Pendidikan keagamaan bagi anak dan remaja merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter bangsa. Dalam kajian psikologi perkembangan, masa kanak-kanak dan remaja disebut sebagai periode pembentukan karakter, yaitu fase ketika orientasi moral, kebiasaan, dan cara seseorang memahami realitas mulai terbentuk secara stabil. Pada tahap inilah pendidikan agama memainkan peran sentral sebagai penanam nilai, pemberi arah, dan penuntun perilaku.
Di Indonesia, pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk kepribadian melalui tradisi, teladan, dan kehidupan sehari-hari. Pesantren bukan sekadar institusi, tetapi ekosistem pendidikan, yaitu lingkungan yang seluruh elemennya mendukung pembinaan moral, spiritual, dan sosial secara terintegrasi. Artikel ini menguraikan urgensi pendidikan keagamaan dan posisi strategis pesantren dalam mendukung perkembangan anak dan remaja, sekaligus membahas peran pemerintah dalam memperkuat kontribusi pesantren bagi bangsa.
1. Fondasi Keagamaan sebagai Kerangka Moral Anak dan Remaja
Nilai agama berfungsi sebagai moral compass, yakni kompas moral yang memandu seseorang membedakan yang benar dari yang salah serta mempertimbangkan konsekuensi etis sebelum bertindak. Dalam kehidupan sehari-hari, moral compass tercermin ketika anak atau remaja mampu berkata jujur, menghormati orang lain, dan menahan diri dari perilaku merugikan meski tidak sedang diawasi.
Pendidikan agama memberikan kerangka tersebut melalui ajaran akidah, akhlak, dan ibadah. Akidah membentuk keyakinan; akhlak membentuk sikap; ibadah membentuk kedisiplinan spiritual. Bagi remaja yang sering mengalami krisis identitas—yaitu kebingungan dalam menentukan jati diri dan nilai hidup—pendidikan agama menjadi jangkar yang menstabilkan emosi dan arah hidup mereka.
2. Pesantren sebagai Ekosistem Pendidikan Nilai
Pesantren memiliki keunikan sebagai lembaga yang menciptakan ekosistem pendidikan, yakni lingkungan di mana seluruh aspek kehidupan santri merupakan bagian dari proses belajar. Di sini, pembelajaran nilai tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam rutinitas harian seperti salat berjamaah, antri makan, piket kebersihan, belajar disiplin waktu, hingga interaksi sopan dengan sesama santri.
Model seperti ini disebut pendidikan berbasis pembiasaan. Artinya: nilai yang diajarkan segera dipraktikkan, diulang, dan diperkuat hingga menjadi kebiasaan. Secara pedagogis, pembiasaan lebih efektif dalam membentuk karakter karena melibatkan pengalaman langsung, bukan hanya transmisi teori. Inilah salah satu alasan mengapa lulusan pesantren cenderung memiliki disiplin, kelembutan sosial, dan etos kerja yang kuat.
3. Transmisi Keilmuan Islam dalam Tradisi Pesantren
Salah satu kontribusi fundamental pesantren adalah menjaga proses transmisi keilmuan, yaitu pewarisan ilmu agama dari generasi ke generasi. Transmisi ini dilakukan melalui pengajaran kitab kuning, fiqih, tafsir, akhlak, dan berbagai disiplin ilmu Islam klasik lainnya. Kekuatan pesantren terletak pada metode pembelajaran langsung dari guru melalui pembacaan, penjelasan, dan diskusi intensif.
Namun pesantren tidak berhenti pada tradisi. Banyak pesantren menggabungkan keilmuan klasik dengan wawasan kontemporer seperti pemahaman sosial modern, literasi digital, hingga kompetensi komunikasi publik. Integrasi ini memastikan bahwa santri tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual—relevan dengan persoalan umat dan tantangan zaman.
4. Tradisi Pesantren sebagai Pembentuk Karakter Sosial
Budaya pesantren adalah sumber pembentukan personal conduct—yakni perilaku pribadi yang merefleksikan integritas dan kedewasaan moral. Tradisi-tradisi yang ditanamkan meliputi, namun tidak terbatas:
- Gotong royong, yang melatih kerja sama dan kepedulian sosial.
- Disiplin waktu, yang membentuk kemampuan mengatur ritme kehidupan.
- Hidup sederhana, yang mengajarkan kecukupan dan menjauhkan dari sikap berlebihan.
- Adab kepada guru, yang menumbuhkan etika dan penghargaan terhadap ilmu.
Tradisi ini sangat relevan bagi remaja yang sedang menghadapi tekanan pergaulan, ekspos media sosial, dan gejolak emosional. Pesantren menyediakan ruang aman, teratur, dan stabil untuk membentuk jati diri yang sehat serta perilaku sosial yang matang.
5. Pesantren sebagai Benteng Moral dan Agen Transformasi Sosial
Dalam masyarakat Indonesia, pesantren diakui sebagai benteng moral, yaitu lembaga yang menjaga nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian. Lebih dari itu, pesantren berfungsi sebagai agen transformasi sosial. Banyak pesantren menggerakkan program pemberdayaan, seperti:
- pelatihan wirausaha,
- pendampingan masyarakat,
- layanan kesehatan,
- penguatan ekonomi lokal, dan
- program literasi untuk masyarakat sekitar.
Keikutsertaan santri dalam ekosistem ini membentuk mereka menjadi individu yang bukan hanya taat secara spiritual, tetapi juga produktif secara sosial—mampu memimpin, menenangkan, dan memberi manfaat dalam lingkungannya. Namun penting ditegaskan bahwa bentuk kontribusi tidak selalu harus berupa program-program sosial yang terstruktur seperti di atas. Pesantren tradisional (salafiyyah) yang sejak awal berfokus pada pengajaran kitab turats, penguatan adab, dan kedisiplinan ibadah tetap memegang peran transformasi sosial yang sangat mendasar. Transformasi itu terjadi melalui keteladanan kiai, pembiasaan akhlak sehari-hari, dan keluarnya santri menjadi figur moral di tengah masyarakat. Dalam banyak kasus, justru pesantren tradisional yang menjadi sumber ketenangan masyarakat desa, penjaga harmoni sosial, serta pengarah etika publik tanpa perlu program formal. Dengan demikian, baik pesantren modern dengan ragam layanan maupun pesantren tradisional dengan kekuatan keilmuannya, keduanya berada dalam satu mata rantai kontribusi yang sama: membentuk manusia yang berakhlak, bermanfaat, dan berperan positif bagi lingkungan.
6. Relevansi Pesantren di Era Digital
Era digital membawa tantangan berupa banjir informasi, perilaku konsumsi media yang tidak terkontrol, serta risiko misinformasi. Anak dan remaja sangat rentan karena kemampuan menyaring informasi mereka belum matang. Pesantren menawarkan struktur nilai, yaitu kerangka yang membantu santri menilai mana yang bermanfaat dan mana yang harus dihindari.
Dengan bimbingan guru dan penguatan spiritual, santri belajar mengelola informasi dengan bijak, menolak konten negatif, dan menggunakan teknologi secara produktif. Pendidikan digital berbasis nilai ini sangat penting agar generasi muda tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan moral dalam menggunakannya.
7. Peran Strategis Pesantren dalam Konteks Kebangsaan dan Tanggung Jawab Pemerintah
Dalam sejarah Indonesia, pesantren telah menjadi pusat pendidikan rakyat jauh sebelum sistem pendidikan formal berkembang. Pesantren membuka akses belajar bagi masyarakat desa, kaum miskin, dan kelompok yang tertinggal secara sosial. Inilah alasan mengapa pesantren layak dianggap sebagai pilar penting pencerdasan kehidupan bangsa.
Pemerintah sudah seharusnya memandang pesantren sebagai mitra strategis dan menyampaikan apresiasi konkret. Salah satunya karena pesantren tumbuh tanpa membebani negara. Pendanaannya sebagian besar berasal dari swadaya masyarakat: para kiai, santri, wali santri, dan dermawan. Pendanaan mandiri ini menunjukkan bahwa pesantren adalah institusi kemandirian sosial yang melatih masyarakat untuk bergotong royong mempertahankan pendidikan.
Dukungan pemerintah perlu diarahkan pada penguatan fungsi pesantren tanpa menghilangkan karakteristiknya. Pesantren tradisional, yang mengandalkan silsilah keilmuan dan metode klasik, perlu diberi ruang untuk berkembang tanpa harus dipaksa menyesuaikan diri dengan birokrasi pendidikan formal yang sering kali terlalu teknis dan administratif.
Diperlukan kebijakan afirmatif, yaitu kebijakan yang memberikan kesempatan khusus kepada kelompok tertentu berdasarkan pertimbangan kontribusi sosial dan karakteristik budaya. Dalam konteks pesantren, kebijakan afirmatif dapat berupa:
- memberi jalur khusus bagi alumni pesantren tradisional untuk melanjutkan pendidikan tinggi,
- tetap mempertahankan standar kualitas,
- namun tidak membebani mereka dengan persyaratan yang tidak relevan atau administrasi yang rumit.
Pemerintah perlu menyadari bahwa kompetensi ilmiah santri tidak hanya tercermin dalam ijazah, tetapi dalam kedalaman ilmu, kedewasaan spiritual, disiplin intelektual, dan pengalaman belajar yang intensif. Mengakui realitas ini berarti memberi ruang agar santri dapat berkontribusi dalam berbagai bidang strategis: pendidikan, sosial, ekonomi, dan kepemimpinan publik.
Hubungan ideal antara negara dan pesantren bersifat simbiotik—saling menguatkan. Pesantren membantu negara mencerdaskan rakyat, sementara negara memberi dukungan kebijakan agar pesantren terus tumbuh tanpa kehilangan identitas.
Penutup
Pendidikan keagamaan bagi anak dan remaja adalah kebutuhan fundamental dalam menjaga keberlanjutan karakter bangsa. Pesantren, melalui tradisi, ekosistem nilai, dan komitmennya terhadap pembinaan moral, menjadi lembaga yang mampu memenuhi kebutuhan ini secara berkelanjutan. Pesantren bukan hanya pusat belajar agama, tetapi pusat pembentukan manusia: yang berilmu, beradab, beretika, dan berdaya sosial.
Dengan dukungan kebijakan negara yang bijak dan proporsional, pesantren dapat terus berkontribusi sebagai pilar pendidikan dan peradaban. Selama pesantren tetap hidup, nilai-nilai luhur akan tetap menemukan penjaganya, dan masa depan bangsa akan tetap memiliki arah moral yang kokoh.















