BUKUTAMU
Print this page Generate PDF
Nama *
E-mail
Sisa karakter
Pesan *
This is a captcha-picture. It is used to prevent mass-access by robots. (see: www.captcha.net)
 

Pesan 46 s/d 60 ( Total pesan : 106)
abdul matyn 28-06-2010- 13:55

Assalamu'alaiku Wr. Wb. Ustadz, saya mau tanya, apakah era/masa para imam al madzahib yg berjumlah 4 itu sama dengan masa para imam al Qurro' as Sab'ah yg berjumlah 7...
---------------------
'Alaikum salam.
Di bawah ini adalah daftar qurra` dan tokoh madzhab hukum Islam. Silakan bandingkan sendiri. Dalam gambar di bawah disebutkan tokoh qiro`ah 'asyroh (tujuh tokoh qiro`ah yang disebut pertama adalah para tokoh qiro`ah sab'ah). Setiap tokoh qiro`ah diiringi dengan 2 (dua) nama murid yang paling berperan dalam meriwayatkan dan menyebarkan bacaan gurunya.  Di sini juga disebutkan tokoh-tokoh pemikiran hukum Islam (fiqh) di luar empat madzhab yang masyhur. Tahun lahir dan wafat yang disebutkan dalam gambar adalah berdasarkan kalender hijriyyah.
Keterangan yang sama dalam versi ms. word dan pdf bisa di-download di sini.



Mas Yoyo 10-06-2010- 16:26

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Yang saya  maksud dg ruwatan 7 bln (masa kandungan/kehamilan memasuki 7bln). Biasanya di Jawa diadakan acara tsb. Yang saya tanyakan apakah memang ada dalam ajaran islam. Kalau memang ada apa maksud yg sebenarnya menurut iIslam serta bagaimana tata cara menurut islam

---------------------
'Alaikum salam.
Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai tingkepan, mas. Tidak ada referensi mengenai tingkepan dalam literatur Islam. Acara ini murni tradisi lokal masyarakat Jawa. Sebagian orang menilainya sebagai perbuatan syirik. Namun saya -pribadi- tidak ingin tergesa-gesa mengatakan seperti itu. Tradisi yang tidak berakar dari ajaran Islam tidak serta merta dilarang. Harus dipilah-pilah. Yang bertentangan dibuang, yang tidak bertentangan tidak harus dibuang (meskipun tidak juga harus dilakukan). Ada sebuah rumusan dalam fiqh yang berbunyi :
الأصل في العادات الإباحة إلا ما ورد عن الشارع تحريمه
"Pada prinsipnya kebiasaan atau tradisi adalah diijinkan kecuali yang dilarang oleh Pembuat Syariat"

Esensi dari tingkepan adalah permohonan kepada Allah swt untuk keselamatan sang bayi. Tidak ada masalah dengan doa atau permohonan ini. Selanjutnya lakukan doa tersebut secara islami. Namun jangan pernah meyakini bahwa tradisi doa di saat janin berusia tujuh bulan sebagai sunnah atau bahkan wajib. Berdoa memang wajib, tetapi ketentuan doa harus di saat janin berusia 7 bulan tidak wajib, juga tidak sunnah.
Silakan tingkepan dalam pengertian seperti ini. Insya Allah, tidak apa-apa. Wallahu A'lam. Jika acara tingkepan tidak dilakukan juga tidak apa-apa, namun jangan pernah tinggalkan berdoa memohon kepada Allah swt untuk keselamatan sang bayi dan ibunya serta berdoa agar Allah menjadikannya sebagai anak yang shalih.

Mengingat tradisi ini bukan berasal dari ajaran Islam, tentu tidak ada penjelasan teknisnya. Teknisnya, jika ingin melakukannya, lakukanlah dengan tetap menjaga adab-adab Islami.

Terkait hal-hal seperti ini, salah satu strategi yang dilakukan oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara adalah melakukan islamisasi pada budaya yang tidak baik dengan memasukkan "nafas" islami. Sebuah usaha yang bijaksana. Sebuah jihad yang manis yang tidak kontraproduktif dengan tatanan nilai yang sudah ada di masyarakat. Suatu usaha  yang lembut namun progresif dinamis meskipun lamban. Sementara sebaliknya adalah revolusioner yang kerap menimbulkan riak sosial, penuh cacian dan "menyakitkan" sesama serta tidak "indonesiawi", apalagi "njawi".

Mas Yoyo 09-06-2010- 15:05

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Allhamdulilah Ustadz, Insya Allah hari Sabtu besok orang tua saya mengadakan ruwatan 7 Bulan, yang ingin saya tanyakan hakekat apa yang harus dilakukan seorang muslim menyangkut ruwatan tersebut

---------------------
'Alaikum salam.
Mas Yoyo, saya belum bisa menjawab sebelum mengetahui apa itu ruwatan yang dimaksud oleh Mas dan bagaimana teknisnya. Mohon penjelasan lebih lanjut.

Syahrull 26-05-2010- 13:55

Assalammualaikum, Ana punya toko buku islam beralamat di Cijantung mau menawarkan buku-buku yang digunakan pesantren antum. Buku-buku yang pesantren antum gunakan 99 % ada di toko ana. Toko Buku Prima Ilmu, Jl. Raya Kalisari no.5 Pasar Rebo Jakarta Timur Telp. 87713563,87702303 (Hunting) Fax.87702301, Email purc_primaper@yahoo.co.id Website:www.primailmu.com Mobile: 081288214376.

sutarno 18-05-2010- 19:30

Assalamu'alaikum Ustadz saya mau tanya Apa definisi takdir dan nasib? Maturnuwun.

---------------------
'Alaikum salam.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan (telah tertulis) dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi Allah." (Qs. Al Hadiid: 22)

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال النبي صلى الله عليه و سلم : كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلى اْلمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ (صحيح البخاري, ج. 3, ص. 1166)

Rasulullah (kasih sayang, keagungan dan keselamatan dari Allah untuknya) bersabda, “Allah ada sementara apapun selain Dia belum ada. Arsy-Nya berada di atas air. Dia menulis segala sesuatu dalam ad dzikr (al lawh al mahfuuzh) dan (kemudian) menciptakan langit dan bumi.”

Al Qadr dan Al Qadhaa`
Al Qadr : penetapan atau penulisan tentang yang akan terjadi pada segala sesuatu. Contoh Allah (subhanah) di masa azaliy sudah menetapkan bahwa saya pada hari ini menulis jawaban pertanyaan bapak.
Al Qadhaa` : pelaksanaan/realisasi dari penetapan (al qadr) tersebut. Contoh, Allah subhanah hari ini benar-benar mewujudkan apa yang sudah ditetapkannya tadi yaitu bahwa saya menulis jawaban atas pertanyaan bapak.
Dengan bahasa yang mudah, maka prosesnya adalah al qadr dulu kemudian al qadhaa`. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Biasanya kedua kata ini disebut bersamaan namun jika disebut salah satunya atau disebut “takdir” saja maka maknanya mencakup keduanya.
Jadi, takdir adalah penetapan tentang yang akan terjadi pada segala sesuatu serta realisasinya.

hasan bisri 21-04-2010- 11:12

Kang Faishol, mohon ditayangkan rekaman video terkini imtihan, biar saya selalu mengikuti perkembangan pesantren yang tercinta.

---------------------
Maunya sih begitu, kang. Tetapi sementara ini terhalang masalah teknis. Biar bagaimanapun sampeyan bisa dapatkan dalam bentuk CD. Coba hubungi Ustazd Basith.

Sutarno 21-03-2010- 13:09

Assalamu'alaiku Wr. Wb. Ustadz, saya mau tanya, anggota sujud kan ada 7, bagaimana hukum shalat kalau salah satu diantara 7 tidak menyentuh tempat sujud? sedangkan dia dalam kondisi normal dan sehat wal afiat. Mohon jawabannya, terimakasih.

---------------------
'Alaikum salam.
7 anggota tubuh yang saat sujud harus menyentuh di tempat sujud adalah: sebagian dahi, sebagian kedua telapak tangan, sebagian kedua lutut dan sebagian kedua telapak kaki. Menyentuh di sini artinya lekat meskipun tidak harus langsung kulit dengan tempat sujud kecuali dalam kasus dahi. Khusus untuk dahi, di samping harus menyentuh pada tempat sujud juga harus terbuka (kulit dahi menyentuh langsung dengan tempat sujud). Maksud tempat sujud di sini mencakup sajadah atau tanpa sajadah. Jika syarat sujud ini tidak terpenuhi maka shalatnya batal kecuali orang itu tidak mengetahui adanya syarat ini.

Nurdiansyah 12-02-2010- 11:12

Teman-teman, jangan lupa ya berkunjung ke blog Ta'limul Khitobah: http://tk305.blogspot.com/2010/02/kemuliaan-seorang-ibu.html

Akif Asyakur 05-02-2010- 20:32

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

---------------------
'Alaikum salam.

yudi 27-01-2010- 06:38

ٍSalam. Shalat fajar itu batasnya sampai jam berapa ataukah shalat ini melekat dengan shalat subuh seperti shalat kobliatal, terima kasih.

---------------------
'Alaikum salam.
Sebelumnya perlu diluruskan bahwa shalat fajar adalah shalat shubuh itu sendiri. sebagian masyarakat (seperti di Indonesia) lebih sering menggunakan istilah shalat shubuh, sedangkan sebagian masyarakat lain (seperti di Arab) sering menggunakan istilah shalat fajar.
Hal yang sama juga untuk istilah shalat sunnah sebelum shubuh. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan istilah shalat sunnah qabliyyah shubuh, sebagian lagi menyebutnya shalat sunnah fajar.
Kesimpulannya


  1. Shalat shubuh = shalat fajar.

  2. Shalat sunnah sebelum shubuh = dua rakaat sebelum shubuh = shalat sunnah qabliyyah shubuh = shalat sunnah fajar.


Dengan demikian pertanyaan batas akhir waktu shalat fajar terjawab dengan sendirinya. Lebih jelasnya, batas akhir waktu shalat fajar adalah batas akhir waktu shalat shubuh, atau lebih tepatnya ketika matahari terbit. Sementara waktu shalat sunnah fajar adalah waktu shalat shubuh itu sendiri hanya saja dilakukan sebelum shalat fajar.

Sutarno 25-01-2010- 17:53

Assalamu'alaikum. Matur nuwun sanget Ustadz,...

Sutarno 25-01-2010- 08:50

Assalamu'alaikum. Ustadz terimakasih atas jawabannya. Tapi saya masih mau penjelasan sedikit lagi. Ini memang benar-benar terjadi bahkan orang itu berada persis di shaf depan saya. Lalu bagaimana dengan pernyataan "jangan membela yang sunnah dengan meninggalkan yang wajib" seperti yang ustadz ajarkan? Sebelum saya tanya kepada Ustadz, saya punya pikiran dalam hati, apa gak sebaiknya makmum tersebut MUFARAQAH (memisahkan diri dari imam)? Nuwunsewu Ustadz, bukan bermaksud debat tapi saya hanya memastikan apa yang saya pikirkan itu betul apa nggak! Terimakasih dan mohon maaf.

---------------------
'Alaikum salam.
Prinsip "Jangan membela yang sunnah dengan meninggalkan yang wajib" dalam masalah bersangkutan berlaku hanya untuk imam atau orang yang shalat sendirian (munfarid). Dalam kasus yang bapak tanyakan, sebagai makmum, dia harus mengikuti gerak-gerik imam. Artinya ketika dia lupa bertasyahhud awwal sementara imamnya melakukan maka (meskipun dia sudah berdiri tegak) dia harus duduk kembali mengikuti posisi imam. Ini tidak berarti dia membela yang sunnah meninggalkan yang wajib, tetapi "membela yang wajib dengan meninggalkan yang wajib". Wajib yang pertama mengikuti gerak imam, sedangkan wajib yang kedua posisi berdiri tegak. Hal ini dibenarkan mengingat kesetaraan nilai wajib.
Apa yang bapak pikirkan sudah benar, bahwa jika dia ingin berjalan sendiri maka dia harus (bukan sebaiknya) mufaaraqah (memisahkan diri dari ikatan jamaah dengan imam bersangkutan). Meskipun demikian, mufaaraqah tidak dianjurkan, bukan pilihan yang ideal. Wallahu a'lam.

Sutarno 24-01-2010- 13:06

Assalamualaikum. Ustadz Faishol, saya mau tanya, makmum yang lupa tasyahhud awwal bagaimana solusinya? Terimakasih.

---------------------
'Alaikum salam.
Saya agak bingung dengan pertanyaannya. Bagaimana mungkin seorang makmum lupa melakukan tasyahhud awwal sementara dia -sebagai makmum- adalah orang yang selalu mengawasi dan mengikuti gerak imam?
Kecuali jika saya asumsikan makmum melamun dalam shalat dan ketika imam duduk tasyahhud awwal dia tidak sadar, lalu bangun berdiri sendirian (tanpa sadar). Jika ini yang terjadi maka dia wajib segera duduk mengikuti posisi imam saat itu.
Atau saya asumsikan dia ikut duduk tasyahhud bersama imam, hanya saja dia melamun sehingga lupa membaca bacaan tasyahhud awwal (bukan lupa duduknya). Jika ini yang terjadi maka setelah imam salam dia dapat melakukan sujud sahwi (2 kali). Wallahu a'lam.

yudi 20-01-2010- 07:13

Salam. Ada yang ketinggalan. Saya sedang mencari buku Mahfuzhat seri kedua yang terjemahan kira kira ada info enggak ya? Terimakasih.

---------------------
'Alaikum salam.
Mohon maaf, kami tidak punya info berkaitan.

yudi 20-01-2010- 07:10

Salam. Terima kasih sekali jabawannya. Semoga apa yang diberikan dalam setiap Pertanyaan yang ada begitu jelas dan detail semoga mendapat pahala yang setimpal, selalu Dimuliakan dan Dikasihi oleh Allah SWT, dan Alpontren semakin berkembang. Berkaitan dengan Dhuha kami lebih yakin dalam menetukan waktunya



© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210