Mengapa Islam Menganjurkan Beristighfar untuk Mukminin yang Telah Mendahului Kita? Sebuah Renungan dari Surah al-Hasyr Ayat 10

Mengapa Islam Menganjurkan Beristighfar untuk Mukminin yang Telah Mendahului Kita?  Sebuah Renungan dari Surah al-Hasyr Ayat 10

Di akhir shalat atau di sela-sela dzikir, ada satu kalimat doa yang kerap meluncur dari lisan kita. Doa itu tidak hanya meminta kebaikan untuk diri sendiri atau keluarga yang masih hidup, tetapi juga menjangkau orang-orang yang sudah berabad-abad wafat—para sahabat Nabi, ulama terdahulu, hingga jutaan mukminin yang bahkan namanya tak pernah kita dengar.

Kebiasaan ini bukan sekadar tradisi lisan, melainkan lahir langsung dari tuntunan al-Qur`an dalam surah al-Hasyr ayat 10:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'”

Jika kita cermati susunan kalimatnya, ayat ini tidak hanya mengajarkan lafaz doa. Setiap penggalan katanya disusun begitu urut, menuntun kita memahami posisi diri dalam rentang sejarah dan sesama mukmin.

  1. Menyadari Posisi Kita sebagai Penyambung Estafet Iman
  2. Saat melafalkan doa ini, kita sedang menegaskan identitas diri. Kita sadar bahwa iman yang kita miliki hari ini tidak tumbuh dari ruang hampa, melainkan sambungan dari mata rantai generasi sebelumnya.Imam Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini telah merangkum seluruh kaum mukminin: Muhajirin, Anshar, dan generasi yang datang sesudah mereka. Artinya, mendoakan kebaikan bagi pendahulu adalah penanda bahwa seseorang masih berada di dalam barisan tersebut. Sebaliknya, enggan mendoakan mereka—apalagi sampai mencela dan menyebut mereka dengan keburukan—sama saja dengan mengeluarkan diri dari kriteria mukminin yang digambarkan oleh ayat ini.

  3. Ikatan “Saudara” yang Menembus Batas Waktu
  4. Perhatikan bagaimana al-Qur`an memilih kata ikhwanina (saudara-saudara kami). Iman melahirkan ikatan persaudaraan yang tidak ikut terkubur bersama jasad. Seorang muslim yang hidup di abad ke-21 tetap berstatus saudara bagi seorang sahabat Nabi yang hidup 1.400 tahun silam. Ikatan akidah ini melampaui pertalian darah maupun suku. Dan sebagaimana layaknya saudara, ada hak yang tetap hidup meski terpisah jarak dan dimensi waktu: menginginkan kebaikan serta pengampunan untuk mereka, persis seperti kita menginginkannya untuk diri sendiri.

  5. Tahu Diri atas Jasa Generasi Pendahulu
  6. Penggalan “sabaquna bil-iman” (yang telah mendahului kami dalam iman) adalah pengingat agar kita tahu diri. Mereka bukan sekadar lahir lebih awal di lembar kalender, tetapi lebih dulu merasakan pahit-getirnya mempertahankan akidah. Para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf telah mengorbankan harta, kenyamanan, hingga nyawa agar Islam bisa sampai ke tangan kita dengan utuh. Mendoakan mereka adalah wujud terima kasih dan cara kita membayar utang budi spiritual—sebuah pengakuan jujur bahwa kita bisa mengenal Islam hari ini karena berdiri di atas pundak perjuangan mereka.

  7. Timbal Balik Kebaikan Antargenerasi
  8. Dari kesadaran itu, tercipta hubungan timbal balik yang hangat. Generasi terdahulu mewariskan ilmu, teladan, dan amal perjuangan yang manfaatnya terus kita nikmati hingga detik ini. Sebagai balasannya, kita yang masih diberi umur mengirimkan hadiah berupa istighfar yang pahalanya terus mengalir kepada mereka di alam barzakh. Ketaatan dalam Islam memang tidak pernah dirancang individualis; mukmin yang satu selalu menjadi penopang bagi mukmin lainnya.

  9. Obat Pembersih Hati dari Ghill (Dengki dan Dendam)
  10. Menariknya, setelah memohon ampunan untuk diri sendiri dan para pendahulu, doa ini langsung beralih ke urusan batin: “…dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” Mendoakan kebaikan bagi orang lain adalah terapi paling ampuh untuk mengikis penyakit hati. Sulit bagi seseorang untuk menyimpan rasa iri, curiga, atau kebencian kepada orang yang namanya rutin ia langitkan dalam doa. Ketika ghill bersih dari dada, yang tersisa adalah rasa hormat, loyalitas, dan ketulusan kepada sesama mukmin—baik yang telah tiada maupun yang masih hidup berdampingan dengan kita.

  11. Belajar Menyayangi dari Sifat al-Ra`uf dan al-Rahim
  12. Doa ini ditutup dengan menyebut dua nama Allah yang agung: al-Ra`uf (Maha Berbelas kasih kepada seluruh hamba-Nya) dan al-Rahim (Maha Penyayang). Penutup ini seolah mengingatkan bahwa saat kita memohonkan ampun bagi saudara seiman, kita sedang belajar mempraktikkan sifat kasih sayang tersebut. Allah al-Ra`uf dan al-Rahim tentu mencintai hamba-Nya yang lapang dadanya, yang tidak pelit membagi doa, dan yang menaruh belas kasih bahkan kepada saudara seiman mereka yang sudah berpulang.

Merawat Rantai yang Tak Terputus

Dalam rangkaian surah al-Hasyr ayat 8 hingga 10, Allah ta’ala mengelompokkan umat Islam ke dalam tiga generasi besar yang berhak atas karunia-Nya: kaum Muhajirin yang rela meninggalkan kampung halaman, kaum Anshar yang menyambut dan menolong dengan tangan terbuka, serta orang-orang yang datang sesudah mereka hingga akhir zaman—yaitu kita hari ini.

Ketiganya dipersatukan sebagai ahli waris perjuangan dan ahli waris iman. Maka, setiap kali kita mengangkat tangan, memohon ampun untuk diri sendiri, lalu menyertakan generasi terdahulu di dalamnya, kita sebenarnya sedang merawat benang persaudaraan lintas zaman itu agar tetap hangat. Kita sedang membersihkan hati, sekaligus memastikan diri kita tetap berada di jalur umat yang saling mencintai karena-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari golongan yang disebut dalam ayat ini: mereka yang menghormati perjuangan pendahulunya, yang tulus mendoakan saudara seimannya, dan yang kelak menghadap-Nya dengan hati yang bersih dari kedengkian terhadap sesama mukmin.


أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia adalah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, kecuali Dia adalah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang atau lebih banyak dari itu melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana saja mereka berada. (Q.S. Al-Mujadilah, 7)