Sabda yang Meluruskan, Bukan Menolak

Sabda yang Meluruskan, Bukan Menolak

Kita hidup di zaman yang mengukur keberhasilan dengan penggaris yang salah. Rumah besar, mobil baru, tabungan tebal, usaha yang terus berkembang—semua itu dijadikan bukti bahwa seseorang “sudah jadi orang”. Sebaliknya, siapa pun yang hartanya pas-pasan gampang dicap belum berhasil, seolah nilai hidupnya bisa dihitung dari saldo rekening. Masalahnya, penggaris ini punya cacat bawaan: ia tidak pernah bisa mengukur “ketenangan”. Ada orang yang hartanya melimpah tapi hatinya terus-menerus lapar. Ada pula yang hidupnya sederhana tapi tidur nyenyak setiap malam, karena jiwanya sudah selesai berkompetisi dengan orang lain.

Persoalan ini sebenarnya sudah dijawab tuntas empat belas abad lalu. Dari Abu Hurayrah ra., Nabi Saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta benda, melainkan pada kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari [no. 6446] dan Muslim [no. 1051])

Ini bukan hadis yang menolak harta. Nabi Saw. tidak sedang menyuruh umatnya miskin secara sukarela atau curiga pada orang kaya. Beliau sedang membongkar sebuah kekeliruan cara berpikir—bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan soal seberapa banyak yang menempel di luar diri seseorang, melainkan seberapa tenang yang ada di dalam dirinya.

Kata al-‘aradh dalam hadis ini merujuk pada kesenangan dan benda duniawi yang bisa dimanfaatkan manusia—sesuatu yang sifatnya menempel dari luar. Bandingkan dengan ghina al-nafs, kekayaan jiwa, yang tumbuh dari dalam. Satu bersifat eksternal dan bisa dihitung, satu lagi bersifat internal dan tidak ada di neraca keuangan mana pun. Dan di sinilah letak ironinya: seseorang bisa memiliki harta segunung, tapi kalau hatinya masih dikuasai tamak, ia sesungguhnya belum kaya sama sekali. Ia akan terus menoleh pada apa yang belum dimiliki, menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur hidupnya sendiri—dan celakanya, semakin banyak yang ia punya, semakin besar pula daftar keinginan yang belum terpenuhi.

Ketika Keinginan Berubah Jadi Penjara

Ingin hidup lebih baik itu manusiawi, dan Islam tidak pernah melarangnya. Bekerja keras, membangun usaha, mencari rezeki halal sebanyak-banyaknya—semua itu sah, bahkan dianjurkan. Yang jadi soal adalah ketika keinginan itu kehilangan rem, ketika batas antara “butuh” dan “ingin” mengabur, sehingga harta yang seharusnya jadi alat hidup malah berubah jadi tujuan hidup itu sendiri. Pada titik ini terjadi paradoks yang aneh tapi nyata: seseorang tampak makin kaya di luar, padahal jiwanya makin miskin di dalam.

Di sinilah konsep qana’ah berperan—bukan sebagai rem darurat, tapi sebagai kompas. Qana’ah adalah sikap menerima dan merasa cukup atas rezeki yang telah Allah Subhanah berikan, tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha. Ini penting ditegaskan karena qana’ah sering disalahpahami sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan. Padahal orang yang qana’ah tetap bisa bekerja keras, mengejar target, dan menginginkan hidup yang lebih baik. Bedanya cuma satu: harta ada di tangannya, bukan di dalam hatinya.

Ada garis tipis yang perlu ditarik tegas di sini—antara ingin memiliki lebih banyak dan tidak mampu merasa cukup. Yang pertama adalah bahan bakar untuk berkembang. Yang kedua adalah jerat yang membuat setiap pencapaian terasa hambar. Menetapkan target baru setelah target lama tercapai itu wajar, bahkan sehat—selama rasa syukur tetap punya tempat di sepanjang perjalanan. Masalah baru muncul ketika setiap pencapaian otomatis terasa tidak berarti, karena mata dan pikiran cuma sanggup melihat apa yang belum digenggam.

Media Sosial dan Kemiskinan yang Diproduksi Sendiri

Kalau hadis ini terasa relevan empat belas abad kemudian, media sosial adalah alasan utamanya. Kita sekarang hidup dengan jendela tanpa tirai ke rumah, mobil, liburan, dan gaya hidup orang lain—dan jendela itu terbuka dua puluh empat jam sehari. Standar hidup pun bergerak bukan berdasarkan kebutuhan nyata, tapi berdasarkan unggahan terakhir yang kita lihat. Tetangga ganti mobil, kendaraan sendiri tiba-tiba terasa usang. Rekan kerja naik jabatan, pencapaian sendiri tiba-tiba terasa kecil. Orang lain pamer rumah baru, rumah sendiri yang kemarin terasa cukup, hari ini mendadak terasa seperti kegagalan.

Fenomena ini membongkar sesuatu yang jarang kita akui: banyak dari kita tidak sedang miskin harta, tapi miskin batas. Pendapatan boleh naik, tabungan boleh bertambah, tapi kalau standar keinginan berlari lebih cepat dari kemampuan bersyukur, rasa “kurang” itu tidak akan pernah berhenti mengejar. Kemiskinan semacam ini bukan soal apa yang tidak dimiliki seseorang, melainkan soal ke mana pikirannya terus-menerus tertuju.

Bukan Soal Anti-Harta, Tapi Soal Siapa yang Mengendalikan Siapa

Qanaah juga bukan cuma soal ketenangan pribadi—ia punya dimensi moral yang sering luput dari perhatian. Orang yang merasa cukup tidak mudah menjual kejujurannya demi keuntungan tambahan, tidak gampang menyerobot hak orang lain karena didorong tamak. Sebaliknya, orang yang dikuasai rasa tidak pernah cukup rentan menghalalkan segala cara—karena baginya, hasil akhir selalu lebih penting daripada cara mencapainya. Di titik ini, qana’ah berhenti menjadi urusan psikologis semata dan berubah menjadi soal karakter dan integritas.

Tapi ini juga bukan ajakan untuk memusuhi kemajuan material. Islam tidak anti-kaya. Harta yang diperoleh secara halal justru bisa menjadi kendaraan kebaikan—menafkahi keluarga, bersedekah, membangun lembaga pendidikan, membantu yang membutuhkan. Yang perlu dikendalikan bukan jumlah hartanya, melainkan seberapa erat hati terikat padanya. Harta di tangan orang yang mengendalikan dirinya sendiri adalah berkah. Harta di tangan orang yang justru dikendalikan olehnya adalah bencana yang menunggu waktu.

Kaya yang Sesungguhnya

Hadis ini pada akhirnya menawarkan koreksi yang sederhana tapi mengganggu kenyamanan: kekayaan sejati tidak selesai dihitung lewat rekening, tapi lewat kemampuan jiwa untuk berkata cukup. Harta bisa terus bertambah tanpa pernah membuat pemiliknya merasa kaya. Sebaliknya, hidup yang sederhana bisa disertai ketenangan yang tidak tergantikan oleh apa pun.

Manusia memang perlu bekerja dan berusaha—itu bagian dari fitrah, dan Islam mendukungnya penuh. Tapi ada satu keterampilan yang jarang diajarkan di sekolah mana pun: kapan harus berhenti mengejar dan mulai bersyukur. Sebab jika kebahagiaan terus ditunda sampai “nanti kalau sudah punya lebih banyak”, ia tidak akan pernah datang—ia akan terus mundur selangkah setiap kali kita maju selangkah. Harta punya batas yang bisa dihitung. Keinginan manusia tidak. Karena itu, tantangan sesungguhnya bukan bagaimana memperbanyak harta, melainkan bagaimana memastikan bertambahnya harta tidak diam-diam membuat jiwa semakin miskin. Orang yang benar-benar kaya, dalam perspektif hadis ini, adalah orang yang memiliki harta tanpa diperbudak olehnya—dan mampu menikmati karunia Allah ta’ala. tanpa terus-menerus merasa kurang.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak mengnginkan rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak bermaksud agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dia lah Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan (dan) Yang sangat kokoh. (Q.S. Adz-Daariyat, 56-58)