Pesantren Al Muta'allimin

معهد المتعلمين لخدمة العلوم الشرعية

Dirintis sejak tahun 1970, dimulai dengan pendidikan belajar membaca Al-Qur`an yang diasuh oleh almarhum K.H. Zainuddin Abrori, yang juga pendiri sekaligus pewakaf Pesantren Al Muta’allimin ... Selengkapnya

Pesantren Al Muta'allimin dirintis dengan tujuan memberikan keragaman model pendidikan pesantren, di mana salah satu modelnya adalah konsentrasi pada kajian disiplin ilmu keislaman ... Selengkapnya

Artikel Terbaru

Urgensi Pendidikan Keagamaan bagi Anak dan Remaja dalam Bingkai Eksistensi Pesantren

Urgensi Pendidikan Keagamaan bagi Anak dan Remaja dalam Bingkai Eksistensi Pesantren

Di Indonesia, pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk kepribadian melalui tradisi, teladan, dan kehidupan sehari-hari. Pesantren bukan sekadar institusi, tetapi ekosistem pendidikan, yaitu lingkungan yang seluruh elemennya mendukung pembinaan moral, spiritual, dan sosial secara terintegrasi. Artikel ini menguraikan urgensi pendidikan keagamaan dan posisi strategis pesantren dalam mendukung perkembangan anak dan remaja, sekaligus membahas peran pemerintah dalam memperkuat kontribusi pesantren bagi bangsa.

Surah Al-Ikhlas: Mengurai Makna “Sepertiga Al-Qur`an”

Surah Al-Ikhlas: Mengurai Makna “Sepertiga Al-Qur`an”

Surat Qul Huwallahu Ahad (al-Ikhlash) adalah salah satu surat—yang masuk dalam kategori terpendek dalam al-Qur`an—memiliki kedudukan yang sangat agung. Dalam sejumlah hadis sahih, Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa membaca surat ini setara dengan membaca sepertiga al-Qur`an dalam hal pahala. Namun, untuk menutup potensi salah memahami hadis ini sehingga beranggapan bahwa membaca al-Ikhlash tiga kali bisa menggantikan membaca seluruh al-Qur`an, artikel ini akan menjelaskan hadis-hadis tersebut, maknanya, dan perbedaan penting antara pahala dan kecukupan yang diperlukan (ijza`).

Insya Allah: Antara Rencana Manusia dan Kedaulatan Tuhan

Insya Allah: Antara Rencana Manusia dan Kedaulatan Tuhan

Seberapa sering kita mengucapkan “Insya Allah” hanya sebagai basa-basi pergaulan? Di masa kini, kalimat yang begitu agung ini kerap tereduksi maknanya. Ia seringkali berubah menjadi tameng halus saat kita ragu menepati janji, atau sekadar cara sopan untuk mengatakan “mungkin” tanpa beban komitmen. Tahukah Anda bahwa ribuan tahun lalu, terlewatnya kalimat ini pernah memicu sebuah drama besar di kota Mekkah? Sebuah peristiwa yang membuat wahyu tertahan, menimbulkan kecemasan mendalam pada diri Nabi Muhammad saw., dan menjadi berhubungan erat dengan sebab turun surat al-Kahfi. Kisah di balik surat ini menampar kesadaran kita, bahwa “Insya Allah” bukanlah pelarian dari ketidakyakinan, basa-basi religius, atau keraguan atas suatu rencana, melainkan sebuah pengakuan paling fundamental tentang siapa penguasa hari esok yang sebenarnya.

Catatan atas Syarah Tashawwuf terhadap Matn Abi Syuja’

Catatan atas Syarah Tashawwuf terhadap Matn Abi Syuja’

Pagi ini saya terima sebuah buku yang saya nilai “unik”: sebuah syarh atas Matn Abi Syuja’. Matn Abi Syuja’ sendiri (juga dikenal dengan nama Matn al-Taqrib) adalah sebuah buku fikih ringkas yang sangat populer di lingkungan madrasah fiqh Syafi’iyyah, khususnya … Selengkapnya …

Membedah Tiga Karakter Nabi Ibrahim dalam QS. Hud: 75

Membedah Tiga Karakter Nabi Ibrahim dalam QS. Hud: 75

Tiga karakter Khalilullah Ibrahim as. yang adalah paket lengkap bagi siapa saja yang ingin membangun kepribadian yang utuh. Halim menjaga kita agar tidak hancur oleh emosi, awwah menjaga kita agar tidak kering dari empati, dan munib menjaga kita agar tidak tersesat dari tujuan hidup.

Ibnu Salul Akhirnya Mati

Ibnu Salul Akhirnya Mati

Perang Tabuk (Rajab tahun 9 Hijriyyah) adalah ekspedisi militer terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. sebelum wafatnya beliau. Secara singkat, alur waktunya adalah: Tahun 9 H: Dikenal sebagai ‘Am al-Wufud (Tahun Delegasi), karena fokus Nabi saw. beralih dari ekspedisi … Selengkapnya …

Statistik Santri

1443/1444 H
1444/1445 H
1445/1446 H

Statistik 1446/1447 H

santri
Putra
santri
Putri

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia adalah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, kecuali Dia adalah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang atau lebih banyak dari itu melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana saja mereka berada. (Q.S. Al-Mujadilah, 7)