Masihkah Rasulullah Memerlukan Shalawat Kita (?)

Kepentingan Rasulullah di Balik Shalawat Untuknya(?)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب 56)

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Pertama, penulis ingin menyatakan bahwa ungkapan shalawat (permohonan kasih sayang Tuhan) oleh kita untuk beliau tidak bisa dipahami bahwa beliau memerlukan itu. Bahkan, shalawat para malaikat pun menjadi tidak penting bagi beliau. Apa sih arti shalawat para Malaikat untuk beliau jika Allah sendiri sudah menyatakan shalawat-Nya. Bukankah yang terakhir ini sudah amat sangat lebih dari cukup untuk kepentingan beliau.

Perintah Allah untuk bershalawat kepada NabiNya sama halnya dengan perintah Allah kepada manusia agar mengingatNya. Apa untungnya bagi Allah subhanah bila manusia mengingatNya? Allah tidak memerlukan itu.

Perintah Allah agar manusia “mengingat-Nya” -sama sekali- tidak bisa dipahami bahwa Allah sedang mencari kepentingan dari hambaNya. Sebaliknya, perintah semacam ini justru dikeluarkan untuk kebaikan/kepentingan manusia sendiri.

Alasan dari perintah Allah, “Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingat kalian.” dapat dilihat di kalimat terakhir. Kalimat “maka Aku akan mengingat kalian” menunjukkan bahwa perintah “mengingat Allah” berkaitan dengan kepentingan manusia, bukan kepentingan Allah. Seakan-akan Allah ingin bilang, “Kamu mau Aku ingat (baca: Aku sayang)?” Kalau mau ya ingatlah Aku!

Demikian halnya saat Allah memerintahkan kita bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Alasan efektifnya adalah perintah mengagungkan sosok Rasulullah SAW, bukan mendoakannya (meski shalawat dari sisi etimologi artinya “mendoakan baik”).

Di sisi lain, pada akhirnya perintah Allah bershalawat ini kemudian menjadi urusan/hubungan manusia dengan Allah, Tuhannya, sehingga sama sekali tidak terkait dengan kepentingan Rasulullah SAW sendiri.

Sabda beliau “Siapa yang bershalawat  untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali ” menggambarkan hubungan yang sebenarnya di balik perintah shalawat, yaitu hubungan antara manusia yang bershalawat dengan Allah. Dari hubungan ini, ujung-ujungnya manusia yang diuntungkan, bukan Rasulullah SAW.

Pengagungan Allah (sampai sepuluh kali) kepada mereka yang bershalawat kepada RasulNya adalah puncak tertinggi keinginan orang yang beriman. Tidak ada lagi keinginan yang tertinggi di atas itu. Siapa sih yang tidak mau dishalawatkan (baca: dicucuri rahmah) oleh Allah, apalagi hingga berkali-kali.

Untuk itu, katakan Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, satu kali saja, maka Allah, Raja Diraja, Pengelola Alam Semesta mengagungkan anda sepuluh kali lipat. Dan pengagungan ini sudah cukup dibandingkan dunia dan segala isi kekayaannya karena kemudian cucuran rahmah dari Allah mengalir terus menerus kepada kita selama kita selalu membaca shalawat untuk NabiNya. Apakah ada yang lebih indah dari rahmah Allah kepada seorang hamba? Pada akhirnya, urusan shalawat menjadi urusan hubungan antar pembacanya dengan Tuhannya. Dalam konteks ini, tidak berlebihan jika dikatakan justru muslim pembacanya yang lebih banyak diuntungkan daripada NabiNya.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak bermaksud agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dia lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan (dan) Yang sangat kokoh. (Q.S. Adz-Daariyat, 56-58)