Invisible Hand (اليد الخفية)

Invisible Hand (اليد الخفية)

Setiap kali saya membaca al-Qur’an ayat 38, surat al-An’am “… Kami tidak mengalpakan apapun dalam al-Kitab (al-Qur`an)”, saya merasakan kehebatan agama kita dan membuat saya semakin percaya bahwa ia adalah adalah buku yang memuat segalanya, apa yang sudah dan akan terjadi. Namun kita memerlukan semacam pencerahan dari Allah untuk membuktikan kandungan ilmu dan pengetahuan yang bertebaran di balik ayat-ayatnya.

Sudah menjadi keyakinan yang terbukti bahwa al-Qur`an datang dengan membawa norma-norma metodologis yang menentukan arah kehidupan secara tepat. Al-Qur`an membiarkan manusia melakukan inovasi, kreativitas, penemuan, dan aplikasinya. Al-Qur`an (hanya) menekankan pentingnya belajar atau usaha untuk memperoleh pengetahuan. Untuk itu, kepada mereka yang mencari aplikasi keilmuan atau penemuan yang bersifat teknis dalam Al-Qur`an kami mengatakan, “Anda tidak akan pernah menemukannya. Yang anda temukan adalah norma-norma yang menjadi asas bagi seluruh ilmu pengetahuan. Dan di sinilah rahasia kemukjizatan Al-Qur`an.”

Di antara penemuan para ilmuwan dan para pemikir yang paling menonjol dalam bidang ekonomi adalah teori penawaran dan permintaan yang berdiri di atas sebuah istilah metaforis, yang dikemukakan oleh seorang pakar sosio ekonomi Adam Smith, perintis sub-bidang ekonomi yang berkonsentrasi pada perilaku entitas secara individual. Istilah metaforis tersebut adalah Tangan Tersembunyi atau Invisible Hand. Istilah ini melambangkan bahwa aktifitas ekonomi dalam sistem keuangan pasar dikendalikan dan dipelihara oleh keseimbangan kepentingan, tanpa pengaturan sebelumnya atau tanpa koordinasi antara pelaku di pasar. Semuanya berjalan begitu saja di bawah satu motif yaitu merealisasikan kepentingan (pribadi atau kelompok. Penj). Tidak ada motif lain.

Pembuat roti tidak memproduksi roti dengan motif memberi makan orang miskin, melainkan untuk kepentingan sendiri. Pembeli roti juga tidak membeli roti dengan motif memberi keuntungan kepada pembuatnya, tetapi didasari oleh keinginan memenuhi hajatnya sendiri.

Demikian semua manusia berinteraksi dan bertindak sesuai dengan kepentingan mereka tanpa mengetahui atau mempedulikan siapa yang akan menjadi mitra, pembantu dan penerima manfaat (atas apa yang dilakukannya). Bahkan dia tidak tahu apakah dia akan menangguk untung atau rugi serta tidak tahu bagaimana kondisinya di masa depan, apakah sejahtera atau menderita.

Teori Tangan Tersembunyi (sebagian orang menyebutnya Tangan Tuhan. Penj) ini berteman setia dengan konsep monopoli dan konsep produksi berdasarkan kelas-kelas tertentu. Ia juga berteman setia dengan konsep kelangkaan sumber daya alam dan konsep efisiensi sumber daya alam, maksudnya penggunaan sumber daya alam yang bersifat ekonomis dengan cara yang paling efisien. Dengan konsep-konsep ini, akibatnya banyak segmen masyarakat yang tidak dapat ikut menikmati sumber daya alam karena ia hanya dikhususkan untuk kategori masyarakat tertentu. Dengan dalih kelangkaan, harga barang naik dan barang sulit didapat.

Sumber daya alam menjadi terbatas untuk kelompok masyarakat tertentu yang umumnya adalah kalangan atas. Teori penawaran dan permintaan menjadi terbagi berdasarkan klasifikasi kelompok masyarakat, bukan penawaran dan permintaan dalam arti umum.

Pada akhirnya semua ini menimbulkan fenomena sosial yang berbahaya seperti menyebarnya kebencian, rasa iri, dendam, dengki, marah. Ini dikarenakan konsep Tangan Tersembunyi -secara implisit- memberi hak kepada “kepentingan” untuk berbuat apa saja demi mencapai keuntungan apapun.

“Kepentingan” dapat melakukan monopoli, penimbunan, menipu, menaikkan harga, mengontrol kebutuhan konsumen dan pembeli. Kondisi inilah yang kita alami di pasar-pasar kita (muslimin) dan pasar-pasar mereka. Kita mengalami masalah harga tinggi, monopoli, penipuan dan kebohongan. Semua ini merupakan implementasi dari satu kata, yaitu KEPENTINGAN. Kata ini adalah rahasia dari konsep invisible hand. Kepentingan menjadi semacam penggiling tepung yang menggiling apa saja yang ditemuinya tanpa membedakan. Tidak ada batasan. Semua ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations, “Kita tidak berharap mendapatkan makan malam karena niat baik tukang daging atau tukang roti, tetapi karena kepedulian mereka terhadap kepentingan mereka sendiri.”

Kepentingan pribadi ini yang dimaksud oleh Adam Smith sebagai Tangan Tersembunyi. Kepentingan pribadi yang tidak memiliki sekat atau batasan sehingga (pada akhirnya) menimbulkan krisis keuangan dan bencana ekonomi.

Setelah lebih dari dua abad kita meyakini dan mengimani istilah Tangan Tersembunyi ini, kami ingin mengatakan kepada mereka yang –selama ini- meyakini al-Qur`an tidak memiliki solusi terkait ekonomi pasar bahwa, norma-norma metodologis qur`ani menyentuh teori penawaran dan permintaan. Norma-norma itu meletakkan sebuah titik tumpu untuk teori tersebut dan batasan-batasannya, sehingga dapat mengisi setiap lubang dan mengisi kekosongan (kelemahan teori) di masa sekarang, masa lalu dan masa depan.

Titik tumpu teori penawaran dan permintaan tercermin dalam surat ath-Thalaaq, ayat 2-3, “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menyediakan jalan keluar atau solusi dan akan memberinya rizki dengan cara tak terduga.” Sedangkan batasan qur`ani terhadap teori tersebut adalah al-Baqarah, ayat 188, “Jangan kalian makan harta kalian di antara kalian dengan cara yang salah.”

Titik tumpu teori permintaan dan penawaran –menurut pendekatan qur`ani– menjelaskan bahwa takwa atau kesalehan merupakan kapal penyelamat dari bencana dan krisis karena Allah menghubungkaitkan ketakwaan / kesalehan dengan solusi dan rizqi. Kuncinya –dalam pendekatan qur`ani– adalah takwa. Sedangkan menurut pendekatan Smith, kepentingan-lah yang mengantarkan kita kepada solusi. Jadi kepentingan-lah yang mendatangkan rizki.

Batasan teori penawaran dan permintaan menurut kita –muslimin– adalah ayat “Jangan makan harta kalian di antara kalian dengan cara yang salah”. Ayat ini menafikan cara-cara yang bertentangan konsep kesalehan sepetti memakan riba, monopoli, penipuan dan tindakan lain yang bertentangan dengan kesalehan.

Dengan begitu, al-Qur’an telah menggariskan kebijakan umum ekonomi pasar berdasarkan teori penawaran dan permintaan seribu tahun lebih sebelum Adam Smith. Kebijakan ini efektif, terbukti, dan komprehensif tanpa diragukan lagi dan tidak memerlukan modifikasi.

Tangan Tersembunyi, bagi kita adalah takwa atau kesalehan yang dapat menyelamatkan dari krisis. Ia adalah sumber rizki kita meskipun kita tidak mengetahui bagaimana Allah mengatur mekanismenya. Seluruh instrumen yang mendatangkan rizki dan hidayah diatur sedemikian rupa oleh Allah tanpa kita ketahui sebelumnya, tanpa koordinasi. Semuanya ada sebab kasih sayang Allah dan welas asih-Nya kepada kita. Seakan-akan Dia berkata kepada kita, “Tidak ada balasan atas kebaikan (baca ; kesalehan. Penj) kecuali kebaikan yang lain (baca: rizki).” (Lihat surat ar-Rahman, ayat 60. Penj)

Sementara Tangan Tersembunyi bagi mereka adalah kepentingan pribadi atau kelompok.

Sedangkan batasan atau sekat teori Tangan Tersembunyi (bagi kita) adalah tidak memakan harta orang lain dengan cara yang salah atau bathil, melanggar hak orang lain, serta mengeksploitasi kebutuhan dan kelemahan mereka. Hal ini terbalik dengan mereka. Bagi mereka, semuanya diizinkan selama menghasilkan keuntungan.

Tujuan dari artikel ini bukan untuk memperindah ekonomi Islam dan memburuk-burukkan kapitalisme, tetapi untuk menunjukkan kepada mereka yang skeptis bahwa al-Qur’an –menurut mereka– tidak memberikan solusi bagi sistem ekonomi pasar atau tidak mengajukan teori-teori ilmiah. Saya ingin katakan kepada mereka bahwa Al Qur`an turun dengan membawa potensi yang melebihi potensi seluruh pakar dan pemikir perekonomian. Hanya saja diperlukan kecerdasan akal dan hati yang bersih untuk merenungi dan memahaminya.

_________________________________
Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari artikel di http://albaitalkuwaiti.wordpress.com. Penerjemah M Faishol.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak bermaksud agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dia lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan (dan) Yang sangat kokoh. (Q.S. Adz-Daariyat, 56-58)