Kausalitas dan Tawakal: Menyelaraskan Kehendak Allah

Kausalitas dan Tawakal: Menyelaraskan Kehendak Allah

Salah satu aturan/hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupan ini (sunnatullah) adalah hukum sebab dan akibat (kausalitas). Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi mengikuti aturan yang ajeg dan didasari oleh hikmah yang mendalam. Hukum ini tidak hanya berlaku dalam tatanan alam, tetapi juga dalam hukum syariat dan kehidupan manusia.

Menggapai Kemuliaan (Karamah) Melalui Pengetahuan

Menggapai Kemuliaan (Karamah) Melalui Pengetahuan

Ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Kemuliaan ilmu terletak pada fungsinya sebagai sarana untuk mencapai kebajikan dan ketakwaan. Ilmu tidak hanya mengarah pada pengetahuan semata, tetapi juga menjadi alat untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan diridhai oleh Allah S.w.t. Sebagai alat untuk mencapai kebaikan, ilmu seharusnya menjadikan seseorang lebih dekat kepada “kebajikan yang sejati” dan ketakwaan yang membawa kebahagiaan abadi di akhirat.

Hukuman Dosa yang Dipercepat di Dunia: Indikator Kebaikan Seseorang

Hukuman Dosa yang Dipercepat di Dunia: Indikator Kebaikan Seseorang

Hukuman atas dosa bisa terjadi di dunia dan akhirat. Hukuman atas dosa yang “dibayar” di dunia bisa datang dalam berbagai bentuk, seperti kehilangan harta, sakit, atau musibah yang menimpa keluarga dalam skala kecil, maupun besar. Meski dirasa amat berat, teguran atau hukuman ini sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah S.w.t. yang besar kepada hambaNya yang dihukum, karena teguran dalam hukuman di dunia merupakan sarana penyucian dosanya, sehingga ketika hamba tersebut bertemu dengan Allah S.w.t. di akhirat, ia telah terbebas dari dosa-dosa yang harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah cara Allah S.w.t. mendidik hambaNya melalui teguran hukuman atas dosa-dosa mereka, termasuk untuk kesalahan kecil sekalipun. Allah S.w.t. ingin mendidik hamba-Nya agar setelah itu menjadi lebih sadar, lebih berhati-hati, dan tidak lagi lalai dalam menjalani kewajibanyanya, dan tidak lagi melakukan apa yang dilarangNya.

Ilmu: Kehidupan Hati dan Cahaya Penglihatan

Ilmu: Kehidupan Hati dan Cahaya Penglihatan

Ilmu adalah kehidupan bagi hati, cahaya bagi penglihatan, dan kekuatan bagi tubuh. Dengan ilmu, seorang hamba dapat mencapai kedudukan orang-orang saleh dan derajat yang tinggi. Merenungkan ilmu sebanding dengan pahala puasa, dan mempelajarinya setara dengan pahala qiyamullail (shalat malam). Melalui ilmu, Allah S.w.t ditaati, disembah, dan diagungkan. Dengan ilmu, seseorang dapat menjaga diri dari hal-hal yang dilarang. Ilmu juga menjadi sarana untuk menyambung tali silaturahmi, serta membedakan antara yang halal dan yang haram. Ilmu adalah pemimpin, sedangkan amal adalah pengikutnya. Orang-orang yang beruntung dianugerahi ilmu, sedangkan orang-orang yang malang terhalang darinya

Dampak Dosa Terhadap Hati

Dampak Dosa Terhadap Hati

Dalam Islam, hati memiliki peran sentral dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. Hati yang sehat menjadi cerminan iman yang kuat, sementara hati yang ternodai dosa menjadi cermin iman yang rendah atau bahkan tidak beriman. Salah satu ungkapan yang sering dibahas oleh … Selengkapnya …

Kepedulian Terhadap Janda dan Orang Tidak Mampu

Kepedulian Terhadap Janda dan Orang Tidak Mampu

Rasulullah SAW, sebagaimana yang dicatat oleh al-imam Muslim dalam buku catatan hadisnya bersabda, السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ Orang yang berusaha untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang (mujahid) di jalan Allah Dalam Islam, membantu … Selengkapnya …

Ath-Thayyar, Ja’far bin Abu Thalib

Ath-Thayyar, Ja’far bin Abu Thalib

Beliau adalah abang kandung (langsung) ‘Aliy bin Abu Thalib (semoga Allah ta’ala meridhai keduanya) dengan perbedaan usia 10 tahun. Rasulullah –kasih sayang dan salamNya untuknya– memberinya gelar kunyah dengan Abul Masakin (ayah orang-orang miskin) karena kegemarannya bergaul dan simpatinya kepada … Selengkapnya …

Redaksi Shalawat

Redaksi Shalawat

Shalawat kepada Nabi −shalawat dan salam untuknya− adalah ungkapan doa. Sebagai sebuah ungkapan permintaan seorang hamba kepada Tuhannya, redaksi shalawat dapat terdiri dari 2 (dua) kategori: Redaksi yang spesifik yang diambil langsung dari petunjuk nash Al Qur`an maupun keterangan eksplisit … Selengkapnya …


وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ . الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ . وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ . أَلَا يَظُنُّ أُولَـٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ . لِيَوْمٍ عَظِيمٍ . يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ .

"Celaka besar untuk orang-orang yang curang, (yaitu) mereka yang jika meminta ditakar dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan jika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah mereka meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, di suatu hari yang besar, (yaitu) hari (saat) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam (untuk mempertanggungjawabkan kecurangannya)? (Q.S. Surat Al-Muthaffifin, 1-6)