggantungkannya atau dengan cara membaca sebagian Al Qur`an, surat al falaq dan an naas atau doa’doa yang ma`tsuur.
[{anchor anchor='fnt-6' text='6'}] Riwayat Al A’masy menyebutkan jumlah kambing yang diminta adalah 30 (tiga puluh ekor). Ibnu Hajar Al ‘Asqalani berkomentar, “Riwayat yang menyebutkan jumlah kambing adalah 30 (tiga puluh ekor) tampak sesuai dengan jumlah para shahabat yang ada pada saat itu.”
[{anchor anchor='fnt-7' text='7'}] Menyembur di sini adalah terjemah dari kata yatfulu, yaitu meniup dengan disertai sedikit ludah. Anda bebas mencari terjemahannya yang lebih tepat.
[{anchor anchor='fnt-8' text='8'}] Pernyataan ini memberi kesan jelas bahwa beliau tidak pernah mengajarkan cara ruqyah tersebut sebelumnya. Teknis pengobatan ruqyah seperti yang dituturkan dalam hadis merupakan hasil ijtihad Abu Sa’id sendiri saat dia tidak menemukan petunjuk nash. Demikian diungkapkan oleh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani.
[{anchor anchor='fnt-9' text='9'}] Sabda ini dapat ditafsirkan, 1: “Cara mengobati kalian sudah benar” atau 2. “Sikap kalian meminta konfirmasi kepada Nabi SAW sebelum membagi-bagi kan bayaran yang telah diterima adalah benar”.
[{anchor anchor='fnt-10' text='10'}] Ungkapan penghibur ini merupakan penekanan bahwa apa yang diperoleh oleh para shahabat tersebut benar-benar halal.