Insya Allah: Antara Rencana Manusia dan Kedaulatan Tuhan

Insya Allah: Antara Rencana Manusia dan Kedaulatan Tuhan

Seberapa sering kita mengucapkan “Insya Allah” hanya sebagai basa-basi pergaulan? Di masa kini, kalimat yang begitu agung ini kerap tereduksi maknanya. Ia seringkali berubah menjadi tameng halus saat kita ragu menepati janji, atau sekadar cara sopan untuk mengatakan “mungkin” tanpa beban komitmen. Tahukah Anda bahwa ribuan tahun lalu, terlewatnya kalimat ini pernah memicu sebuah drama besar di kota Mekkah? Sebuah peristiwa yang membuat wahyu tertahan, menimbulkan kecemasan mendalam pada diri Nabi Muhammad saw., dan berhubungan erat dengan sebab turun surat al-Kahfi. Kisah di balik surat ini menampar kesadaran kita, bahwa “Insya Allah” bukanlah pelarian dari ketidakyakinan, basa-basi religius, atau keraguan atas suatu rencana, melainkan sebuah pengakuan paling fundamental tentang siapa penguasa hari esok yang sebenarnya.

Sebab Turun Surat al-Kahfi

Muhammad bin Ishaq―sebagaimana dikutip oleh Ibn al-Katsir―meriwayatkan sebab turunnya surat al-Kahfi ini dengan sebuah kisah yang cukup panjang. Ia berkata bahwa ia pernah mendengar cerita ini dari seorang syaikh asal Mesir yang datang ke daerah mereka puluhan tahun sebelumnya. Syaikh itu meriwayatkannya dari ‘Ikrimah ra., dari Ibnu ‘Abbas ra.

Kisah sebab turun surat yang termasuk dalam kelompok al-Makiyyah ini bermula ketika masyarakat Quraisy Mekkah merasa bingung menghadapi dakwah Nabi Muhammad saw. Mereka kemudian mengutus dua orang tokohnya, yaitu al-Nadhr bin al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, untuk pergi menemui para pendeta Yahudi di Madinah. Kepada mereka, mereka berpesan kepada kedua orang tersebut, “Tanyakan kepada para pendeta Yahudi tersebut tentang Muhammad. Jelaskan kepada mereka sifat-sifatnya serta ajaran yang ia sampaikan.” Mereka meyakini para pendeta Yahudi adalah penganut kitab suci masa lalu, dan tentunya mereka memiliki banyak informasi mengenai para nabi yang tidak dimiliki oleh orang-orang Arab Quraisy.

Kedua utusan (al-Nadhr dan ‘Uqbah) itu pun berangkat ke Madinah. Sesampainya di sana, mereka menemui para pendeta Yahudi dan menceritakan keberadaan sosok Muhammad yang mengaku-aku sebagai nabi, ucapan, serta dan ajarannya. Keduanya berkata,  “Kalian adalah penganut Taurat. Kami datang kepada kalian agar kalian menjelaskan kepada kami tentang orang yang ada di tengah-tengah kami ini.”

Para pendeta Yahudi kemudian berkata kepada keduanya, “Tanyakan kepadanya tiga hal yang akan kami sarankan berikut. Jika dia mampu menjawabnya, maka dia benar-benar seorang utusan Tuhan. Namun jika ia tidak mampu menjawabnya, maka ia hanyalah seorang yang mengada-ada (), dan silakan kalian putuskan sendiri bagaimana memperlakukannya.

Tanyakan kepadanya tentang:

  1. sekelompok pemuda di masa lampau yang memiliki kisah sangat menakjubkan—apa sebenarnya yang terjadi pada mereka;
  2. seorang pengembara besar (Dzu al-Qarnayn) yang telah mencapai ujung timur dan ujung barat bumi—bagaimana kisahnya; dan
  3. ruh—apa hakikatnya.

Jika ia mampu menjawab semua itu, maka ikutilah dia, karena dia adalah (benar) seorang nabi. Jika tidak, maka ia hanyalah orang yang berbicara tanpa dasar.”

An-Nadhr dan ‘Uqbah pun kembali ke Mekah dan menemui masyarakat Quraisy. Mereka berkata, “Wahai kaum Quraisy, kami datang membawa jawaban penentu antara kalian dan Muhammad. Para pendeta Yahudi telah menyarankan kami untuk menanyakan beberapa hal kepadanya.” Lalu keduanya menyampaikan pertanyaan-pertanyaan itu kepada kaum Quraisy.

Setelah itu, mereka mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Muhammad, ceritakanlah kepada kami … !” (lalu mereka mengajukan tiga pertanyaan yang disarankan oleh para pendeta Yahudi Madinah)

Rasulullah saw. menjawab dengan penuh keyakinan, “Aku akan memberitahukan jawabannya kepada kalian besok.” Saat mengatakan janjinya ini, beliau saw. tidak mengucapkan “insya Allah”.

Mereka pun pergi meninggalkan beliau saw. Hari demi hari berlalu. Rasulullah saw. menunggu wahyu turun, tetapi selama lima belas malam, Allah Swt. tidak menurunkan wahyu apa pun kepada beliau, dan Jibril as. juga tidak datang. Kaum Quraisy mulai ribut dan saling berbicara. Mereka berkata, “Muhammad menjanjikan kepada kita besok, tetapi sekarang sudah lima belas hari berlalu, dan ia tidak memberi tahu apa pun tentang pertanyaan yang kita ajukan.”

Terhentinya wahyu itu membuat Rasulullah saw. sangat sedih dan berat hatinya. Beliau terpukul oleh keadaan ini, terlebih oleh ucapan-ucapan kaum Quraisy yang terus mengejek dan meragukannya.

Akhirnya, setelah masa penantian yang berat itu, Jibril as. datang kepada Rasulullah saw. membawa surat Ashhab al-Kahf (surat al-Kahf) dari Allah Swt. Di dalam surat itu terdapat beberapa hal sekaligus:

  1. penjelasan tentang kisah para pemuda penghuni gua;
  2. kisah tentang pengembara besar (Dzu al-Qarnayn), serta teguran Allah kepada Rasul-Nya atas kesedihan yang beliau rasakan karena sikap orang-orang itu;
  3. Selain itu, Allah juga menurunkan firmanNya tentang pertanyaan mengenai ruh: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan (tentangnya) kecuali sedikit.” (QS al-Isra’: 85)

Pelajaran Tentang Keterbatasan dalam “Insya Allah”

Lepas dari pertanyaan mengapa informasi tentang ruh justru disebutkan dalam al-Isra` yang notabenenya turun sebelum surat al-Kahfi (bukan di al-Kahfi sendiri), dari seluruh kisah yang diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq di atas terdapat satu pengajaran ilahi—baik bagi Rasulullah saw. maupun bagi umat setelahnya, yaitu tentang keterbatasan manusia dalam mengetahui hal di masa depan, serta tentang keharusan menyandarkan segala rencana kepada kehendak Allah swt.

Latar belakang turunnya surat al-Kahfi, sebagaimana yang diinformasikan oleh Ibnu Ishaq, membuka satu momen pendidikan ilahiyah yang sangat mendasar. Nabi saw., ketika ditanya tentang hal-hal besar—Ashhab al-Kahf, Dzu al-Qarnayn, dan Ruh—tidak menjawab dengan spekulasi, dan tidak pula mengarang cerita. Beliau menjanjikan jawaban “besok”, karena memang jawaban itu hanya bisa datang melalui wahyu. Secara niat, posisi Nabi saw. sepenuhnya benar.

Namun di titik ini Allah memperlihatkan satu pelajaran besar bahwa bahkan janji seorang Nabi tentang wahyu pun tidak boleh dinisbahkan kepada waktu tanpa penyandaran eksplisit kepada kehendak Allah. Ketika Nabi saw. berkata, “Aku akan memberitahukan jawabannya besok,” Allah tidak langsung menurunkan wahyu keesokan harinya. Bukan karena Nabi Muhammad saw. bersalah dengan sabdanya tersebut secara moral, tetapi karena Allah hendak menjadikan peristiwa ini sebagai pengalaman konkret tentang siapa yang berdaulat atas “besok”. Inilah yang dimaksud pengajaran ilahi.

Penundaan wahyu selama lima belas hari itu—sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Ishaq—memiliki efek yang sangat kuat. Kaum Quraisy mengejek. Ahlul Kitab menunggu. Nabi saw. sendiri merasakan kesedihan, tekanan, dan penantian yang berat. Dalam seluruh masa itu, satu hal ditegaskan secara nyata: wahyu tidak tunduk kepada janji manusia, bahkan janji seorang Rasul, utusan Allah sendiri. Ia turun hanya ketika Allah saw. menghendaki.

Barulah setelah pengalaman eksistensial itu, Allah Swt. menurunkan surat al-Kahfi. Dan di dalam surat itulah Allah Swt. tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, tetapi juga mengabadikan pelajaran dari peristiwa itu dalam bentuk kaidah umum:

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) ‌إِلا ‌أَنْ ‌يَشَاءَ ‌اللَّهُ … (24)

“Dan jangan sekali-kali kamu (Muhammad) mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku pasti akan melakukan itu besok’, kecuali (dengan mengatakan): jika Allah menghendaki. ….” (QS. al-Kahfi, 23-24)

Ayat ini, jika dibaca dalam konteks peristiwa tersebut, menjadi sangat jelas maknanya. Ia bukan teguran moral karena Nabi ‘lupa adab’, melainkan formalisasi ilahiyyah dari satu pengalaman nyata. Yang dimaksud dengan formalisasi ilahiyyah di sini adalah sesuatu yang awalnya berupa pengalaman, kebiasaan, atau peristiwa konkret, lalu dijadikan aturan, kaidah, atau rumusan resmi. Isinya bahwa manusia—bahkan Nabi—tidak memiliki kendali atas masa depan, waktu, dan turunnya pengetahuan gaib. Dengan kata lain, Allah tidak langsung mengajarkan prinsip ini dalam bentuk aturan, tetapi lebih dahulu memperlihatkannya dalam realitas, lalu menjadikannya norma bahasa dan kesadaran bagi umat muslim.

Di sini hubungan antara “janji tanpa insya Allah” dan tertundanya wahyu harus dipahami secara tepat. Hubungannya bukan hubungan sebab-akibat moral, seolah-olah Nabi “dihukum” karena keliru. Hubungannya adalah hubungan pedagogis dan ontologis. Allah mendidik Nabi saw. dan umatnya dengan cara menunjukkan secara nyata bahwa klaim “besok” tidak pernah berada dalam genggaman manusia. Setelah kesadaran itu terbangun melalui pengalaman, barulah Allah Swt. menetapkannya sebagai kaidah yang harus diwarisi umat Islam dalam bahasa dan sikap hidup mereka.

Dengan demikian, ayat wa la taqulanna… tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari sebuah peristiwa konkret yang memperlihatkan keterbatasan manusia secara nyata, bukan teoritis. Inilah yang menjelaskan mengapa ayat tersebut terasa begitu kuat, bahkan hingga mengatur cara muslim berbicara tentang masa depan. Ia bukan sekadar etika kesopanan, melainkan penjagaan agar bahasa tidak melampaui fakta ontologisnya.

Syaikh Muhammad Mutawalli al-Sya‘rawi (1911-1998) menjelaskan,

فَإِيَّاكَ أَنْ تَقُولَ: إِنِّي فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَتْبَعَهَا بِقَوْلِكَ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ. وَلَا يَمْنَعُنَا هٰذَا أَنْ نُخَطِّطَ لِمُسْتَقْبَلِنَا. فَمَا دُمْنَا قَدِ اسْتَعَنَّا بِالْمَشِيئَةِ، فَلَنَا أَنْ نُخَطِّطَ لِحَيَاتِنَا. وَنَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ لِأَنَّ عَنَاصِرَ الْفِعْلِ: فَاعِلٌ، وَمَفْعُولٌ يَقَعُ عَلَيْهِ الْفِعْلُ، وَزَمَانٌ، وَمَكَانٌ، وَسَبَبٌ، وَقُدْرَةٌ تُبْرِزُ الْفِعْلَ. وَلَا أَحَدَ مِنَّا يَمْلِكُ وَاحِدًا مِنْ هٰذِهِ الْعَنَاصِرِ، فَأَنْتَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ لَا تَمْلِكُ وُجُودَ ذَاتِكَ غَدًا، وَلَا تَمْلِكُ وُجُودَ الْمَفْعُولِ غَدًا، وَلَا تَمْلِكُ الزَّمَانَ، وَلَا تَمْلِكُ الْمَكَانَ، وَلَا تَمْلِكُ السَّبَبَ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الْجَائِزِ أَنْ يَتَغَيَّرَ، وَلَا تَمْلِكُ الْقُدْرَةَ عَلَى الْعَمَلِ، فَقَدْ تُسْلَبُ مِنْكَ الْقُدْرَةُ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ الْفِعْلَ. إِذًا، فَأَنْتَ لَا تَمْلِكُ مِنْ عَنَاصِرِ الْفِعْلِ شَيْئًا. فَلَا تُجَازِفْ وَتَقُلْ: أَنَا أَفْعَلُ ذٰلِكَ غَدًا. بَلْ أَسْنِدْهَا إِلَى مَنْ يَمْلِكُ كُلَّ الْعَنَاصِرِ، وَقُلْ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَبِذٰلِكَ لَا تَكُونُ كَاذِبًا وَمُجَازِفًا

“Janganlah sekali-kali kamu berkata, “Sesungguhnya saya akan melakukan hal itu besok,” kecuali setelah itu, kamu mengiringinya dengan ucapan “insya Allah”‘ (Jika Allah menghendaki).
Hal ini tidak bermaksud menghalangi kita untuk merencanakan masa depan. Selama kita telah memohon bantuan melalui kehendakNya (al-masyi’ah), silakan saja merencanakan kehidupan kita.

Kita mengucapkan “insya Allah” karena variabel terjadinya suatu perbuatan/pekerjaan terdiri dari (1) pelaku, (2) objek yang dikenai perbuatan, (3) waktu, (4) tempat, (5) sebab, serta (6) kemampuan. Nah, tidak ada satupun dari kita yang memiliki (menguasai secara mutlak) satu pun dari unsur-unsur ini.

Kamu tidak memiliki jaminan atas keberadaan dirimu sendiri (sebagai pelaku) besok, tidak pula memiliki jaminan atas keberadaan objek itu besok. Kamu tidak menguasai waktu, tidak menguasai tempat, dan tidak pula menguasai sebab; karena sangat mungkin sebab itu berubah. Kamu juga tidak memiliki kendali mutlak atas kemampuan untuk bekerja, karena terbuka kemungkinan kemampuan itu tercerabut darimu sebelum kamu sempat melakukannya.

Jadi, kamu tidak memiliki apa pun dari variabel- variabel tersebut. Maka janganlah berjudi dengan nasib dan berkata, “Aku akan melakukan itu besok.” Sebaliknya, sandarkanlah hal itu kepada Allah yang memiliki kuasa kontrol seluruh variable tersebut, dan ucapkanlah, “Insya Allah.” Dengan begitu, kamu tidak (berpotensi) menjadi seorang pendusta dan orang yang berspekulasi tanpa dasar.”

Dua Dimensi yang Berkelindan

Penjelasan syaikh al-Sya’rawi—ulama tafsir besar abad 20 dari Al-Azhar Mesir—tentang ayat 23 dan 24 al-Kahfi di atas membawa kita melampaui sekadar etika berbicara. Kita diajak masuk ke dalam pemahaman mendalam tentang posisi manusia di semesta. Ada dua dimensi besar yang saling berkelindan di sini:

  1. Dimensi Ontologis

    Secara ontologis (hakikat keberadaan), ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang kontingen—makhluk yang keberadaannya bergantung pada faktor-faktor di luar dirinya.

    Beliau mengemukakan realisasi sebuah tindakan/pekerjaan bergantung pada enam variabel: (1) subjek (pelaku), (2) objek (yang dikaitkan dengan pekerjaan), (3) ruang, (4) waktu, (5) kausalitas (sebab), dan (6) daya (kemampuan).

    Secara logika, jika kita kehilangan satu saja dari variabel ini, maka rencana “besok” akan runtuh. Kita mungkin masih hidup besok (subjek), tapi pekerjaan kita mungkin hilang (objek). Kita punya kemampuan, tapi situasinya berubah (sebab). Dengan menyadari bahwa kita tidak “memiliki” variabel-variabel ini, kita menyadari hakikat kemanusiaan kita yang fana. Insya Allah di sini adalah sebuah pengakuan jujur atas realitas bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya Zat yang memegang seluruh kendali variabel eksistensi.

  2. Dimensi Moral

    Secara moral, beliau menjelaskan tentang integritas lisan. Ketika seseorang berkata “Aku pasti melakukan itu besok” atau “Aku akan melakukan itu besok” tanpa menyandarkannya pada kehendak Tuhan, ia sebenarnya sedang melakukan sebuah spekulasi moral yang berbahaya. Mengapa? Karena ia menjanjikan sesuatu yang berada di luar jangkauan kekuasaannya.

    Jika rencana itu gagal karena faktor yang tidak ia kuasai (misalnya sakit atau bencana), maka secara teknis ia telah terjatuh pada “kedustaan” atas klaim kepastiannya atau janjinya sendiri. Maka, “insya Allah” secara moral berfungsi sebagai pelindung kejujuran. Ia adalah bentuk kerendahan hati (ibadah) untuk tidak mendahului takdir. Dengan ber-insya Allah, seseorang tetap memiliki komitmen untuk berencana, namun tetap membumi dalam kesadaran bahwa ia bukan penguasa mutlak atas hari esok.

Pesan Utama

Kedua ayat tidak sedang melarang muslim untuk membuat rencana kerja di masa depan, namun klaim atas hasil adalah sebuah kesombongan. “Insya Allah” adalah titik temu yang indah di mana manusia bekerja keras merencanakan masa depan, namun tetap bersujud mengakui keterbatasannya sebagai seorang hamba.

Sampai sini kita bisa melihat satu pola yang sangat khas dalam al-Qur`an: Allah sering kali mendidik melalui peristiwa terlebih dahulu, lalu mengabadikan maknanya dalam ayat. Dalam kasus surat al-Kahfi, pengalaman tertundanya wahyu adalah “pelajaran hidup”, sedangkan ayat illa an yasha’ Allah adalah “rumusan normatif”-nya. Dari sinilah umat Islam belajar bahwa “insya Allah” bukan basa-basi sok religius, atau ungkapan yang berkonotasi ketidak-pastian tentang sebuah rencana, tetapi warisan kesadaran kenabian (prophetic ontological awareness) tentang siapa yang benar-benar berdaulat atas keberhasilan suatu keinginan/rencana di masa depan.


لَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاء إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Kalau saja Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya maka mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia inginkan. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap (kondisi) hamba-hambaNya, (dan) Maha Melihat. (Q.S. Asy-Suraa, 27)