Pemuliaan Guru

Pemuliaan Guru

Dalam perjalanan hijrah, tepatnya dalam perjalanan menuju gua Tsur, Abu Bakr RA kadang-kadang berjalan di depan Nabi SAW, di kesempatan lain –kadang-kadang– berjalan di belakang beliau SAW

Ketika Rasulullah SAW menyadari hal itu, beliau SAW bertanya, “Wahai Abu Bakr, mengapa kamu kadang-kadang berjalan di depan saya, lalu kadang-kadang di belakang saya?”

Abu Bakr menjawab, “Rasulullah, ketika aku teringat (kemungkinan buruk) apa yang terjadi dari belakang (seperti pengejar) maka aku berjalan di belakang anda. Kemudian ketika aku teringat (kemungkinan adanya) pengintai maka aku berjalan di depan anda.”

Rasulullah SAW bertanya dengan nada menguji, “Abu Bakr! Jika terjadi sesuatu adakah kamu rela itu terjadi padamu, tidak padaku?”

Abu Bakr menjawab, “Iya. Demi Substansi yang mengutus anda. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali terjadi padaku, bukan pada anda.”

Ketika tiba di bukit, Abu bakr berkata, “Rasulullah! Tetaplah berada di tempat anda sampai saya memastikan keselamatan gua untuk anda.” Abu Bakr pun masuk dan memastikan keamanan di dalamnya.

Saya tidak melihat cerita di atas sebagai penggambaran hubungan antara seorang shahabat dengan tokohnya Rasulullah SAW. Saya lebih suka melihat hal itu sebagai gambaran sikap seorang murid atau santri terhadap gurunya. Rasa cinta dan penghormatannya yang dalam memotivasi Abu Bakr RA sebagai murid dengan untuk berusaha menjaga keselamatan gurunya, Rasulullah SAW.

Jika ditarik ke bawah, kisah menyentuh di atas memberikan pelajaran bahwa seorang murid atau santri harus berusaha mencintai gurunya dengan tulus. Sebuah cinta yang berimplikasi jauh, hingga sampai pada perhormatan dan bahkan pengorbanan nyawa demi sang guru.

Jika pelajaran ini ditarik lagi ke bawah maka kesimpulan yang didapat adalah bahwa orang yang berilmu (baca: alim) sudah selayaknya mendapatkan tempat yang mulia, karena hubungan murid dengan guru adalah hubungan keilmuan.

Begitu mulia posisi seorang guru hingga mendorong seorang Khalifah Harun Ar Rasyid –pemimpin besar yang berhasil menjadikan Baghdad sebagai the center of knowledge, culture and commerce– menyikapi seorang guru dengan cara yang unik dan –bahkan mungkin– ekstrim menurut sebagian besar “manusia modern”abad ke-21.

Khalifah Harun Ar Rasyid pernah menyerahkan putranya untuk dididik dan belajar berbagai disiplin ilmu kepada kyai al Ashma’iy (123 – 216 H). Putranya ini tinggal bersama al Ashma’iy, layaknya seorang santri yang mondok di sebuah pesantren.

Suatu hari, saat menjenguk putranya, Harun Ar Rasyid sempat memergokinya sedang disuruh oleh al Ashma’iy untuk menuang air wudhu. Beliau melihat putranya menuangkan air ke kaki gurunya sementara sang guru menggosok-gosok kakinya

Sesaat setelah melihat hal itu, beliau menegur sang guru Al Ashma’iy, “Mengapa anda menyuruh anak saya menuangkan air ke kaki anda?”

“Aku mengirimnya kepada anda untuk belajar dan dididik oleh anda. Mengapa anda tidak menyuruhnya menuang air dengan salah satu tangannya, sementara itu tangannya yang lain menggosok-gosok kaki anda,”

Kisah ini disodorkan oleh az Zarnujiy (wafat 591 H) dalam buku Ta’lim al Muta’allim, sebuah buku akhlak keilmuan yang masyhur di dunia pesantren masa lalu. Sayangnya, buku ini sudah tidak menarik lagi untuk dikaji oleh beberapa pesantren di Indonesia.

Tapi itu buku lama. Kisah di atas juga kisah klasik. Sekarang?

Mata telanjang sudah cukup bisa melihat bagaimana guru tidak lagi dihargai. Boro-boro dicintai sebagaimana cinta Abu Bakr RA kepada Rasulullah SAW. Alih-alih dihormati sebagaimana perilaku yang diinginkan oleh Harun ar Rasyid pada anaknya terhadap al Ashma’iy. Yang ada malah sebaliknya, tidak sedikit guru –yang telah memberikan ilmu masa depan– dibenci dan bahkan dipukuli oleh muridnya.

Budaya telah bergeser. Perubahan peradaban adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa terelakkan dan tetap akan terus menuju “ke arah perubahan”yang tidak diinginkan oleh Harun Ar Rasyid, tanpa ada seorang pun yang bisa menghalanginya.

Yang lebih miris adalah saat “perubahan” itu juga masuk menggerayangi dunia pesantren yang dulu dikenal memiliki budaya hubungan antara santri dan kyai yang unik.

Di antara perubahan tersebut adalah anda menemukan alumni pesantren yang menjadi caleg menjelang pemilu secara terbuka menghina kyainya atau orang berilmu (baca: alim) lainnya hanya karena berbeda bendera politik. Tidak ada lagi rasa cinta. Tidak ada lagi penghormatan. Dan tidak ada lagi tata krama.

Cinta, penghormatan, tata krama ditambah dengan “takut kualat” adalah 4 (empat) kata yang tidak lagi meaningful bagi sebagian santri dan/atau alumni pesantren produk era modern. Empat kata itu –bagi mereka– hanya dapat ditemukan dalam komik sejarah pesantren masa lalu.

Khalifah pun menangis. Namun apa lacur, “perubahan menuju kebrengsekan” adalah fithrah yang tidak terbendung oleh apa dan siapapun.

Sebentar lagi, banyak event politik akan berlangsung, kita akan menyaksikan berbagai jenis sikap kebrengsekan santri atau alumninya terhadap kyainya. Jika diperlukan, sang guru pun diajaknya berkelahi!


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak bermaksud agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dia lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan (dan) Yang sangat kokoh. (Q.S. Adz-Daariyat, 56-58)