Urgensi Pendidikan Keagamaan bagi Anak dan Remaja dalam Bingkai Eksistensi Pesantren

Urgensi Pendidikan Keagamaan bagi Anak dan Remaja dalam Bingkai Eksistensi Pesantren

Di Indonesia, pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk kepribadian melalui tradisi, teladan, dan kehidupan sehari-hari. Pesantren bukan sekadar institusi, tetapi ekosistem pendidikan, yaitu lingkungan yang seluruh elemennya mendukung pembinaan moral, spiritual, dan sosial secara terintegrasi. Artikel ini menguraikan urgensi pendidikan keagamaan dan posisi strategis pesantren dalam mendukung perkembangan anak dan remaja, sekaligus membahas peran pemerintah dalam memperkuat kontribusi pesantren bagi bangsa.

Surah Al-Ikhlas: Mengurai Makna “Sepertiga Al-Qur`an”

Surah Al-Ikhlas: Mengurai Makna “Sepertiga Al-Qur`an”

Surat Qul Huwallahu Ahad (al-Ikhlash) adalah salah satu surat—yang masuk dalam kategori terpendek dalam al-Qur`an—memiliki kedudukan yang sangat agung. Dalam sejumlah hadis sahih, Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa membaca surat ini setara dengan membaca sepertiga al-Qur`an dalam hal pahala. Namun, untuk menutup potensi salah memahami hadis ini sehingga beranggapan bahwa membaca al-Ikhlash tiga kali bisa menggantikan membaca seluruh al-Qur`an, artikel ini akan menjelaskan hadis-hadis tersebut, maknanya, dan perbedaan penting antara pahala dan kecukupan yang diperlukan (ijza`).

Insya Allah: Antara Rencana Manusia dan Kedaulatan Tuhan

Insya Allah: Antara Rencana Manusia dan Kedaulatan Tuhan

Seberapa sering kita mengucapkan “Insya Allah” hanya sebagai basa-basi pergaulan? Di masa kini, kalimat yang begitu agung ini kerap tereduksi maknanya. Ia seringkali berubah menjadi tameng halus saat kita ragu menepati janji, atau sekadar cara sopan untuk mengatakan “mungkin” tanpa beban komitmen. Tahukah Anda bahwa ribuan tahun lalu, terlewatnya kalimat ini pernah memicu sebuah drama besar di kota Mekkah? Sebuah peristiwa yang membuat wahyu tertahan, menimbulkan kecemasan mendalam pada diri Nabi Muhammad saw., dan menjadi berhubungan erat dengan sebab turun surat al-Kahfi. Kisah di balik surat ini menampar kesadaran kita, bahwa “Insya Allah” bukanlah pelarian dari ketidakyakinan, basa-basi religius, atau keraguan atas suatu rencana, melainkan sebuah pengakuan paling fundamental tentang siapa penguasa hari esok yang sebenarnya.

Membedah Tiga Karakter Nabi Ibrahim dalam QS. Hud: 75

Membedah Tiga Karakter Nabi Ibrahim dalam QS. Hud: 75

Tiga karakter Khalilullah Ibrahim as. yang adalah paket lengkap bagi siapa saja yang ingin membangun kepribadian yang utuh. Halim menjaga kita agar tidak hancur oleh emosi, awwah menjaga kita agar tidak kering dari empati, dan munib menjaga kita agar tidak tersesat dari tujuan hidup.

Ibnu Salul Akhirnya Mati

Ibnu Salul Akhirnya Mati

Perang Tabuk (Rajab tahun 9 Hijriyyah) adalah ekspedisi militer terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. sebelum wafatnya beliau. Secara singkat, alur waktunya adalah: Tahun 9 H: Dikenal sebagai ‘Am al-Wufud (Tahun Delegasi), karena fokus Nabi saw. beralih dari ekspedisi … Selengkapnya …

Memahami Makna Sedekah Jariyah

Memahami Makna Sedekah Jariyah

Dalam tradisi keilmuan Islam, istilah sedekah jariyah kerap disempitkan maknanya hanya pada praktik wakaf. Hal ini berakar dari dominasi pandangan mayoritas ulama yang menafsirkan sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir pascawafat sebagai merujuk khusus pada wakaf. Namun, pendekatan ini menyisakan … Selengkapnya …

Fasilah di Tengah Kiamat

Fasilah di Tengah Kiamat

Hadis tentang menanam fasilah meskipun kiamat telah tiba bukan sekadar ajakan ekologis, melainkan seruan etis yang menolak tunduk pada logika ekonomi global dan kemunafikan sistemik. Di tengah kerusakan lingkungan yang dipicu oleh kapitalisme dan di saat dunia berpura-pura peduli sambil terus mendukung penjajahan melalui senjata, teknologi, dan diplomasi palsu, fasilah menjadi simbol keberanian moral: tindakan kecil yang tetap dilakukan meski hasilnya tak terlihat, suara yang tetap disuarakan meski dibungkam, dan harapan yang tetap ditanam meski dunia memilih untuk membiarkan kehancuran terjadi.


لَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاء إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Kalau saja Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya maka mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia inginkan. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap (kondisi) hamba-hambaNya, (dan) Maha Melihat. (Q.S. Asy-Suraa, 27)