1. Latar Belakang
2. Ciri
3. Visi dan Misi
4. Target
5. Hubungan Masyarakat
6. Kendala

I. Latar Belakang Pendirian

Cikal bakal Pesantren Al Muta'allimin muncul di tahun 1970, dimulai dengan pendidikan belajar membaca Al Qur`an yang diasuh oleh almarhum KH. Zanuddin Abrori, yang juga pendiri sekaligus pewakaf Pesantren Al Muta'allimin.

Ummunaa, Hidayah binti Saleh bin Yahya

Pesantren Al Muta'allimin berdiri -di samping perwujudan dari permintaan masyarakat yang mulai mempunyai kesadaran agamis serta dukungan guru, diilhami juga oleh pertimbangan kondisi masyarakat sekitar pada masa itu, di mana dalam kehidupan hariannya dipenuhi oleh kebiasaan-kebiasaan tidak islami seperti meminum minuma keras, judi, menyabung ayam, perbuatan mesum dan kemaksiatan lainnya.

Nama Al Muta'allimin sendiri diambil dari nama sebuah pesantren di mana beliau pernah belajar dahulu, yaitu pesantren Ribath Al Muta'allimin (Pekalongan). Penamaan ini, di samping sebagai wujud penghormatan murid kepada guru, juga merupakan kesinambungan hubungan garis intelektual yang sangat penting artinya dalam tradisi pesantren klasik.

Pada bulan Mei tahun 1983, lembaga pendidikan Pesantren Al Muta'allimin resmi disahkan berdasarkan akte notaris dengan fasilitas 3 blok tanah status wakaf yang berjumlah total 1136 m2.

Pada tahun 1999, KH. Zainuddin Abrori, pendiri dan pengasuh Pesantren Al Muta'allimin wafat. Kepengasuhan selanjutnya diasuh oleh putra sulungnya, al ustadz H. Muhammad Faishol Lc., M.A.

II. Ciri

Setiap pesantren memiliki ciri khas tersendiri yang biasanya sangat dipengaruhi oleh kecenderungan fakultas intelektual dan wawasan (cara pandang) pengasuhnya. Ciri khas Pesantren Al Muta’allimin –yang membedakannya dari umumnya pesantren di Jakarta– ialah kepeduliannya yang serius terhadap kajian keislaman klasik dan terkini serta usaha pengejawantahannya dalam kondisi budaya yang dinamis. Ide tersebut diwujudkan dengan mengkaji kitab-kitab kuning serta buku modern yang disusun oleh pengarang-pengarang senior di bidangnya.

Pesantren Al Muta’allimin tidak dapat menutup mata terhadap realita bahwa kitab-kitab klasik sangat kaya dengan khazanah inteletual muslim dari pelbagai fakultas, bahkan -dalam konteks kekinian- telah digunakan sebagai acuan dasar dominan yang sangat mewarnai pengambilan keputusan, khususnya dalam ekonomi syariah dan wacana syariah lainnya yang sedang berkembang.

Pesantren sangat sadar bahwa berkonsentrasi dalam pendidikan sejenis ini memerlukan keberanian moral di tengah-tengah “kesibukan” masyarakat sekarang. Disebut dengan keberanian moral karena pendidikan Pesantren Al Muta’allimin tidak menawarkan pendidikan yang –biasanya dianggap– dapat menjamin masa depan secara finansial.

Di sisi lain keragaman sistem yang ditawarkan oleh pesantren-pesantren di Jakarta memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk menentukan pilihan pendidikan yang layak bagi diri dan putra-putrinya. Pengalaman memberikan pelajaran bahwa penyeragaman sistem pendidikan kurang menguntungkan bagi pengembangan kreatifitas, bakat dan pemikiran anak didik.

Dalam skala nasional, Pesantren Al Muta’allimin tidak sendirian. Di daerah-daerah lain banyak dijumpai sistem pendidikan yang serupa yang sering disebut oleh masyarakat dengan istilah pesantren tradisional.

Penggunaan kata “tradisional” ini biasanya mengacu kepada materi dan metode pendidikan keislamannya yang bersifat klasik serta sarana fisik yang relatif sederhana. Namun, Pesantren Al Muta'allimin berusaha menjauhkan istilah “tradisional” dengan konotasi yang terakhir. Sarana fisik merupakan hal penting kaitannya dengan mengangkat citra lembaga pendidikan disiplin keislaman dalam konteks persaingan sehat dengan lembaga pendidikan nondisiplin keislaman lainnya.

Kata “tradisional” bagi Pesantren Al Muta'allimin dimaknai bahwa Pesantren tidak menyediakan pendidikan umum nondisiplin keislaman dalam lembaganya sendiri.

Biar bagaimanapun, Pesantren Al Muta’allimin menyakini bahwa metode pengajaran, semangat belajar, dan kehandalan pendidik adalah tiga hal penting yang saling terkait untuk menggapai target mutu keilmuan santri. Karena itu, sarana fisik harus dipahami sebagai media, bukan tujuan.

III. Visi dan Misi

Visi Pesantren Al Muta’allimin adalah dakwah islamiah membentuk masyarakat islami. Sementara misinya adalah mendidik moral spiritual Islam dan mengkaji pemikiran keislaman klasik serta modern sebagai jawaban yang ashlah (lebih sesuai).

IV. Target

Terdapat dua kategori target, Umum dan Khusus.

Setiap target di atas diwujudkan dalam bentuk tahapan-tahapan pendidikan selayaknya.

V. Hubungan dengan Masyarakat

Sejak awal berdirinya, Pesantren Al Muta’allimin tidak dapat melepaskan diri dari peranan masyarakat sekitarnya. Dukungan yang selama ini diberikan masyarakat amat ketara dan menjadi hal paling penting dalam eksistensi dan keberlanjutannya. Berdirinya beberapa bangunan Pesantren di atas tanah wakaf merupakan hasil jerih payah para santri di era awal dan masyarakat sekitar. Upaya gotong royong antara masyarakat sekitar dan para santri Pesantren berhasil menciptakan sinergi luar biasa sehingga infrastruktur Pesantren dapat terwujud.

Hubungan yang bersifat koordinatif partisipatif berjalan sejak awal pendirian hingga saat ini. Hubungan ini merupakan hubungan yang amat membanggakan dan menjadi kekuatan tersendiri bagi dakwah islamiyyah, khususnya untuk masyarakat di wilayah Kemandoran Pluis.

Hubungan yang dibangun ini menjadi hubungan simbiosis mutualisme. Di satu sisi Pesantren Al Muta’allimin memberikan pendidikan displin ilmu keislaman dan pendidikan akhlak. Sedangkan hubungan timbal balik yang diberikan oleh masyarakat kepada Pesantren Al Muta’allimin adalah pemberian dukungan terhadap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, baik dalam bentuk materi dan immateri.

Dengan demikian, tidak berlebihan jika ditulis bahwa Pesantren Al Muta’allimin dan fasilitasnya -dengan status wakafnya- benar-benar dimiliki oleh masyarakatnya.

Pelajaran penting yang dapat dipetik dari hubungan ini adalah bahwa kepercayaan masyarakat kepada Pesantren Al Muta’allimin menjadi hal penting yang harus dijaga dan menjadi prioritas yang harus diperhatikan oleh pihak Pesantren.

VI. Kendala

Apapun yang kita rencanakan dan kerjakan pasti menghadapi kendala. Bagi pesantren Al Muta’allimin -dan mungkin juga bagi pesantren-pesantren lain dengan model yang sama, kendala utama yang amat dirasakan adalah rendahnya minat masyarakat untuk menggali, mengkaji, mendiskusikan dan mengkritisi kitab-kitab klasik yang merupakan khazanah kekayaan pemikiran muslim yang beragam dan dalam segala bidang.

Hal di atas berakar pada kuatnya persepsi di mana pendidikan non keagamaan dianggap lebih memberikan jaminan “masa depan finansial” daripada pendidikan displin ilmu keislaman. Persepsi ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Diperlukan suatu penjelasan dan usaha komprehensif untuk mendudukkan masalah ini pada tempatnya yang benar.

Pesantren Al Muta'allmin menyadari sepenuhnya kondisi tersebut, namun kami lebih mengutamakan "pengetahuan" itu sendiri daripada segalanya. Semoga Allah SWT memberi taufik sehingga spirit kami tidak menjadi luntur berhadapan dengan realita zaman.

Memproduksi orang "pandai dan berbuat" bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, jika dalam satu tahun dapat memproduksi satu saja maka itu -bagi kami- sudah merupakan prestasi besar, teramat besar.