Membaca al-Barzanjiy

Membaca al-Barzanjiy

إن خير أيامكم يوم الجمعة فأكثروا عليّ من الصلاة فيه

Shalawat al-Banzanjiy yang sering dibaca -biasanya di malam Selasa atau malam Jum’at dalam tradisi pesantren salaf (tradisional), pada dasarnya bukan buku yang secara khusus berisi shalawat. Buku yang judul aslinya ‘Uqad al- Jawhar fii Mawlid an-Nabiyy al-Azhar ini adalah salah satu buku biografi ringkas Rasulullah –kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya– yang dikarang dalam bentuk prosa maupun puisi dengan pemilihan kata yang teliti sehingga menghasilkan karya sastra yang indah.

Penulis Al Barzanjiy (‘Uqad al-Jawhar)

Buku ini ditulis oleh seorang ulama dari garis syarif (generasi ke-27) bernama Ja’far bin Hasan. Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 1126 H / 1714 M (sebagian informasi menyebutkan, 1128 H) dan wafat tahun 1177 H / 1764 M.

Penamaan Barzanjiغ terkait dengan asal muasal kakek moyangnya yang berasal dari Barzanjah, sebuah wilayah di Bilad al-Akrad (sekarang Kurdistan). Di Madinah era itu, para tokoh keturunan (marga) al-Barzanjiy amat disegani karena -di samping faktor darah biru- juga karena intelektualitas mereka.

Di usia 31 tahun (1159 H), Ja’far mulai mengajar di Masjid Nabawi. Beliau terkenal sebagai ulama pemberi nasihat dan amat baik dalam menyampaikannya pendapatnya dalam perdebatan ilmiah. Tidak dijelaskan sejak kapan, yang pasti beliau menduduki posisi mufti Madinah (untuk mazhhab Syafi’i) hingga akhir hayatnya.

Posisi mufti yang sama sebelumnya sudah dipegang oleh para ulama keturunan al-Barzanjiy, bermula sejak buyutnya yang bernama Muhammad bin Rasul al-Banzanjiy (wafat 1103 H / ± 1691 M), salah satu generasi pertama komunitas al-Barzanjiy di Madinah  hingga Muhammad Zakiy bin Ahmad al-Barzanjiy (wafat 1365 / 1945 M). Jadi sekitar sekitar 3 (tiga) abad keluarga marga al-Barzanjiy memegang posisi mufti di Madinah. Tokoh kita ini –penulis buku Mawlid Al Barzanjiy– Ja’far bin Hasan dikarunia seorang putri bernama Hafshah, hasil pernikahannya dengan Khadijah binti Umar yang juga bermarga al-Barzanjiy.

Membaca Al Barzanjiy bukan ibadah

Penyebutan yang benar bukan shalawat al-berjanzen, tetapi ‘Uqad al-Jawhar fi Mawlid an-Nabiy al-Azhar (Untaian Mutiara yang berisi Kisah Kelahiran Nabi yang Bersinar).

Tidak ada pahala bagi yang membaca buku ini jika yang dimaksud adalah pahala ibadah layaknya membaca al-Qur`an. Satu-satunya kitab di dunia ini yang membacanya dinilai sebagai ibadah adalah Kitab Suci al-Qur`an, meskipun si pembaca tidak memahami isinya.

Meski demikian, terbuka kemungkinan perolehan pahala jika dikaitkan dengan membaca buku ‘Uqad al-Jawhar dari sisi-sisi berikut:

  1. Adanya bacaan shalawat yang secara umum memang dianjurkan oleh Allah.
  2. Memahami sejarah Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) .
  3. Konsekuensi dari yang kedua, yaitu munculnya rasa cinta kepada Rasulullah –kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya.

Perlu digarisbawahi bahwa untuk memperoleh pahala sebagaimana yang tersebut pada no. 2 dan no.3 tidak terbatas pada membaca buku ‘Uqad al-Jawhar, tetapi juga pada membaca seluruh buku biografi Rasulullah –kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya– yang lain, termasuk yang berbahasa Indonesia. Meskipun faktanya pembacaan ‘Uqad al-Jawhar yang menjadi menjadi tren di Pesantren kami dan menjadi aktifitas rutin malam Jum’at.

Tidak ada motif lain dalam pemilihan waktu malam Jum’at kecuali karena pada malam ini aktifitas Pesantren libur dan untuk itu kami mengisinya dengan membaca ‘Uqad al-Jawhar. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan membaca al-Barzanjiy (‘Uqad al-Jawhar). Yang salah adalah membiasakan membacanya dan tidak membiasakan membaca al-Qur`an. Kita harus mengakui dan menyakini bahwa tidak ada buku (baca: kitab) yang lebih baik daripada al-Qur`an mengingat kapasitasnya sebagai firman Allah subhanah. Itu sebabnya membaca al-Qur`an saja (bahkan tanpa memahaminya) –oleh para ulama– sudah dianggap sebagai ibadah yang berdiri sendiri (mustaqillah). Karakter seperti ini tidak berlaku untuk buku-buku lain, termasuk buku-buku hadis shahih, apalagi ‘Uqad al-Jawhar. Maksudnya, kalaupun kita mendapat pahala dari membaca buku hadis maka pahala itu diperoleh karena faktor belajarnya, bukan karena membacanya karena membaca buku hadis bukan merupakan ibadah yang berdiri sendiri.

Untuk itu, tidak ada unsur ibadah dalam aktifitas membaca al-Barzanjiy (‘Uqad al-Jawhar) dan jangan pernah mengatakan aktifitas tersebut sebagai ibadah. Membaca al-Barzanjiy lebih tepat disebut sebagai bagian dari aktifitas pendidikan, baik pendidikan pemahaman maupun pendidikan ruhani yang mengantarkan kita kepada cinta Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya). Cinta yang dimaksud di sini adalah cinta dalam semua levelnya, dari cinta kelas dasar hingga cinta sejati. Cinta kelas dasar bisa dilihat dari munculnya rasa marah saat orang yang kita cintai dihina, menangis sentimentil ketika orang yang ketika cintai disebut-sebut namanya, apalagi dengan nada yang syahdu. Sementara cinta yang sejati terimplementasi dalam bentuk mengikuti semua arahannya dan menghindari semua yang tidak disukainya.

Membaca ‘Uqadul Jawhar tidak sesat

Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa membaca al-Barzanjiy adalah bid’ah yang sesat. Pembacaan al-Barzanjiy atau sirah lainnya yang senada tidak ada bedanya dengan aktifitas membaca sirah atau biografi Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) dalam bahasa apapun. Tentu tidak ada satu pun di antara kita yang mengatakan bid’ah sesat karena membaca biografi beliau (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya).

Sekali lagi, membaca al-Barzanjiy (‘Uqadul Jawhar) bukanlah sebuah aktifitas ibadah mahdhah. Dan karena itu tidak ada timing (ketentuan waktu) kapan ia selayaknya dibaca. Terkait dengan aktifitas Pesantren, saya lebih suka menyebutnya sebagai bentuk aktifitas sosial dan pendidikan. Tepatnya mendidik mereka untuk belajar mencintai Rasulullah (kasih sayang keagungan serta kedamaian untuknya) meskipun dalam level cinta yang paling dasar sekalipun. Saya suka melihat santri-santri kecil itu dengan bersemangat membaca shalawat untuk Rasul-Nya diiringi tabuhan hadhrah. Ada kesejukan dan ada keberkahan di sana yang menyinari mereka. Keberkahan dari lantunan shalawat untuk Rasul-Nya, Habib-Nya. Tentu saja bukan keberkahan dari ustadznya.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak bermaksud agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dia lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan (dan) Yang sangat kokoh. (Q.S. Adz-Daariyat, 56-58)