BUKUTAMU
Print this page Generate PDF
Nama *
E-mail
Sisa karakter
Pesan *
This is a captcha-picture. It is used to prevent mass-access by robots. (see: www.captcha.net)
 

Pesan 61 s/d 75 ( Total pesan : 106)
yudi 18-01-2010- 06:30

Salam. Ustadz, mohon bantuan untuk mengetahui waktu paling awal memulai shalat dhuha, jam berapa ya? Atau pijakanya? Karena ada yang bilang 2 jam dari shalat subuh dimulai. Jika shalat subuh jam 05:30 apakah shalat dhuha bisa jam 07:30. Terimakasih.

---------------------
'Alaikum salam wr. wb.
Mengingat waktu shalat dhuha dikaitkan dengan pergerakan matahari dan waktu kemunculan matahari juga berbeda secara geografis, maka jawaban atas pertanyaan ’pukul berapa shalat dhuha mulai masuk’ akan beragam.
Pada intinya rentang waktu pelaksanaan shalat dhuha dimulai dari ketika matahari mulai naik tinggi hingga sesaat sebelum waktu zhuhur.

Dalam redaksi hadis, ketinggian matahari yang dimaksud ditentukan dengan ketinggian ”satu tombak” (qiid rumh). Dalam satuan unit modern, tinggi atau panjang ”satu tombak” yang dimaksud sama dengan ± 2,77 m.*

Secara astronomi, amatan mata telanjang di ketinggian 2,77 m sejajar dengan matahari menimbulkan perbedaan persepsi. Itu sebabnya mengapa tulisan-tulisan berkaitan -yang menjelaskan ketinggian ”satu tombak” secara astronomi- saling mengajukan nilai posisi matahari yang berbeda-beda. Di antaranya ada pakar yang mengatakan 3,5°, 4,5° dan 5° dari ufuk timur, di mana 1° (satu derajat) = 4 menit.

Dengan asumsi mengikuti pendapat 1 tombak = 3,5° maka waktu dhuha adalah 3,5 x 4 menit = 14 menit setelah matahari terbit (syuruuq). Namun karena perhitungan ini tidak bersifat pasti, hanya perkiraan semata maka sebaiknya ditambah (katakanlah) 2 menit sebagai waktu preventif yang fungsinya untuk memastikan, sehinggal total menjadi : 14 menit + 2 menit = 16 menit, terhitung sejak matahari terbit.

Beruntungnya, jadwal waktu shalat yang dijual di pasaran sekarang sudah menyertakan waktu terbit yang dikenal dengan istilah syuruuq. Di dunia maya data waktu syuruuq berdasarkan wilayah juga mudah diperoleh. Waktu syuruuq yang ada di dalam jadwal biasanya sudah memperhitungkan waktu preventif untuk syuruuq. Jadi masalahnya menjadi lebih mudah.
Dengan begitu waktu paling awal shalat dhuha atau waktu masuk shalat dhuha adalah :
Waktu syuruuq + 16 menit (asumsi ”setombak” = 3,5° + waktu preventif 2 menit) .
Ketika tulisan ini digarap (18 Januari 2010) waktu syuruuq dalam jadwal kami adalah : 05:50:13. Dengan demikian waktu shalat dhuha tanggal 18 Januari 2010 dimulai  pukul 05:50:13 + 16 menit = pukul 06.06:13. Wallahu a’lam.

* 1 rumh = 12 syibr, 1 syibr = 12 ushbu’, 1 (lebar) ushbu’= 1, 925 cm
1
rumh = 12 x 12 x 1,925 = 277,2 cm = 2, 772 m.
- Pendapat lain : 1 rumh = 7 dziraa’ =  7
x 46,2 cm (dziraa’ umum) = 323,4 cm = 3,234 m.
- Gambar ini diharapkan dapat lebih membantu.

Totok 15-01-2010- 01:11

Assalamualaikum wr.wb Gus... saya mempunyai dua masalah, 1. Keimanan saya pernah lebih baik dari sekarang. Saya mohon dibimbing untuk menjadi lebih baik. 2. Saya pernah memimpin pembacaan Yassin & tahlil dalam acara arisan warga di tempat saya atas permintaan jamaah karena ustadz yang biasa memimpin sedang sakit. Saya merasa ilmu saya  masih kurang, bagaimana hukum dan solusinya? Mohon bimbingannya. Terimamasih.

---------------------
'Alaikum salam wr. wb.
1. Setiap orang, siapa pun dia termasuk yang sedang menulis jawaban ini, pasti pernah mengalami hal yang sama. Sebab memang manusia berada di antara dua kubu, kubu kebaikan dan kubu keburukan, kubu kepatuhan dan kubu pembangkangan. Jadi apa yang Bapak alami adalah hal yang wajar, amat sangat wajar. Frekuensi keimanan tidak akan pernah stabil dan statis atau diam di satu titik. Itu adalah fakta yang benar-benar nyata Ia adakala naik dan adakala turun. Berdasarkan pemahaman para ulama terhadap beberapa ayat dan hadis, mereka menyimpulkan,

الإيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

"Iman itu dapat meningkat dan dapat berkurang (fluktuatif)."

Meskipun demikian, tetap saja harus ada usaha untuk selalu meningkatkan keimanan. Jika iman turun karena pembangkangan terhadap aturan Tuhan atau maksiat maka sebaliknya iman dapat bertambah dengan mematuhi aturan Tuhan atau taat.

Jadi pokok permasalahannya adalah bagaimana mengkondisikan diri untuk tetap taat?
Salah satu cara efektif untuk meningkatkan ketaatan adalah mengkondisikan diri berada dalam ”lingkungan yang sehat”. Misalnya, tidak berada di tempat-tempat maksiat, bersahabat hanya dengan orang  baik dan sebagainya. Di antara contoh ”pengkondisian” itu juga adalah apa yang dituturkan dalam nasyid islami berbahasa jawa yang konon adalah karya Sunan Bonang:
Tombo Ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

(Obat Hati ada lima hal
Yang pertama membaca Qur’an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perbanyaklah
)

”Pengkondisian” ini efektif untuk menjauhkan pikiran kita dari keinginanan yang ’bukan-bukan”. Meskipun diakui itu bukan satu-satunya cara mengingat godaan untuk tidak mematuhi aturan Tuhan juga sering muncul dari dalam diri kita sendiri (an nafs). Tetapi paling tidak ”pengkondisian” yang disebutkan di atas amat mempengaruhi frekuensi keimanan agar tetap bertahan atau bahkan meningkat.

2. Tidak ada aturan khusus untuk mereka yang memimpin bacaan Yasin atau tahlil. Berbeda dengan imam atau pemimpin shalat. Yang terakhir ini harus memenuhi beberapa kriteria yang tidak tepat untuk dijelaskan di sini. Hanya saja selayaknya mereka yang memimpin bacaan Al Qur`an adalah orang yang paling mengerti tentang tajwid di antara kumpulan jamaah yang bersangkutan. Kalau bapak merasa yang terbaik di antara mereka maka jangan ragu untuk maju, meskipun belum menguasai tajwid sepenuhnya. Intinya, terbaik di antara orang yang hadir. Bukan terbaik dalam pengertian menguasai seluruh ilmu tajwid.

tri wibowo 20-12-2009- 13:54

Assalamualaikum wr.wb Ustadz saya mau masuk pondok pesantren ustadz,mohon dibalas segera di email saya. Wassalamu'allaikum wr. wb.

Syam 18-11-2009- 18:59

Assalamualaikum. Ustadz saya mau bertanya apa sih arti salam dalam Islam yang lebih mendalam. Tolong balas ke email saya. Terimakasih. Wassalamu'alaikum

---------------------
Silakan klik sini

Yudi 11-11-2009- 19:12

Terima kasih Segenap Ustadz Pengasuh Situs Alpontren. Jawaban yang kami sangat butuhkan akhirnya kami dapatkan. Sangat cepat Responnya. Semoga semua kebaikan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah swt. Semoga media ini selalu bermanfaat buat umat dan bagi siapa saja yang membutuhkan, sekali lagi terima kasih. Hormat kami ---Yudi---

yudi 11-11-2009- 07:09

Ustadz, mau nanya nih berkaitan dengan sunah dan rukunnya merawat bayi yang meninggal dalam kandungan sebelum 4 bulan.

Pertanyaannya

  1. Apakah ruh sudah ditiupkan?

  2. Di dalam kandungan janinpun bergerak gerak apakah berarti sudah ada nyawanya?

  3. Apakah perlakukannya sama seperti orang yang sudah meninggal seperti: dikubur di pemakaman umum/ diberi nama bayinya/ dikirimin doa?

  4. Ataukah memang mereka masih hidup di alam Yang lain dan layak dimintakan doanya?

Terima kasih atas bantuan jawabannya.

---------------------
Pertama kali kami ingin mengucapkan ikut berduka. Semoga Allah memberikan penggantinya yang lebih baik.

Jawaban





  1. عن أبي عبد الرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ فِي أَرْبَعِينَ يَوْمًا ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ ، فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ : رِزْقِهِ ، وَأَجَلِهِ ، وَعَمَلِهِ ، وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ ... الحديث (رواه البخاري ومسلم)

    Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. Dia mengatakan, Rasulullah saw menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya masing-masing kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian satu malaikat dikirim kepadanya, lalu ditiupkan ruh padanya dan diperntahkan untuk mencatat empat hal berkaitannya dengannya, yaitu tentang rejekinya, waktu kematiannya, aktifitasnya, dan apakah dia orang yang celaka atau bahagia (di akhiratnya) … " (bersambung).
    Apa adanya hadis ini menunjukkan bahwa masa peniupan ruh adalah setelah 3 fase x 40 hari berlalu. Atau tepatnya setelah 120 hari.

  2. Pergerakan janin dalam kandungan (sebelum usia 4 bulan) belum tentu artinya ia hidup. Berdasarkan keyakinan agama, pemberian ruh (yang menjadi inti kehidupan) adalah setelah janin berusia 120 hari. Berbeda dengan gerakan setelah 120 hari, baik di dalam maupun di luar kandungan. Yang terakhir ini baru dapat diartikan sebagai indikasi hidup.

  3. Perlakuannya berbeda. Tidak dimandikan (kecuali sudah berbentuk manusia), tidak dishalati. Hanya dibungkus dengan kain dan dikuburkan. Penguburan tidak harus di pemakaman (muslim) umum. Tidak perlu diberi nama juga doa.

  4. Tidak perlu. Janin dengan kondisi seperti yang ditanyakan dinilai tidak pernah eksis.

Wallahu A'lam

nurdiansyah 09-11-2009- 12:18

Buat teman-teman AL, Ta'limul Khithobah sudah memiliki blog baru untuk informasi dan update aktifitas Ta'limul Khithobah. Buka aja blognya di alamat : www.tk305.blogspot.com

Abdul Rozaq 03-11-2009- 15:48

Semoga AL MUTA'ALLIMIN PENUH dengan KEBERKAHAN

Bintu Sudarma 27-10-2009- 17:56

Buat teman-teman di kelas 1 Aliyah tetap semangat, ya. Insya Allah aku akan gabung lagi belajar sama kalian.

yudi 18-10-2009- 11:21

Ustads, maaf bisa nggak tolong dibantu pembagian jurusan keilmuan dalam islam, misalnya ada ilmu falak, tata bahasa dan apa lagi katanya sih 12 emang benar dan apa saja

---------------------
Sebuah artikel berkaitan telah dilampirkan ke email Mas di triwahyudi_jkt[at]yahoo.com. Yang terpenting dari segalanya adalah memahami epistemologinya dulu (metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan). Dari sana baru bisa berlanjut ke klasifikasi. Tidak hanya klasifikasi disiplin ilmu dalam Islam, tetapi juga posisi disiplin ilmu-ilmu Islam di antara ilmu-ilmu lain secara umum.

yudi 28-09-2009- 16:37

1) minta dibantu pembagian ilmu dalam islam apa saja.... 2) kitab tentang membahas masalah rizqi mungkin tau judulnya.. makasih.

---------------------


  1. Ada buku terjemahan yang menarik berkaitan dengan pertanyaan no. 1, judulnya "Pengantar Ilmu-ilmu Islam", karya Murtadha Muthahhari (1919-1979), seorang ulama Iran yang cukup terkenal. Lepas dari ke-syiah-annya, buku ini layak dibaca.

  2. Buku-buku yang membahas tentang rizqi cukup banyak dan mudah diperoleh di toko-toko buku. hanya saja, kadang-kadang miskin dari sudut kualitas pengalihan ke bahasa Indonesia.

tholib 27-08-2009- 15:14

afwan ... soalnya bnyk yg melakukan sprt itu seprti yg terjadi d msjd2 besar yg ad d jkt. ktk mlm hr mrk melakukan shlt 8 + witr 3. pdhl ktk trwh mrk sdh mlkanny...

tholib 27-08-2009- 02:25

Al imam Abu Dawud meriwayatkan "La witrani fi Laylah" (Sunan Abu Dawud. j.2 hal.67). Pertanyaannya: setelah tarawih kita melakukan witir, namun ketika bangun malam melaksanakan shalat witr lagi sebanyak 11 rakaat di masjid. Apakah shlt witr yg kedua ini tdk diperhitungkan? atau bagaimana? Tradisi shalat witr berjamaah di tengah malam biasanya diadakan di masjid pada 10 hari Ramadhan yang ketiga. Terimakasih.

---------------------

Berdasarkan hadis tersebut, shalat witr hanya satu kali dalam satu malam. Mereka yang hendak melakukan shalat witr lagi di tengah malam setelah sebelumnya melakukan shalat  tarawih dan witr bersama imam dapat menyiasatinya dengan cara berikut:
Dia dapat mengikuti imam melakukan shalat witr sebanyak tiga rakaat (2+1). Hanya saja saat imam melakukan yang satu rakaat, tepatnya ketika imam salam dia langsung berdiri (tidak ikut salam) dan menambah satu rakaat. Dengan demikian dia melakukan shalat witr sebanyak 4 rakaat (2+2).
Di tengah malam, ketika dia bangun dia dapat menambah shalat witrnya -yang tadi sudah 4 rakaat- dengan jumlah rakaat ganjil yang dia inginkan.
Cara seperti ini dalam literatur fiqh dikenal dengan istilah naqdh al witr.
Termasuk naqdh al witr adalah: Dia ikut shalat witr tiga rakaat bersama imam. Ketika bangun malam, dia melakukan shalat witr satu rakaat dulu (fungsinya merusak jumlah witr sebelumnya). Sampai sini dia sudah melakukannya 4 rakaat (2+1+1). Selanjutnya dia dapat menambahnya dengan jumlah rakaat ganjil yang dia inginkan. Beberapa ulama tidak setuju dengan cara ini. Bahkan Ummul Mu'minin Aisyah RA menilainya sebagai "bermain-main dengan shalat witr".
Untuk itu, pendapat yang paling aman adalah menunda shalat witr bersama imam setelah shalat tarawih jika memang berniat melakukannya di tengah malam.
Sementara jika sudah terlanjur melakukannya bersama imam, maka di tengah malam dia tidak dapat melakukan shalat witr lagi berdasarkan hadis di atas meskipun dia tetap bisa melakukan shalat sunnah lainnya (selain witr tentunya). Biar bagaimanapun perbedaan pendapat ini tetap eksis. Wallahu A'lam

tholib 25-08-2009- 02:05

Dalam kitab Ta'lim al Muta'allim karya syaikh Az Zarnuji diterangkan bahwa manusia yang berilmu dan beramal dimuliakan Allah daripada semua makhluk. Bagaimana dengan  jin? Bukankah mereka juga berilmu dan beramal, bahkan juga berdakwah kepada kaumnya (QS. Al Jinn, 1-2). Mereka juga ada yang beriman dan ada juga yang tidak (QS. Al Jinn, 11). Bahkan ketika Rasul terluka akibat ulah masyarakat Thaif, jin juga mendengar bacaan Al Qur`an Rasul (Nurul Yaqin lil Khudhari, hal. 56). Artinya mereka juga belajar. Apakah kedudukan mereka juga sama seperti manusia?

---------------------

Allah swt berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاًِ (الإسراء: 70)

Kriterianya adalah jenis makhluk, bukan per individunya.
Lalu apa penyebab takrim (pemuliaan) atau pengutamaan Allah terhadap Bani Adam?
Para mufassir berbeda pendapat. Az Zarnuji condong memilih bahwa pemuliaan tersebut karena keilmuan dan amal, tanpa menafikan bahwa ada mahluk lain juga berilmu dan beramal. Hanya saja jenis manusia mempunyai keunggulan dalam dua hal tersebut. Wallahu A'lam.

tholib 25-08-2009- 01:34

Saya pernah mendengar keterangan sebuah hadis : siapa yg memberi makan orang yang berbuka maka ia mendapat pahala seperti orang tersebut -aw kamaa qoola rasulullah. masalahnya saya pernah memberikan makanan untuk berbuka puasa ke suatu pesantren  tetapi saya lihat dimakan oleh santri pada malam hari, bukan pada saat buka. Apakah saya tetap mendapat pahala seperti keterangan hadis?
---------------------

Redaksi hadis yang dimaksud adalah

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا. قال أبو عيسى (الترمذي) هذا حديث حسن صحيح

(Abu Isa At Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi, j.3, hal, 171)

Berikut kami kutip keterangan Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri saat menjelaskan hadis riwayat At Tirmidzi tersebut

( باب ما جاء في فضل من فطر صائما ) [ 807 ] قوله ( من فطر صائما ) قال بن الملك التفطير جعل أحد مفطرا أي من أطعم صائما انتهى قال القارىء أي عند إفطاره ( كان له ) أي لمن فطر ( مثل أجره ) أي الصائم ...

(Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi bi Syarhil Jaami' At Tirmidzi, j.3, hal. 448)

Dalam keterangannya, Al Mubarakfuri mengutip pendapat Al Qari yang mengatakan bahwa pahala yang dimaksud adalah untuk mereka yang memberi makan orang yang berpuasa saat bukanya. Wallahu A'lam.



© Hakcipta 2008-2017 - Pesantren Al Muta'allimin, Jakarta 12210